Jangan Sakit

New Picture (5)“Hanya satu yang harus dipertahankan sekarang : tetap sehat dan kerja keras”.

Begitu kata sahabatku suatu hari tentang masa-masa kehidupannya menjelang menapouse. Ternyata apa yang ia katakan suatu hari itu benar dan kini kualami. Memasuki masa-masa menapouse, aku mulai merasa kondisi kesehatanku melemah. Aku mulai sering flu, sering demam dan yang terakhir, persendian kaki kananku hampir tiap hanya nyeri, mendenyut. Ya ampun…aku kena asam urat.

Tengah malam ini nyeri sendi di kakiku kambuh, suakiiitt…sekali! Mana badanku panas dingin dan mulai bersin-bersin. Ah, aku menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan-lahan dan bangkit dari tempat tidur. Kucoba menerapkan meditasi yang baru saja kupelajari. Aku mulai mengatur nafasku dengan tenang…duduk dengan posisi teratai.

Ups! Suamiku terbangun. Ia gesek-gesekkan kakinya di atas pahaku. “Tolong pijitin, pegal semua badanku…” katanya mesra dengaan desahan lembut. Ya Tuhan…padahal ia tau kalau aku tidak cukup sehat. Tapi begitulah. Kubatalkan meditasiku untuk memijiti kaki suamiku. Biasanya ia akan tertidur lagi setelah 10 menit aku pijet. Dan betul saja.

Begitu suamiku terlelap, aku melanjutkan meditasiku. Mulai kurasakan aliran darahku bergerak di sekujur tubuh dan bagian persendianku yang nyeri terasa makin nyeri…lalu menghangat. Aduh, memang di situ letak sakitku. Biasanya, kalau sudah melakukan meditasi sekitar 45 menit, besok pagi sakitku akan berkurang. Alhamdulillah, setelah meditasi aku mulai dapat memejamkan mata.

Pagi ini aku harus bangun lebih awal. Aku ingin mempraktekkan senam yoga yang juga baru kupelajari beberapa minggu ini. “Alamak….kau ini. Meditasi, senam, kemaruk kali”. Tiba-tiba kudengar suara suamiku mengejek. Ia masih berbaring di tempat tidur. “Tenanglah, kalau aku sehat, papa kan bisa kupijetin tiap malam,” jawabku tulus.

“Ini nih, pinggangku sakit. Udah, tolong innjek-injek dulu-lah….” Ia mulai merengek manja. Ah, aku menarik nafas panjang. Dia memang harus kulayani lebih dulu. Setelah itu baru aman untuk meneruskan yogaku.***

Tapi kali ini upayaku dengan meditasi, yoga dan terapi jus yang kulakukan secara rutin tidak berpengaruh bagi kesehatanku. Aku terkena tipus! Aku tidak berdaya…tergeletak lemah di tempat tidur.

“Lo, mana itu meditasi, yoga, jus dan sebagainya? Nyatanya sakit juga…” Suamiku menyentuh keningku yang panas. “Aku pengen dipijetin…” pintaku berusaha manja. “Aduh, masih pegang rokok, bentar ya. Udahlah, sarapan dulu biar kuat. Masih bisa kan masak mie ?” sambungnya. “Atau, bikin teh manis la, biar perutnya hangat,” sambungnya lagi.

“Yang…aku sakit sungguhan nih…nggak kuat…” keluhku benar-benar nggak kuat lagi. Aku berharap suamiku melakaukan sesuatu untukku. “Sabarlah, nanti juga sembuh. Makanya sana bikin teh manis panas atau bikin susu. Kamu ini kurang gizi aja…..” dan aku tak mendengar lagi suaranya. Ketika tersadar skudapatkan tubuhku terbaring lemah di salah satu kamar rumah dengan dinding berwarna putih.  Ini bukan kamarku. Tipusku ini menyebabkan aku diopname di rumah sakit. Akan bungsuku ditelpon suamiku, dia yang membawaku ke sini.***

Sekolah Keduaku

Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, tapi aku memiliki orang tua dan kakak – kakak yang sayang padaku sampai terlalu banyak embel – embel yang diberikan kepadaku dari masyrakat yang mengatakan aku anak yang manja.

Abahku begitu panggilanku pada ayah, hanya seorang penarik becak dayung yang terkadang pulang membawa uang pas – pasan untuk makan kami sehari – hari dan mamakku cuma buruh di sawah milik orang lain, tapi mereka memiliki semangat yang kuat untuk menyekolahkan kami, hingga kami anak-anaknya minimal tamat SMA. Kalau kami ingin ke jenjang yang lebih tinggi, mereka tetap menyanggupi, walapun kami juga harus membantu.

Semua kakak dan abangku sekolah dengan fasilitas seadanya, naik sepeda, walaupun jarak antara sekolah dengan rumah sangat jauh. Tapi ketika giliranku sekolah, aku mendapat fasilitas yang lumayan lengkap karena terbantu dengan kakak dan abangku yang sudah bekerja. Ini membuat aku terlupa dengan kesederhanaan hidup yang ditanamkan orang tuaku sejak dulu.

Hari demi hari di sekolah kulewati begitu saja tanpa ada kemajuan untukku dan keluargaku, hingga pada saat akan melanjutkan ke perguruan tinggi,, aku tidak bisa mengusahakannya sendiri. Padahal, sudah menjadi kebiasaan kami, untuk urusan melanjutkan sekolah setelah SMA, harus diurus sendiri. Begitu dulu semua kakak dan abangku. Aku memang jadi tidak mandiri dibandingkan mereka. Aku tidak dapat melakukan apa-apa.

Sampai pada suatu hari, aku diperkenalkan oleh kakakku pada sebuah organisasi perempuan dimana ia juga menjadi salah satu pengurusnya. Aku diajak berkunjung ke kantornya dan mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi itu. Awalnya aku merasa aneh melihat mereka, membuat pertemuan dengan peserta dari kalangan kaum perempuan desa biasa. Tapi topik diskusinya macam-macam dan membahas kondisi kehidupan masyarakat miskin, terutama yang dialami oleh kaum perempuan. Mereka bicara soal tanggungjawab pemerintah atas kemiskinan dan penderitaan rakyat, juga bicara tentang bagaimana berjuang melawan penindasan. Lama-lama aku tertarik juga dan mulai diundang mengikuti kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan, karena aku terus aktif diantara kegiatan mereka itu. Pendidikan yang pertama kuikuti adalah pendidikan fasilitator yang diselenggarakan oleh organisasi bernama HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia).

Agak aneh kurasakan, pada saat pertama kali mengikuti pendidikan, peserta lainnya yang menjadi temanku adalah ibu-ibu desa biasa, bahkan tidak tamat sekolah dasar dan aku tamat SMA. Tapi  mereka sangat ramah dan baik kepadaku seperti kami sudak kenal cukup lama. Ini terasa berbeda dengan ibu- ibu lain di desaku. Begitulah, setiap kali HAPSARI mengadakan pendidikan, aku mulai menjadi peserta tetap yang mereka undang.

Ternyata pendidikan-pendidikan yang sering kuikuti ini membawa perubahan besar dalam hidupku. Aku merasakan tumbuhnya kesadaran baru dan merasa menjalani kehidupan yang baru. Aku mulai belajar membagi waktuku menyelesaikan pekerjaan di rumah dan mengikuti kegiatan di organisasi. Juga menyadarkanku pada satu kenyataan kehidupan kaum perempuan yang tertindas, dinomor duakan, disepelekan, tidak didengarkan suaranya, sehingga perempuan menjadi orang-orang yang terpinggirkan dalam kehidupan bermasyarakat. Di dalam keluarga, perempuan terjebak pada rutinitas menjadi “ibu rumah tangga”, tanpa mempunyai ruang lain untuk mengembangkan diri.

Banyak perempuan – perempuan yang memiliki pikiran dan perasaan yang ingin diungkapkan tetapi sebelum pendapatnya keluar, sudah ada suara lantang yang melarang perempuan untuk bicara. Hal ini sering dilakukan oleh orang tua laki – laki dan abangnya, dan yang lebih ironisnya ibu dan kakak perempuan mereka juga mendukung hal ini terjadi, hanya satu penyebab mengapa ini terjadi ? Budaya yang mengatakah bahwa perempuan harus tunduk kepada laki-laki. Hanya laki-lakilah yang punya kekuasaan karena mereka adalah kepala keluarga, untuk mengambil keputusan apa saja mengenai kehidupan. Bahkan kaum laki-laki diberi kesempatan untuk terbiasa menjadi pemimpin apa saja, tapi tidak dengan perempuan.

Awalnya hanya budaya yang mengatakan demikian. Tapi setelah itu, agama juga dikutip atau dijadikan dalih untuk membenarkan tindakan peminggiran terhadap perempuan. Banyak yang salah menafsirkan ayat-ayat yang terkandung dalam agama dan ini semakin memperkuat posisi laki – laki dan semakin meminggirkan perempuan. Banyak hal aneh sebenarnya yang dibentuk oleh pemahaman budaya atau cara berfikir kita, misalnya saja “anak yang lahir dari rahim perempuan, mengapa harus mengikuti garis keturunan dari ayah”

Ini hanya salah satu dari sekian banyak masalah yang di hadapi perempuan yang menyebabkan hilangnya kepemimpinan perempuan. Karena meskipun perempuan memiliki kemampuan untuk memimpin tetapi dengan adanya budaya yang demikian perempuan menjadi hanya bekerja di wilayah rumah tangga saja. Di rumah, perempuan dipaksa “diam” tidak boleh banyak menuntut, tidak boleh membantah apa yang ditetapkan sang kepala keluarga, dalam hal ini laki-laki.

Ini merupakan salah pembelajaran berharga yang kudapatpan dari organisasi. Tetapi sebenarnya masih banyak lagi pelajaran yang kudapatkan dan menjadikanku lebih jeli melihat masalah yang terjadi di lingkungan khususnya yang terjadi dan dialami oleh kaum perempuan. Aku sungguh beruntung, dengan usiaku yang masih relatif muda tapi aku sudah tau tentang pentingnya berorganisasi. Organisasi menjadi sekolah keduaku, setelah aku menamatkan SMA.***

(Pengalaman dari Kes, Tanjung Morawa)

Karena Perempuan

New Picture (14)

Aku dan Suamiku

Saat ini usiaku 42  tahun, sudah hampir 27  tahun aku menikah. Dimasa pernikahan kami,  delapan tahun aku tidak mempunyai anak, sampai akhirnya aku hamil dan saat ini aku memiliki 5 (lima) orang anak (2 orang laki-laki dan 3 orang perempuan). Pernikahanku dengan suamiku adalah pernikahan cinta, maksudnya, aku tidak dijodohkan. Setelah menikah, aku diboyongnya ke desa tempat tinggalku sekarang, jauh dari desa orangtuaku dimana sebelumnya aku tinggal.

Sejak awal menikah hingga sekarang, kehidupan ekonomi keluargaku pas-pasan. Suamiku tidak mempunyai pekerjaan tetap, hanya mocok-mocok saja.Itu bukan masalah bagiku, yang penting aku ingin hidup berbahagia dengannya.

Waktu berlalu, hari berganti, akhirnya akupun hamil dan mempunyai anak. Awalnya dia senang dengan kelahiran anak kami, karena sudah delapan tahun kami menikah, dan baru ini kami bisa memiliki seorang putra. Melihat kondisi ekonomi kami yang sangat pas-pasan, akupun harus bekerja. Setiap hari, mulai pagi hingga siang aku menyelesaikan pekerjaan rumah, siang hari aku kerja jadi Buruh Harian Lepas (BHL) di perkebunan kelapa sawit yang ada di sebelah desaku, sore harinya aku ngupah mencuci pakaian di tempat tetangga-tetanggaku yang ingin mencucikan bajunya, malam harinya aku mengupah menggosok (setrika) baju.

Dan seperti biasa, jika dikehendaki, akupun melayani kebutuhan suami untuk berhubungan badan denganku, kapan saja dia mau. Semua kujalani dengan ikhlas. Inilah pekerjaan rutin yang setiap hari aku lakukan. Jangankan untuk mengurus tubuhku, mencari waktu untuk istirahat saja aku susah. Tetapi ini ku jalani dengan pasrah, ikhlas, yang penting suamiku marah-marah kepadaku.

Kehidupan rumah tangga yang berbahagia ternyata hanya merupakan mimpi saja bagiku. Karena apa yang kualami sejak pernikahanku berbeda dengan apa yang kuharapkan. Dua bulan pertama pernikahanku berjalan baik-baik saja, suamiku cukup sayang padaku. Tapi setelah itu…perlahan-lahan semua berubah. Mulai timbul pertengkaran-pertengkaran kecil antara kami, tangannyapun tak segan-segan mulai melayang ke pipiku setiap kali kami bertengkar. Ini terus berlangsung berulang-ulang setiap kali aku membuatnya marah. Tetapi, berulang kali pula dia selalu minta maaf menyesali perbuatannya itu.

Aku tidak tahu setan apa yang merasuk dalam pikiran suamiku. Bukan hanya kebiasaan mabuk dan berjudi yang dilakukannya setiap hari, tetapi juga pemarahnya bukan main dan gampang sekali memukuli aku. Selalu saja ada yang salah dari diriku dan selalu saja suamiku marah-marah tidak jelas. Pekerjaan yang kulakukan selalu saja ada yang salah yang mengakibatkan tangannya melayang di sekujur tubuhku. Peristiwa seperti ini hampir terjadi setiap hari. Tapi, kalau nanti aku sudah babak-belur, maka dia minta maaf menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Sampai anak pertamaku berusia dua tahun dan aku melahirkan lagi anakku kedua,  belum ada perubahan yang kutemukan dari suamiku, malah semuanya bertambah buruk, semua yang menjadi keinginannya harus dipenuhi. Kalau tidak dia akan memukulku bahkan tidak segan-segan untuk memukul anakku. Tetanggakupun tidak heran lagi, kalau setiap aku belanja dengan muka memar akibat pukulan suamiku. Tapi aku yakin, dia pasti berubah, karena keesokan hari setelah dia memukulku dia selalu minta maaf padaku.

Lahir lagi anakku yang ketiga, juga belum membuat perubahan dalam kehidupan rumah tanggaku, suamiku masih belum juga sadar akan tanggungjawabnya. Tetap saja dia belum bekerja, malah dia sering pulang malam dan mabuk-mabukkan, marah-marah tidak jelas. Ini pertama kalinya dia menjambak rambutku, kepalaku dipukulkan kedinding berkali-kali, menamparku berkali-kali. Aku bagai sampah di depannya, sempat terlintas di dalam pikiranku, akan pergi saja dari rumahku, tapi…bagaimana dengan anak-anakku? Siapa yang akan menolong mereka kalau ayahnya memukul mereka? Akhirnya, niatkupun aku urungkan, apalagi tadi malam dia minta maaf padaku dan menyesali perbuatannya itu, dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi, karena katanya dia khilaf ketika memukulku. Aku percaya, dan aku yakin kalau dia tidak akan mengulangi perbuatannya itu.

Begitulah, keadaanku semakin tidak menentu, kondisi ekonomiku semakin memburuk, karena anak-anakku semakin banyak dan semakin besar, sedangkan suamiku tidak bekerja, kalaupun dia memiliki uang, cuma untuk kebutuhan dia saja, beli rokok dan minuman. Maka aku harus bekerja lebih keras membanting tulang untuk menghidupi keluargaku, makan anak-anakku dan biaya sekolah anakku. Kondisi badanku semakin tak terurus, mataku cekung, badanku semakin kurus. Tapi bagiku…asalkan anak-anakku bahagia dan suamiku tidak memukulku aku sudah senang. Tapi sayang, suamiku semakin gila-gilaan, dia sering marah-marah memukul aku dan anak-anakku. Kali ini siksaan yang aku rasakan lebih parah lagi. Selain menampar, memukulkan kepalaku kedinding, dia juga mulai menendangku. Hal ini dilakukan berkali-kali, belum genggaman tangannya yang berulang kali menghujam wajahku.

Oh….Tuhan, kenapa nasibku seperti ini, kenapa ini harus kualami. Setiap aku tidak bisa membuatnya puas, aku selalu dipukul, dihajar, ditendangnya sampai aku susah untuk berjalan. Suamiku gemar melihat VCD porno, setiap kali selesai melihat VCD aku selalu diminta untuk melayani nafsunya sama seperti yang telah di tontonnya, aku dijadikan boneka permainannya, dengan apapun yang ia mau, seperti apa yang ada di VCD, kalau sampai ada yang menurutnya tidak sesuai dengan keinginannya, dia akan memukulku lagi. Aku tidak tahu kenapa hal ini harus aku alami.

Lalu lahir anak kelimaku, dengan semakin banyaknya anak-anakku, juga tidak membuatnya sadar, dia sering memukul anak-anakku, kalau belum sampai mengeluarkan darah dia akan tetap memukul tak henti. Tidak ada yang bisa menolong kami, karena setiap kali dia memukul semua pintu dan jendela selalu dikuncinya. Cacian dan makian, bagai bunga yang selalu menghujaniku setiap hari, ditambah lagi layangan tangannya di wajahku yang selalu dilakukannya.

Pernah suatu malam, dia marah sejadi-jadinya, kepalaku dimasukkan kedalam air hingga aku tidak mampu bernapas, anak-anak coba untuk membela tapi tetap saja tak kuasa menahannya. Malah dia mengancam akan membunuhku kalau sampai anakku mencoba menolongku, karena saat itu tangan kirinya mencekikku dan ditangan kanannya telah memegang sebuah pisau yang tajam, hampir saja mata pisau yang tajam itu menusuk ulu hatiku, tapi anakku coba untuk menolong dan mengakibatkan kaki anakku tertusuk pisau itu.

Kali ini aku tidak tahan lagi. Aku coba melaporkan perbuatannya itu pada Kepala Dusun, tapi sayang aku tidak menemukan solusi yang tepat untuk masalahku, karena menurut beliau, kalau aku memperbesar masalah ini dan mengadukan peristiwa ini, akan memerlukan biaya yang cukup besar, melihat kondisi ekonomi yang sudah tidak mampu lagi, akupun mengurungkan niatku untuk melaporkan perbuatan suamiku.Aku tidak tau sama sekali, kepada siapa sebaiknya aku mengadukan nasibku ini.

Hari demi hari aku lalui, penyelesaian masalahku tak kunjung juga aku dapatkan, belum lagi kering luka-luka memar ditubuhku, sudah ditambah dan ditambah lagi dengan siksaan baru. Walau begitu, aku tetap bekerja menjadi buruh demi anak-anakku. Karena melihat kondisi orangtuanya, anakku memutuskan untuk tidak sekolah lagi, dia memilih bekerja. Saat ini tinggal dua orang anakku yang sekolah, dan masih duduk di kelas enam dan kelas empat SD. Suatu hari aku dilarang suamiku bekerja di perkebunan kelapa sawit. Dia ingin aku berjualan minuman Tuak, sejenis minuman memabukkan ari air nira. Kalau aku menolak, aku akan dipukulinya lagi.

Aku sudah bosan dan tidak kuat lagi dipukuli terus. Akhirnya jualan Tuakpun kulakukan, mulai siang hari sampai jam dua malam baru tutup. Ku kira dengan menuruti keinginannya untuk berjualan Tuak semuanya akan berjalan baik dan normal. Sayangnya, keghidupanku semakin menyedihkan, aku semakin tersiksa, karena hampir setiap hari warung tuakku dipenuhi oleh pembeli (semuanya laki-lak)i yang pada mabuk-mabukan setelah minum tuak tersebut. Aku harus bertahan dengan suasana yang memuakkan itu, aku sering di gangguin, dicolek, digoda dan diejek.

Sampai pada suatu malam aku dipeluk oleh salah seorang pembeli yang sudah mabuk, langsung kutampar laki-laki itu. Aku tidak tahu kalau suamiku melihat kejadian itu, seperti orang yang kesetanan aku malah disalahkan oleh suamiku. Aku dikunci di dalam kamar, tangan kirinya memegang rambutku dengan kasar, tangan kanannya memukulku bertubi-tubi, kepalaku dipukulkan kedinding berkali-kali, aku ditendang, dicekik, dicaci-maki bagai binatang dibuatnya, peristiwa ini berlangsung selama satu setengah jam. Setelah dia merasa puas, dia tidur dan menyuruhku naik di atas tempat tidur. Aku tidak bisa tidur…rasanya kepalaku terasa berat, tubuhku terasa lemas, aku hanya bisa menangis. Tak lama kemudian suamiku tertidur.

Tiba-tiba terdengar suara bisikan di telingaku “Mak, cepet lari…pergi…jangan sampai ayah bangun, nanti mamak dipukul lagi, ayo..cepat”, suara itu ternyata anakku. Dengan sisa tenaga yang ada aku merangkak perlahan keluar dari rumahku untuk mencari perlindungan di tempat tetanggaku, jatuh bangun aku berjalan, karena rasanya kakiku sudah terlalu lemas untuk digerakkan, sampai akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi. Semua melayang dan semua terasa gelap, darah segar keluar dari mulutku, dadaku terasa sakit, leherku terasa pedih.

Pagi hari aku tercengang, sudah berada di dalam suatu ruangan, ternyata di rumah tetanggaku, dia mengusulkan untuk melaporkan kasusku ini ke kantor polisi, kepala desa sudah membuat surat keterangan bahwa aku korban penyiksaan suamiku. Aku dipertemukan dengan seorang pengurus sebuah organisasi perempuan, Serikat Perempuan Independen (SPI) namanya. Didampingi pengurus SPI, aku melaporkan kasusku, tekatku sudah bulat, aku memutuskan untuk berpisah dengannya, anak-anakkupun mendukung.

Berkat bantuan dari organisasi perempuan itu, kini status suamiku menjadi buronan polisi, katanya dia kena tuduhan sebagai pelaku Kekerasan Terhadap Istri dalam Rumah Tangga atau pelaku KDRT. Rupanya bisa ditangkap polisi juga dia.***

Pengalaman Ibu P

Ibunda

Ibundaku meninggal dunia bulan Oktober tahun 1986, ketika itu aku kelas 3 SMP. Namanya Misnah. Tidak ada satu lembarpun photo peninggalan Bunda untuk kenang-kenangan. Tapi aku sangat ingat dengan jelas wajah Bunda, ingat sekali! Sayangnya aku tak mampu membuat lukisannya. Banyak kenangan yang tersimpan bersama wajah Bunda yang masih dapat kukenang itu.

Aku ingat sekali hangatnya pelukan Bunda, ini kurasakan ketika aku sakit. Dan aku ingat bahwa sewaktu kecil, aku sering kali sakit perut, seriiing…..kali. Biasanya, kalau aku sakit perut, maka Bunda menggendongku pake kain, lalu dibawa ke mendiang Nek Sadikem, untuk dipijet. Biasanya memang baik. Kadang-kadang malah sewaktu didalam gendongan Bunda saja sakitnya udah baik, tapi biar digendong berlama-lama, ya aku nggak bilang kalau perutku sudah nggak sakit. Rumah Nek Sadikem nggak terlalu jauh dari rumahku, sekitar 1 kilo meter saja. Sekarang baru aku sadar, betapa merepotkan Bunda aku waktu itu.

Kenangan lain yang tersimpan dalam benakku adalah tentang hari-hari Ibunda yang seluruhnya habis untuk mengurus sembilan orang anaknya dan mengurus keluarga, termasuk Ayahandaku, seorang Ustadz yang cukup di hormati, tetapi bekerjanya merantau meninggalkan rumah.

Ibundaku meninggal tanpa terlebih dulu tergeletak sakit. Akulah anak satu-satunya yang mengetahui persis saat-saat Ibunda menghadap ke pangkuan Tuhan. Tapi sesungguhnya Ibunda punya penyakit yang mengharuskan beliau secara rutin berobat ke seorang Bidan di Desa kami, mendiang Ibu Alispan. Biasanya Bunda berobat pada hari Senin, karena hanya pada hari itulah Puskesdes buka. Meski tidak selalu punya uang, Bunda tetap dilayani, karena Bu Alispan orangnya sungguh baik hati. Kata Bu Alispan, Bunda lemah jantung. Katanya lagi, itu disebabkan pengaruh KB (alat kontrasepsi) yang dipakai Bunda, suntik, yang sebetulnya tidak cocok untuk Bunda. Tapi waktu itu tidak ada pilihan lain barangkali dan masalah penangangan untuk gagal KB tidak semudah sekarang. Ya, seingatku, Bunda mengandung anak ke-sembilan atau adik adik bungsuku, pada saat Bunda sedang ber-KB.

Sepanjang hidupnya, Bunda tak pernah keluar rumah, kecuali : kalau lebaran, sesekali kami rombongan sekeluarga menjenguk nenek. Kalau hari Senin pergi ke pekan (Pasar Desa) untuk belanja dan sekalian berobat di Puskesdes. Atau, pergi undangan di sekitar Desa, kalau ada pesta kawinan atau sunatan. Cuma untuk itulah Bunda keluar rumah. Selebihnya hanya di rumah saja.

Keadaan ekonomi keluarga kami pas-pasan. Aku ingat sekali, hafal sekali bahwa baju yang dipakai Bunda sehari-hari tidak lebih dari lima buah dan satu diantaranya terbilang bagus, kebaya panjang warna abu-abu. Itulah baju kebanggaan Bunda yang selalu dipakainya kalau lebaran, atau pergi ke pesta kawinan atau sunatan di desa. Bawahannya Bunda pakai sarung.

Kalau Ayahanda pulang dari rantau (biasanya sebulan sekali), aku sering mengetahui Bunda membuatkan teh, mengaduknya dengan sendok, padahal tidak ada gulanya. Nanti, kalau teh itu sudah diminum Ayahanda, barulah Ayahanda taau bahwa di rumah tidak ada gula, barulah beliau memberi uang pada Bunda dan salah satu dari anaknya yang di rumah pergi ke kedai (warung). Bunda tak pernah mau minta uang dari Ayahanda, ia menunggu diberi.

Yang kuingat lagi, kalau Bunda dan Ayahanda bertengkar, Bunda selalu hanya menangis. Ayahanda selalu menutup pembicaraan dengan kalimat : “kalau kamu minta dipulangkan ke rumah orangtuamu, aku akan antarkan,” dan Bunda tak dapat berbuat apa-apa. Biasanya, kalau bertengkar mereka menggunakan “bahasa ibu”, tapi aku tau maksudnya. Sedangkan dengan kami anak-anaknya, mereka berbahasa indonesia.

Seandainya ada orang yang berhak menagih semua yang kumiliki saat ini ; maka orang itu adalah Ibundaku. Kebahagiaan yang kumiliki sekarang, adalah karena jasa besar Ibunda.

Ya Allah…lapangkanlah kuburan Bundaku, terimalah ia dengan nyaman dan bahagia di sisiMu. Ampunilah semua dosa-dosa dan kesalahannya. Amin.***