Memahami Pemikiran Alexandra Kolontai (habis)

BAGIAN IV

RELEVANSI DENGAN GERAKAN SOSIAL DEWASA INI

Sejarah penindasan dan ketidakadilan terhadap perempuan telah berlangsung sangat lama. Jika mengutip pandangan pemikir Frederick Engels, maka menurutnya penindasan perempuan lahir ketika ada sistem kepemilikan dalam masyarakat. Selain itu, sistem ini menghasilkan strata/ kasta/ kelas di masyarakat, juga menghasilkan golongan kaya dan miskin. Sejak itu kemiskinan di sebagian masyarakat terus terjadi.

Dalam konteks Indonesia, wacana pemikir masalah perempuan menjadi mandeg karena opresi yang dilancarkan Orde Baru, dibawah rezim Soeharto, telah  menghancurkan gerakan perempuan untuk membangun kesadaran kitis seperti yang diusung gerwani. Kemudian mengkotakkan perempuan dalam alam domestik sebagai ibu, sebagai penjaga rumah tangga, sebagai mitra suami. Hampir 30 tahun Orde Baru berkuasa, organisasi-organisasi perempuan yang ada luput terlibat dalam isu gerakan sosial, begitu juga sebaliknya gerakan sosial alpa bergandengan dengan gerakan perempuan.

Gerakan reformasi di tahun 1998 setidaknya membuka peluang terkonsolidasinya gerakan perempuan, salah satunya ditandai dengan lahirnya UU Pe nghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UUPKDRT), namun pengungkapan penindasan terhadap perempuan masihlah banyak yang belum terungkap, terutama karena pisau analisis yang tersedia tidak banyak dikembangkan  di area-area publik, seperti perempuan dan akses terhadap pekerjaan yang layak,  ataupun perempuan dalam hubungannya dengan aspek-aspek produksi dan politik. Dalam konteks ini para pemikir Sosial Demokrat telah menyumbangkan analisa menyeluruh mengenai peta penindasan perempuan, dengan berbasiskan pemikiran Alexandra Kollontai. Sekarang adalah bagaimana kita menterjemahkan dalam bentuk praktis dan menyerap kondisi lokal perempuan Indonesia.

Kondisi perempuan yang termarjinalkan di berbagai belahan di dunia, termasuk Indonesia, membuat kepentingan perempuan luput dalam proses pengambilan keputusan (decision making process). Menempatkan perempuan dalam kondisi terpuruk, tereksploitasi dan termiskinkan. Gerakan sosial yang dibangun untuk mengkritisi ketidakadilan sosial dan ekonomi sering lupa menginvestasikan dukungan dan prioritas yang jelas untuk membangun struktur kolektif perempuan yang kuat dalam sebuah organisasi massa. Untuk keperluan itu sangat  diperlukan dukungan pengetahuan (support knowledge) dan keberpihakan yang sangat jelas dari organisasi termaksud, sehingga dapat menghasilkan pimpinan-pimpinan perempuan. Kollontai adalah salah satu tokoh yang mendesak hal tersebut di atas.

Pembebasan Perempuan dan Gerakan Sosial Lainnya

Penindasan perempuan sebagai produk dari komunitas kelas hanya dapat dihentikan ketika kita dapat menghilangkan kelas tersebut. Perjuangannya bukanlah bagaimana perempuan melawan laki-laki sebagai penindas, tapi perjuangan melawan penindasan dan eksploitasi dalam komunitas kelas (class society). Para feminis harus mengembangkan strategi untuk membangun aliansi dengan kelompok lain yang mengalami penindasan dan eksploitasi, jika tidak dilakukan, maka tidak ada kapasitas untuk mengentaskan basis penindasan para perempuan (Pat Brewer,1992).

Radikalisasi feminis, yang muncul dari karakter khusus penindasan terhadap perempuan, tidaklah dapat dilepaskan dari perjuangan dan kelahiran gerakan-gerakan sosial lainnya.  Sejak semula, meningkatnya perjuangan perempuan sangat dipengaruhi oleh radikalisai pemuda internasional ditahun 1960-an sampai pertengahan 1970-an, dan meningkatnya tantangan terhadap nilai dan institusi borjuis yang menyertainya. Kelompok muda-mudi mulai mempertanyakan penafsiran agama, menolak kepahlawanan, mempersoalkan otonomi hirarki dari keluarga, sekolah, pabrik, tentara, dan menolak pengalienasian buruh.

Revolusi rusia dan revolusi sosial sesudahnya memberi keuntungan signifikan bagi perempuan, termasuk hak-hak demokratis dan integrasi ke produksi sosial. Ukuran-ukuran yang diciptakan di era Bolsheviks dibawah kepemimpinan Lenin dan Trotsky secara nyata menunjukkan bahwa revolusi proletar memberi  langkah maju bagi perempuan. Bukti nyata adalah diterbitkannya berbagai peraturan yang memberi kesetaraan hukum dengan laki-laki untuk pertama kalinya (1917).

Pembebasan Perempuan di Negara Berkembang

Pembebasan perempuan tidaklah hanya semata kepentingan perempuan dari Negara kapitalis yang tingkat pendidikan dan standar kehidupannya relatif tinggi. Sebaliknya, Ini merupakan kepedulian utama bagi perempuan di dunia, termasuk mereka yang tinggal di Negara berkembang seperti Indonesia di mana standar kehidupan dan tingkat pendidikannya masih rendah, dan mayoritas pernah mengalami penjajahan.

Dampak dari Dominasi Imperialis

Dominasi imperialis berarti relasi kapitalis dari produksi telah tertutupi dan terkombinasikan dengan pre-kapitalis produksi dan relasi – relasi sosial,  kemudian mentransformasikan mereka ke dalam ekonomi kapitalis.  Lahirnya kapitalisme di Eropa Barat sempat terputus dengan revolusi demokratif untuk kaum borjuis dibanyak Negara maju yang mendobrak kekuasaan ekonomik dan politik dari klas feudal yang berkuasa. Tetapi, di Negara-negara imperialis kolonial penetrasi seringkali dikuatkan dengan hak istimewa , hierarki, dan reaksi tradisi dari klas penguasa pra-kapitalis yang digunakan untuk menjaga stabilitas dan memaksimalkan eksploitasi imperialis.

Menggunakan penyiksaan, penghilangan, perkosaan, dan bentuk lain yang berskala massal,  seperti perbudakan kepada masyarakat setempat di Afrika,  meluas ke Eropa, Amerika Latin dan sebagian besar Asia and memaksa mereka untuk masuk ke pasar dunia.

Periode paska Perang Dunia II, melemahkan kekuatan lama kolonial  Eropa dikombinasikan dengan keinginan kekuatan imperialis USA untuk mempunyai akses tidak terbatas ke pasar dan sumber-sumber di dunia ketiga, yang membuka peluang aktivitas korporasi internasional.

Dewasa ini,  penjajahan baru ada di tangan lembaga keuangan internasional dan perusahaan – perusahaan transnasional dengan mengunakan senjatanya lewat utang dan relasi perdagangan yang tidak adil, tidak lagi memakai tentara dan peralatan perang lain yang mencuri sumber daya kita.  Hasil nyata adalah pesatnya aliran kemakmuran dari Negara miskin-berkembang ke Negara-negara kaya. Dampaknya bukan hanya kepada perekonomian, tetapi juga kerusakan lingkungan, dan pencemaran yang merusaksumber-sumber  kehidupan utama; air, udara. Kehadiran usaha pertambangan besar Freeport di Papua maupun Pt. Newmont di Minahasa merupakan bukti dari argumen di atas.

Untuk perempuan di Negara berkembang intervensi kapitalis membawa dampak yang kontradiktif: di satu sisi, ia memperkenalkan hubungan ekonomi baru yang memberi landasan bagi perempuan untuk mengatasi penindasan ekonomi yang sudah berabad-abad lamanya. Tetapi dilain pihak, ia mengambil  dan menggunakan tradisi, aturan agama, dan prasangka yang anti-perempuan.

Produksi Pertanian

Perempuan memainkan peranan ekonomi yang penting, tidak hanya karena mereka bekerja lebih lama baik di rumah maupun di lapangan, tetapi juga melahirkan, beerbagi pekerjaan dan tetap memberikan keamanan ekonomi di masa tuanya. Sering, perempuan menikah di usia muda dan melahirkan sebanyak mungkin anak yang bisa mereka lahirkan. Harga mereka diukur dari berapa anak yang bida mereka lahirkan. Perempuan yang tidak bisa melahirkan sering diangap sebagai kecacatan social dan bencana bagi ekonomi keluarga, menjadi alas an untuk perceraian.

Karena peran produktif yang dilekatkan kepada perempuan, membuat perempuan terjebak untuk mengurus seluruh anggota keluarga. Dikombinasikan dengan pembangunan ekonomi yang rendah, ini membawa kemiskinan ekstrim bagi perempuan petani pedesaan. Praktiknya, perempuan petani tersebut jarang mendapat perlindungan sosial ataupun hukum sebagai individu manusia. Mereka hidup dibawah baying-bayang dominasi laki-laki dalam anggota keluarganya.

Dalam banyak kasus, sumber yang terbatas dalam keluarga biasanya dialokasikan untuk anggota keluarga yang laki-laki, baru kemudian perempuan. Ini menempatkan anak perempuan mendapatkan makanan dengan kualitas gizi yang rendah yang menyebabkan angka malnutrisi pada anak-anak tetap tinggi. Sebagai tambahan, angka  buta huruf maupun angka kematian ibu di Indonesia juga masih tetap tinggi

Dampak Urbanisasi

Masuknya Negara-negara berkembang ini, termasuk Indonesia, dalam pasar kapitalis tidak terhindarkan mempunyai dampak bagi pedesaan. Inflasi dan ketidakmampuan untuk berkompetisi dengan perusahaan pertanian besar. Mendorong migrasi penduduk desa untuk mencari pekerjaan ke kota-kota, bahkan sampai ke luar negeri. Migrasi awalnya dilakukan oleh kaum pria, dengan meninggalkan perempuan, anak-anak, dan kaum tua dengan beban kerja yang menjadi semakin berat, karena harus mengelola beban rumah tangga dan pertanian sendirian.

Namun, seringkali kaum perempuan muda juga mencari kerja ke kota-kota besar, untuk menjadi pekerja dengan upah murah, dan nyaris tanpa perlindungan. Ada yang direkrut untuk bekerja sebagai perempuan yang dilacurkan, kebanyakan anak perempuan dan perempuan muda. Mereka juga direkrut untuk bekerja di kawasan industri, dan bahkan sampai bekerja ke luar negeri, namun tetap dengan perlindungan yang minim. Sejak krisis moneter, di tahun 1998, angka pekerja perempuan yang bekerja ke luar negeri semakin meningkat.

Partisipasi Angkatan Kerja

Di Negara-negara berkembang, perempuan umumnya menerima penghasilan lebih rendah dari perempuan yang tinggal di Negara maju. Ini berkisar 8 sampai 20 persen dibanding 40 persen yang dihasilkan perempuan di Negara maju. Namun, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja tumbuh berkembang baik di Negara berkembang maupun Negara maju. Sebagaimana telah kita duga, konsentrasi pekerjaan perempuan adalah area yang membutuhkan ketrampilan rendah, dibayar murah, dan minim perlindungan hokum dan sosialnya. Seperti pekerja rumah tangga, industri rumah tangga, industri tekstil, industri makanan, sepatu dan elektronik.

Tuntutan yang Perlu Diperjuangkan

Perlu diyakinkan bahwa gerakan pembebasan perempuan yang berjuang untuk menuntut langsung kepada mereka yang bertanggung jawab atas kondisi social dan ekonomi di mana penindasan perempuan berakar dalam kelas kapitalis, pemerintahnya, dan lembaga-lembaganya.  Dalam memperjuangkan tuntutan ini, banyak perempuan akan memahami hubungan antara penindasan yang mereka alami sebagai korban kelas sosial yang berkuasa.

Tuntutan khusus yang harus diperjuangkan dalam gerakan sosial sangat tergantung kepada situasi gerakan yang kita perjuangan. Namun, ada hal-hal utama yang penting untuk dipertajam dan membangun perjuangan pembebasan perempuan, yaitu:

a. Hak perempuan untuk mengontrol tubuhnya sendiri

Ada dua hak yang perlu diperhatikan, yaitu:hak reproduksi adalah hak bagi perempuan untuk menentukan alat dan metode kontrasepsi dengan kesadaran penuh perempuan itu sendiri. Termasuk dalam hak reproduksi adalah  hak bagi perempuan untuk  memiliki ataupun tidak memiliki anak. Dan Hak perempuan atas tubuhnya juga termasuk cara berpakaian dan bagaimana mereka melakukan aktivitas sosialnya.

b. Kesetaraan penuh dari aspek legal, politik, dan sosial bagi perempuan

Tidak boleh ada diskriminasi berbasis gender. Perempuan harus mempunyai ruang untuk terlibat dalam aktivitas publik, untuk bepergian kemanapun ia mau, untuk bergabung dalam lembaga-lembaga politis, mendapatkan pekerjaan yang ia mau. Hukum dan aturan yang menerapkan diskriminasi bagi perempuan, haruslah dihilangkan. Peraturan yang mendiskriminasi perempuan untuk mendapatkan upah dan kepemilikan harus juga dihapus. Perempuan harus mendapatkan akses setara untuk jaminan sosial, tanpa melihat usia maupun status perkawinan.

Stigma dari konsep ’tidak sah’ harus juga dihilangkan, termasuk diskriminasi kepada perempuan yang mempunyai anak tanpa perkawinan, termasuk anak-anak yang dilahirkan, maupun mereka yang pernah berstatus narapidana. Harus juga ada pengakuan mengenai  perempuan kepala keluarga. Di Indonesia, perempuan kepala keluarga yang tercatat mencapai 6 juta orang, dengan rata-rata menghidupi 3-5 anggota keluarganya.

c. Hak perempuan untuk kemandirian dan kesetaraan ekonomi

Hak ini termasuk untuk mendapatkan pekerjaan dengan imbalan berdasarkan standar upah nasional. Perempuan harus diberi upah penuh sesuai dengan pekerjaannya, dan didukung untuk masuk ke lapangan kerja non-tradisional. Harus dilakukan penilaian-kembali pekerjaan perempuan tradisional melalui perbandingan penilaian pekerjaan tradisional pria yang memerlukan tingkat kecakapan yang sama dan peningkatan upah perempuan.

Diskriminasi terhadap perempuan dalam program-program pelatihan dan dalam kesempatan promosi pekerjaan haruslah dihapus. Harus ada tindakan afirmatif dengan aturan yang mengikat secara hukum yang memperbaiki dampak secara sistematis dari diskriminasi dalam perekrutan, pelatihan dan promosi.

Perempuan tidak akan dapat menikmati kesetaraan dalam pekerjaan, jika mereka tetap dipaksa untuk menanggung beban pekerjaan domestik. Karena beban domestik ini lahir dari sebuah konstruksi sosial, maka solusinya juga memerlukan dukungan dari masyarakat secara sosial.

d.Kesempatan pendidikan secara setara

Sistem pendidikan sekarang mendiskriminasi perempuan dalam setiap tingkatnya, mulai dari Taman Kanak-kanak sampai dengan paska perguruan tinggi. Harus ada usaha untuk menghentikan seks stereotipi dalam buku-buku pelajaran, juga segala bentuk tekanan yang mengasosiasikan murid-murid perempuan dalam segala pekerjaan ‘perempuan’ seperti menjadi penerima tamu, sekretaris, memasak, merawat, dll.

e. Hak perempuan untuk bebas dari eksploitasi dan kekerasan seksual

Adalah menjadi realitas sehari-hari bahwa perempuan mengalami kekerasan berbasis gender dalam segala bentuk.  Kekerasan terhadap perempuan adalah produk lingkaran setan dari kondisi sosial dan ekonomi dari masyarakat dengan kelas, yang semakin meningkat dalam masa krisis moneter. Media massa kapitalis dan periklanan menciptakan iklim sosial yang memperkuat kekerasan seksual dan pelecehan yang menggambarkan perempuan sebagai obyek seks.

Penggambaran ini membuat ketidaknyamanan bagi perempuan atas gambaran diri mereka sendiri, juga dikombinasikan dengan gambaran budaya akan seksualitas perempuan dan tradisi kecantikan, dapat bermuara kepada segala bentuk mutilasi perempuan dan perempuan muda.

Perempuan yang dilacurkan adalah juga produk dari kondisi sosial dan ekonomi umum dari masyarakat dengan strata kelas, terutama kemiskinan dan pembatasan perempuan untuk mendapatkan keakhlian dalam akses pekerjaan yang produktif.  Perempuan yang dilacurkan tidak boleh diperlakukan sebagai penjahat kriminal, dan seluruh aturan yang menyalahkan mereka harus dihapus.***

Memahami Pemikiran Alexandra Kollontai (5)

Alexandra Kollontai 1909

Basis Sosial Persoalan Perempuan (The Social Basis of the Woman Question)[1]

Sumber :

Abstrak dari Beberapa Tulisan Alexandra Kollontai (Selected Writings of Alexandra Kollontai),  Allison & Busby, 1977.
Pertama kali diterbitkan tahun 1909 sebagai Pamphlet, diterjemahkan dan disunting oleh Alix Holt. Transkrip :  Andy Blunden untuk marxists.org, disetujui dan dikoreksi oleh Chris Clayton 2006.
***

Biarkan saja para cendekia borjuis untuk menyerap dirinya dalam diskusi tentang pertanyaan superioritas satu jenis kelamin atas jenis kelamin lainnya, atau dalam menimbang berat otak dan membandingkan struktur psikologi laki-laki dan perempuan,  para pengikut dari materialisme sejarah (historical materialism) sepenuhnya menerima kekhasan alami dari masing-masing jenis kelamin dan menuntut hanya masing-masig individu, apakah perempuan atau laki-laki, memiliki kesempatan untuk secara merdeka menentukan nasibnya sendiri, dan ruang lingkup terluas untuk pembangunan dan aplikasi dari semua kecenderungan alami. Pendukung materialisme sejarah menolak keberadaan dari keberadaan tentang pertanyaan perempuan khusu terpisah dari pertanyaan sosial umum dari hari-hari kita. Faktor-faktor ekonomi spesifik di belakang  subordinasi perempuan; kualitas natural yang telah menjadi  faktor sekunder  dalam  proses ini.

Perjuangan untuk Kemerdekaan Ekonomi

Pertama-tama kita harus bertanya pada diri kita sendiri apakah gerakan perempuan yang bersatu mungkin dilaksanakan dalam masyarakat yang didasarkan pada kontradiksi-kontradiksi kelas. Fakta bahwa perempuan turut ambil bagian dalam gerakan pembebasan dan tidak mewakili satu kelompok massa yang homogen adalah jelas, menurut sejumlah pengamat yang objektif.

Kehidupan kaum perempuan, seperti juga laki-laki, terbagi atas dua kelompok: kelompok yang kepentingan dan aspirasinya merasa lebih terwakili oleh kelas borjuis dan kelompok yang memiliki hubungan lebih dekat dengan kelas proletar dimana tuntutan kemerdekaannya mampu menjawab seluruh pertayaan kaum perempuan. Walaupun kedua kelompok sama-sama berslogan “kemerdekaan perempuan”, namun tujuan dan kepentingan mereka berbeda. Masing-masing kelompok secara tak sadar cenderung mendasarkan perjuangan mereka pada kepentingan kelasnya, sehingga memberikan nuansa kelas yang jelas pada tujuan dan kerja mereka.

Tak peduli seradikal apapun tuntutan dan perjuangan kaum feminis, kita tidak boleh lengah bahwa mereka, berdasarkan status kelasnya, tidak dapat memperjuangkan transformasi fundamental atas keadaan ekonomi dan tatanan sosial, dimana tanpa transformasi tersebut keberhasilan kemerdekaan perempuan tidak lengkap.

Jika pada beberapa kesempatan kerangka kerja jangka pendek masing-masing kelompok terjadi bersamaan, namun tujuan akhir mereka-yang dalam jangka panjang menentukan arah pergerakan dan taktik perjuangan perempuan yang digunakan-sangatlah berbeda. Kesetaraan hak antara perempuan dengan laki-laki dalam kerangka kapitalis kontemporer bagi kelompok feminis sudah dianggap tercapai apabila perjuangan selesai, sedangkan kesetaraan hak yang tercapai saat ini bagi kelompok proletar hanya merupakan salah cara meningkatkan usaha perjuangan melawan perbudakan ekonomi. Kelompok feminis melihat laki-laki sebagai musuh utamanya, karena laki-laki secara tidak adil menentukan hak istimewa untuk dirinya sendiri, yakni menyia-nyiakan perempuan.

Buku The Social Basis of the Women’s Question karya Alexandra Kollontai tahun 1909 hanyalah rantai dan kewajiban. Bagi kelompok feminis, kemenangan baru tercapai apabila hak prerogatif yang dulu hanya dinikmati eksklusif oleh laki-laki kini diijinkan untuk ‘semua jenis sex’. Kelompok perempuan proletar bersikap beda. Mereka tidak melihat laki-laki sebagai musuh maupun penindas, tetapi justru melihat laki-laki sebagai pemimpin mereka, yang senasib merasakan pahitnya kehidupan dan bersama-sama berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Kaum perempuan dan pemimpin laki-lakinya tertindas oleh kondisi sosial yang sama, yakni rantai kapitalisme yang menekan keinginan dan mencabut kebahagiaan hidup mereka. Adalah benar bahwa pada beberapa aspek tertentu sistem pada jaman itu memberatkan kaum perempuan, dan juga merupakan kenyataan bahwa buruh yang diperkerjakan terkadang memposisikan perempuan dan laki-laki sebagai rival. Namun pada beberapa situasi yang tidak menyenangkan di bawah ini, kelas pekerja mengetahui siapa yang bersalah atas keadaan tersebut…

Perempuan pekerja, yang tak kalah miskinnya dengan laki-laki pekerja, benci akan monster yang tak pernah puas akan kekayaannya, yang hanya peduli untuk menghisap habis sari-sari korbannya, hidup dari penderitaan jutaan umat manusia, dan bersikap rakus tak pandang bulu pada laki-laki, perempuan maupun anak-anak.  Ribuan rentetan kejadian menyakitkan telah menyatukan laki-laki pekerja atas rasa senasib sepenanggungan. Sementara itu, aspirasi kelompok perempuan borjuis terlihat aneh dan sulit dipahami. Gagasan mereka tidak mengena di hati kelompok proletar; mereka tidak menjanjikan masa depan yang lebih baik bagi perempuan proletar.

Tujuan akhir perempuan proletar tentu saja tidak menghalangi keinginan untuk meningkatkan status mereka, meskipun terjadi dalam kerangka sistem borjuis yang sedang berlaku pada saat itu. Namun usaha untuk merealisasikan keinginan ini seringkali terkalahkan oleh berbagai rintangan yang semuanya bersumber dari kapitalisme. Perempuan baru bisa memiliki kesetaraan hak dan benar-benar medeka apabila tercipta dunia yang harmonis dan adil bagi buruh sosial.

Kelompok feminis agaknya tidak mau dan tidak dapat memahami hal tersebut; bagi mereka ketika kesetaraan hak diakui secara formal dan sah oleh hukum, ketika itu pula lah mereka dapat memenangkan posisi aman dalam sistem dunia yang penuh dengan penindasan, perbudakan dan rasa senasib sepenanggungan atas kepahitan hidup. Hal ini mungkin ada benarnya sampai pada tahap tertentu. Bagi mayoritas kelompok perempuan proletar, kesetaraan hak antara perempuan dengan laki-laki berarti kesetaraan bagian dalam ketidaksetaraan, dimana bagi “beberapa orang terpilih“, yakni perempuan borjuis, kesetaraan hak benar-benar mampu membuka pintu menuju kesetaraan hak yang baru dan lebih tinggi, yang hingga saat itu hanya bisa dinikmati oleh laki-laki dari kelas borjuis saja. Setiap kesepakatan yang berhasil digolkan perempuan borjuis memang mampu mempertebal persenjataan bagi adik-adik perempuan mereka kelak, namun secara bersamaan semakin mempertajam perbedaan antara kedua kelompok sosial kaum perempuan tersebut. Kepentingan-kepentingan perempuan borjuis bersifat lebih tajam dalam konflik dimana aspirasi mereka bersifat kontradiktif.

Lalu, dimanakah “women’s question“(persoalan perempuan) secara umum itu? Dimanakah persatuan tanggungjawab dan aspirasi yang selalu digembar-gemborkan kelompok feminis? Pandangan waras terhadap kenyataan memperlihatkan bahwa persatuan macam itu tidak dan tak bisa terwujud. Dengan sekuat tenaga kelompok feminis berusaha meyakinkan diri mereka sendiri bahwa “women’s question” tidak ada hubungannya dengan partai politik dan bahwa “solusi yang ditawarkan women’s question hanya dapat terwujud dengan partisipasi dari seluruh partai dan seluruh kaum perempuan”. Seperti salah satu feminis perempuan radikal asal Jerman pernah berkata bahwa logika kenyataan memaksa kita untuk menolak delusi nyaman gagasan feminis…

Sepanjang jaman, kondisi dan format kebijakan ekonomi Rusia telah menaklukan perempuan, dan perlahan-lahan merendahkan posisi mereka hingga tertindas dan sangat tergantung dimana keadaan tersebut masih terjadi hingga saat ini. Perubahan besar-besaran di seluruh struktur sosial dan ekonomi sangat diperlukan agar perempuan dapat mendapatkan kembali posisi berarti dan kemerdekaan yang hilang bagi kaumnya. Kesulitan-kesulitan yang dulu seakan terlalu sulit untuk dipecahkan pemikir terhebat sekalipun, kini mampu diatasi oleh format kebijakan yang sangat kuat berkuasa. Kekuatan tersebut yang selama ribuan tahun telah memperbudak kaum perempuan, kini dengan peningkatan lebih jauh mampu memimpin perempuan menuju jalan kebebasan dan kemerdekaan.

“Persoalan Perempuan” oleh perempuan borjuis baru menyadari akan pentingnya perempuan kira-kira pada pertengahan abad ke-19 – jauh lebih lama setelah perempuan proletar tiba di arena perburuhan. Dibawah dampak suksesnya kapitalisme, warga kelas menengah tiba-tiba terseret arus ‘butuh’. Perubahahan ekonomi telah memutarbalikkan keadaan ekonomi kelas menengah borjuis menjadi tidak stabil, dimana perempuan borjuis dihadapkan pada ancaman dilema: antara menerima kemiskinan atau memenangkan hak untuk bekerja. Para istri dan anak perempuan kalangan borjuis kemudian mulai memasuki universitas, sanggar-sanggar seni, rumah editorial dan perkantoran, membanjiri setiap profesi yang memungkinkan bagi mereka. Hasrat para perempuan borjuis untuk menimba sukses di bidang ilmu pengetahuan dan pencapaian lebih tinggi dalam kebudayaan bukan merupakan keinginan yang tiba-tiba meledak, tetapi berakar dari kebutuhan dasar manusia yakni “makan sehari-hari”.

Dari awal mula perjuangannya, perempuan borjuis menerima perlawanan keras dari laki-laki. Maka terjadilah perang tak berujung antara lelaki pekerja profesional, yang enggan meninggalkan pekerjaan mereka yang nyaman, dengan perempuan yang masih ‘hijau’ dalam urusan menghasilkan penghidupan bagi dirinya. Perjuangan ini semakin menguatkan “feminisme”, yakni usaha perempuan borjuis untuk berdiri bersama dan dengan keterpaduan kekuatan bersama-sama melawan musuh utama mereka, melawan dominasi laki-laki. Dengan keberhasilan mereka memasuki arena ketenagakerjaan, perempuan borjuis pun kemudian menjuluki diri mereka sebagai “pelopor perjuangan pergerakan perempuan”. Mereka lupa bahwa dalam usaha kemerdekaan ekonomi ini, seperti halnya pada perjuangan di aspek-aspek lain, perjuangan keras mereka tidak dihargai oleh adik-adik perempuannya.

Lantas, apakah masih logis untuk mengakui perempuan borjuis sebagai pionir yang membuka jalan untuk kesetaraan kesempatan kerja perempuan, ketika hampir di setiap negara ratusan ribu perempuan proletar membanjiri pabrik-pabrik dan satu persatu mengambil alih cabang industri, jauh sebelum pergerakan perempuan borjuis dilahirkan? Hanya pengakuan dari komunitas perdagangan dunia atas keberadaan serikat perempuan pekerja lah yang masih menyelamatkan posisi berdikari perempuan borjuis di kalangan masyarakat, dimana kenyataan tersebut sangat dibanggakan oleh kalangan feminis.

Bukti nyata kontribusi gerakan feminis untuk membantu perjuangan perempuan proletar dalam usaha mereka memperbaiki kondisi material sulit ditemukan. Seluruh pencapaian perempuan proletar di setiap aspek untuk memperjuangangkan kualitas hidup merupakan hasil usaha kalangan kelas pekerja secara umun maupun kalangan wanita pekerja semata. Buku hasil karya Alexandra Kollontai “The Social Basis of the Working Woman Question” atau “Basis Sosial Persoalan Perempuan Pekerja” tahun 1909 yang mengangkat kisah perjuangan perempuan pekerja demi kelayakan kondisi buruh dan kehidupan yang lebih baik, merupakan sejarah yang berbicara tentang perjuangan kemerdekaan kaum proletar.

Apa yang membuat pemilik pabrik menaikkan upah buruh, mengurangi jam kerja, dan menawarkan kondisi kerja lebih baik, jika buka karena ketakutan atas ledakan amarah pekerja yang tidak puas? Hal apa yang menggelitik pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang membatasi eksploitasi upah buruh, jika bukan karena ketakutan atas “pergolakan buruh”?

Tak ada satu pun partai di dunia yang berani membela hak-hak perempuan selain partai sosial demokrat. Perempuan pekerja dianggap sebagai anggota pertama dan terpenting dalam kelas pekerja, sehingga semakin terpuaskannya posisi dan kesejahteraan hidup masing-masing anggota keluarga kelas proletar, akan semakin menguntungkan bagi keberadaan seluruh kelas pekerja secara umum untuk jangka waktu yang panjang.

Menghadapi keadaan sosial yang semakin sulit, para pejuang kemerdekaan perempuan terpaksa menghentikan usahanya dengan berlinangan air mata. Mereka menyaksikan betapa kecilnya kontribusi gerakan perempuan secara keseluruhan dalam membantu perempuan proletar dan betapa tidak mampunya mereka memperbaiki kondisi kerja dan hidup kelas pekerja. Masa depan umat manusia dianggap kelabu, menjemukan, dan tidak pasti bagi perempuan yang berjuang untuk kesetaraan, namun gagal mengadopsi pandangan kelas proletar terhadap dunia dan tidak memiliki keyakinan kuat atas masa depan kondisi sistem sosial yang lebih sempurna.

Karena sistem dunia kapitalis masa kini tidak mengalami perubahan, kemerdekaan dianggap tidak lengkap oleh mereka. Perempuan-perempuan pemikir yang sensitif ini pastilah merasa sengsara. Dalam kondisi dunia dimana hubungan sosial semakin menggeliat, hanya perempuan kelas pekerja yang mampu mempertahankan moral dan mentalnya. Dengan hati-hati namun mantap, secara bertahap mereka melangkahkan kaki menuju sasaran akhir, menaikkan derajat sosial perempuan pekerja. Dengan gagah berani perempuan proletar membuka jalan yang berduri bagi kemerdekaan buruh. Kaki mereka lunglai, badan mereka tercabik. Sepanjang jalan perjuangan, mereka menghadapi tebing yang curam dan acap kali menjadi mangsa empuk kekejaman.

Namun itulah satu-satunya jalan yang harus dilalui perempuan untuk mencapai tujuan mereka yang sulit dicapai tapi menggiurkan, yakni kemerdekaan nyata bagi perempuan di dunia baru perburuhan. Sepanjang jalan perjuangan yang sulit menuju masa depan cerah, perempuan proletar yang hingga selama ini dipermalukan, diperbudak dan ditindas hak-haknya, kini selangkah demi selangkah mentransformasikan dirinya menjadi seseorang dengan mental kerja dan pribadi mandiri, merdeka dalam cinta. Adalah mereka, yang berjuang meningkatkan derajat dan martabat kaum proletar, yang berhasil memerdekakan hak kerja perempuan; adalah mereka, “adik-adik kelas perempuan“, yang mempersiapkan dasar bagi perjuangan “kemerdekaan“ dan “kesetaraan“ umat perempuan di masa depan.

Lantas, apakah masih ada alasan yang bisa membuat perempuan pekerja bersedia bersatu dengan feminis borjuis? Siapakah yang dalam kenyataannya akan menimba keuntungan dari aliansi tersebut? Jawabannya sudah pasti bukan perempuan pekerja, karena mereka mampu berjuang sendiri dan masa depan ada di tangan mereka sendiri. Perempuan pekerja berani mempertahankan kepentingan  kelasnya dan tidak mudah tertipu oleh gagasan mengenai “dunia bagi seluruh perempuan“. Perempuan pekerja tidak boleh lupa akan tujuan perjuangan mereka. Dimana perempuan borjuis bertujuan untuk mengamankan kesejahteraan kelas mereka sendiri, tujuan perempuan pekerja adalah untuk menciptakan kondisi dunia yang mampu menjanjikan masa depan cerah bagi pekerja secara universal, solidaritas pemimpin dan kemerdekaan yang bahagia.

Pernikahan dan Masalah Rumah Tangga

Sekarang marilah kita melihat aspek lain dari persoalan perempuan (woman question), yakni persoalan keluarga. Bagi masyarakat yang peduli atas emansipasi perempuan, kesadaran akan penting dan mendesaknya persoalan rumah tangga untuk segera diatasi bukan merupakan hal baru. Perjuangan demi kesetaraan hak berpolitik, hak mendapatkan gelar akademisi, ataupun kesetaraan upah, belum mewakili keseluruhan aspek perjuangan perempuan dalam mencapai kesetaraan hak. Untuk benar-benar merdeka, perempuan harus berhasil melepaskan diri dari cengkraman adat istiadat rumah tangga yang kuno dan bersifat menindas. Bagi seorang perempuan, keberhasilan mengatasi persoalan rumah tangga tidak kalah pentingnya dengan keberhasilan mencapai kesetaraan hak berpolitik dan kemerdekaan ekonomi.

Hampir di seluruh negara pada saat itu, struktur kerumahtanggaan yang diakui oleh adat istiadat dan hukum yang berlaku menempatkan perempuan pada posisi tertindas, tidak hanya sebagai seorang perempuan, tetapi juga sebagai ibu dan istri. Keberadaban pada saat itu memberikan sang suami hak untuk menentukan kemerdekaan, hak atas kepemilikan tanah/properti, dan hak untuk menteror moral dan fisik istrinya.

Ketika penindasan perempuan secara sah dan legal berakhir, muncul satu kekuatan baru yang disebut “opini publik”. Opini publik ini digagasi oleh kalangan borjuis, yang bertujuan untuk mempertahankan ‘institusi kelayakan yang suci’. Namun tujuan yang terlihat mulia tersebut ternyata merupakan senjata kalangan borjuis yang munafik dan bermoral ganda. Mereka menghancurkan perempuan melalui jalur ekonomi, yakni dengan mengupah rendah perempuan pekerja. Hak-hak perempuan dicabut sehingga tidak dapat menyuarakan pendapat dan membela kepentingannya sebagai warga negara; perempuan hanya diberi dua pilihan yakni hidup dalam cengkraman perkawinan atau merambah prostitusi, dimana pilihan terakhir ini secara publik dikecam dan dilarang, namun diam-diam didukung. Lantas, apakah perlu kita menyoroti sisi gelap kehidupan perkawinan kontemporer dan pahitnya pengalaman perempuan dalam struktur rumahtangga masa kini?

Sudah begitu banyak tulisan dan komentar membahas persoalan ini. Banyak wacana menampilkan  gambar tak sedap yang mengilustrasikan perangkap kehidupan perkawinan dan rumah tangga, yang menimbulkan efek buruk secara psikologis dan melumpuhkan keberdayaan perempuan. Hikmah dari persoalan ini adalah, bahwa struktur rumah tangga modern kurang lebih menindas perempuan kelas manapun serta seluruh lapisan masyarakat. Tradisi dan adat istiadat menghakimi ibu muda tanpa pandang bulu; baik perempuan borjuis, perempuan proletar maupun petani perempuan, semua hak kemerdekaan mereka ditentukan oleh sang suami.

Dengan munculnya persoalan ini, bukankah kita telah menemukan setidaknya satu hal yang mengharuskan seluruh lapisan perempuan untuk bersatu dalam memperjuangkan haknya? Tidakkah kini mereka dapat bersatu  melawan kondisi yang menindas mereka? Mungkinkah cengkraman perbedaan kelas dapat dikalahkan oleh rasa kebersamaan dalam duka dan derita, sehingga mampu menghasilkan aspirasi dan aksi yang menyatukan perempuan dari seluruh lapisan masyarakat? Apakah dengan berlandaskan persamaan harapan dan tujuan, persatupaduan antara perempuan borjuis dan perempuan proletar dimungkinkan?

Para feminis berusaha keras memperjuangkan bentuk perkawinan yang lebih memerdekakan perempuan dan memperjuangkan hak untuk melahirkan, seperti dituangkan oleh Alexandra Kollontai dalam bukunya The Social Basis of Woman Question tahun 1909, yang menyerukan pembelaan terhadap kalangan pelacur sebagai umat manusia yang tertindas. Hal ini memperlihatkan kekayaan literatur feminis dalam usahanya menggali bentuk baru hubungan sosial serta menunjukkan antusiasme memperjuangkan kesetaraan moral seluruh gender. Lantas tidakkah benar jika kita mengatakan bahwa dalam persoalan kemerdekaan ekonomi, feminis borjuis tertinggal jauh oleh jutaan pejuang perempuan proletar yang mempionir  kebangkitan perempuan, namun kehormatan dalam usaha memperjuangkan persoalan rumah tangga jatuh di tangan para feminis?

Di Rusia, perempuan dari kalangan borjuis menengah – yang berjuang untuk kemerdekaan pencari nafkah di tahun 1860-an – telah lama menyelesaikan persoalan dalam aspek-aspek rumah tangga yang membingungkan. Mereka dengan berani mengganti bentuk rumah tangga dan perkawinan yang ’terkonsolidasi’ oleh tradisi gereja dengan bentuk hubungan rumah tangga yang lebih elastis dan sesuai dengan kebutuhan lapisan sosialnya. Namun solusi subyektif yang dilakukan oleh perempuan secara perseorangan ini tidak  mampu merubah situasi dan kondisi kehidupan perkawinan perempuan secara umum yang suram. Sekeras apapun usaha masing-masing individu, tidak akan mampu menghancurkan bentuk perkawinan dan rumah tangga modern.  Diperlukan suatu kekuatan besar yang dihasilkan oleh persatuan seluruh lapisan masyarakat demi masa depan yang lebih cerah, berdasarkan kerangka fondasi baru.

Perjuangan heroik gadis muda borjuis, yang dengan gagah berani terjun ke masyarakat menuntut hak untuk dapat mencinta tanpa perintah dan tuntutan, dapat menjadi panutan bagi perempuan di seluruh dunia yang sengsara dalam jeratan kehidupan perkawinan; hal ini diwartakan oleh kalangan feminis yang berpikiran maju di luar Rusia dan juga oleh kelompok pejuang persamaan hak Rusia. Mereka beranggapan bahwa masalah perkawinan dapat teratasi dengan sendirinya oleh perubahan struktur ekonomi masyarakat, tanpa bantuan atau kejadian lain di luar itu. Perjuangan individual feminis yang gagah berani dianggap cukup, hanya perlu mengajak para perempuan untuk bersikap lebih ‘berani’ , dan masalah perkawinan pun akan selesai dengan sendirinya.

Namun bagi perempuan yang kurang memiliki keberanian, pendapat kelompok feminis tersebut dianggap kurang meyakinkan. ”Gagasan kelompok feminis itu baik untuk para pejuang perempuan borjuis yang mendapat dukungan dari kalangan atas, memiliki tingkat kebebasan yang tinggi, jaringan pertemanan yang baik, dan kualitas diri yang mempesona. Tapi bagaimana dengan perempuan miskin, berupah minim, tanpa teman maupun pesona diri?“.

Persoalan kehamilan kemudian mulai berkecamuk dalam pemikiran perempuan-perempuan yang berjuang untuk kemerdekaan kaumnya. Apakah ”cinta tanpa pamrih’ itu mungkin? Dengan struktur perekonomian yang ada, mungkinkah gagasan tersebut dapat direalisasikan sebagai sebuah fenomena umum, sebagai norma yang diakui masyarakat luas dan bukan hanya oleh perseorangan? Apakah mungkin kita mengabaikan masalah mengenai kepemilikan pribadi dalam kehidupan perkawinan modern? Apakah mungkin kita mengabaikan betuk formal perkawinan tanpa merusak kepentingan perempuan, mengingat bahwa pernikahan justru memberikan jaminan bagi seorang perempuan untuk tidak memikul seluruh tanggung jawab dan kesulitan menjadi seorang ibu. Penghapusan regulasi guild tanpa menegakkan peraturan baru untuk menuntun keputusan para pemimpin negara telah memberikan kuasa penuh pada uang untuk mendominasi kehidupan buruh.

Slogan “Freedom of contract for labour and capital“ (kebebasan berkontrak untuk buruh dan kapital) bagaikan jebakan yang dijadikan alat oleh kapitalisme untuk mengeksploitasi kalangan buruh. Konsep ‘free love’ (kebebasan cinta) yang secara konsisten ditawarkan kepada kalangan masyarakat modern bukannya memerdekakan kaum perempuan dari cengkraman kehidupan perkawinan, tetapi justru membebani mereka dengan permasalahan-permasalahan baru: memikul tanggung jawab untuk menghidupi anak-anak mereka sendirian, tanpa bantuan seorang suami.

Konsep ‘free love’ hanya mungkin teraktualisasi apabila terjadi reformasi fundamental di seluruh aspek relasi sosial, yakni memindahkan obligasi-obligasi yang tercipta dalam kehidupan perkawinan kepada masyarakat dan negara. Namun, seberapa pun demokratisnya masyarakat modern, apakah kita benar-benar dapat mengharapkan mereka untuk bersedia mengambil alih tanggung jawab seorang ibu atas anaknya, yang pada saat itu dipikul oleh unit keluarga? Transformasi fundamental merupakan syarat mutlak untuk menciptakan norma-norma sosial yang melindungi perempuan dari aspek-aspek negatif yang tercipta oleh konsep ‘free love’. Kita harus waspada atas terjadinya perampasan hak dan perilaku menyimpang yang bersembunyi di balik kedok konsep tersebut. Bayangkan apabila lelaki yang pada saat itu menguasai seluruh industri bisnis, memaksa seluruh jajaran karyawan perempuannya untuk memenuhi napsu seksual mereka, dengan menggunakan ancaman pecat. Bukankan mereka sebenarnya, dengan menggunakan cara mereka sendiri, mempraktekan konsep ‘free love’? Bukankah para ‘juragan’ yang menghamili pelayan perempuannya untuk kemudian dibuang dalam keadaan hamil, turut berpartisipasi mempraktekan konsep ‘free love’?

Tapi bukan kebebasan seperti itu yang ditawarkan oleh konsep ‘free love’. Sebaliknya, konsep tersebut meminta masyarakat untuk menerima sebuah konsep moral yang mengikat kedua gender secara setara, dan menentang pandangan akan cinta yang berlaku pada saat itu, yang menggunakan cinta sejati sebagai alasan untuk memaksakan tindakan seksual. Akan tetapi wahai teman-teman tercinta, bukankah konsep ‘free marriage’ yang kita anggap ideal, ketika diterapkan dalam kehidupan masyarakat masa kini juga akan menghasilkan efek-efek yang tidak jauh berbeda dengan perilaku seks bebas?

Konsep ‘free love’ hanya dapat diimplementasikan tanpa membawa beban baru bagi perempuan apabila mereka tidak lagi tergantung kepada dua hal yang selama ini menghambat kemerdekaannya, yakni ketergantungan terhadap uang dan suami. Jika semua perempuan dapat bekerja dan berhasil untuk mandiri secara ekonomi, kemungkinan untuk mengimplementasikan konsep ‘free love’ akan semakin besar, terutama bagi perempuan berpendidikan tinggi dengan gaji yang cukup. Namun ketergantungan perempuan terhadap uang tetap terjadi, dan terus meningkat ketika semakin banyak perempuan proletar menggadaikan kekuatan buruhnya. Lantas, apakah konsep ‘free love’ mampu meningkatkan kualitas hidup perempuan-perempuan tersebut, yang penghasilannya hanya cukup untuk bertahan hidup sehari-hari? Dan bukankah sebenernya konsep tersebut sudah dipraktekan secara luas diantara kalangan pekerja sehingga membuat kalangan borjuis kalang kabut dan pada akhirnya berkampanye memprotes gerakan proletar yang mereka anggap ‘bertabiat buruk’ dan ‘ tidak bermoral’?

Perlu diperhatikan di sini, bahwa ketika para feminis dengan antusias memperkenalkan bentuk hubungan di luar perkawinan maka masyarakat menganggap mereka menawarkan konsep ‘free love’, tetapi ketika gagasan tersebut dikemukakan oleh perempuan proletar maka hubungan antar manusia tersebut dengan caci-maki  ditentang dan dianggap sebagai perilaku seks menyimpang.

Namun sesungguhnya bagi perempuan proletar, semua bentuk hubungan – baik yang diakui oleh Gereja ataupun tidak – sama-sama berkonsekuensi negatif untuk perempuan. Sumber permasalahan bagi seorang istri dan ibu dalam kehidupan berkeluarga dan perkawinan bukan terletak pada suci-tidaknya bentuk hubungan mereka, namun pada bantuan sosial dan ekonomi untuk menghidupi diri dan anak-anaknya, walaupun tentu saja di luar itu perempuan proletar juga tidak setuju atas hak sorang suami untuk mengambil alih penghasilan istrinya, hak suami yang sah secara hukum untuk memaksa sang istri tetap tinggal bersama meskipun istri keberatan, atau hak suami mengambil hak asuk anak-anak mereka. Masalah yang muncul dalam hubungan laki-laki dan perempuan hanya dapat diatasi apabila masyarakat membebaskan perempuan dari belenggu urusan rumah tangga sehari-hari yang pada saat itu tidak dapat dihindari (mengingat kondisi domestik ekonomi yang beragam), mengambil alih tanggung jawab atas masa depan generasi muda, serta membela hak ibu hamil dengan memberikan hak sang ibu untuk mengasuh anaknya setidaknya pada satu bulan pertama setelah kelahiran.

Dalam usahanya melawan ikatan suci perkawinan yang diakui oleh Gereja, para feminis seakan bertarung melawan suatu obsesi. Sebaliknya, perempuan proletar berperang melawan faktor-faktor yang mendukung bentuk perkawinan dan keluarga modern. Dalam usaha merubah kondisi hidup secara fundamental, mereka sadar bahwa mereka turut membantu terciptanya reformasi hubungan antara laki-laki dan perempuan. Di sini lah letak perbedaan pendekatan-pendekatan yang digunakan antara perempuan proletar dengan perempuan borjuis, dalam usaha mereka mengatasi masalah rumah tangga.

Para feminis beserta pejuang reformasi sosial dari kalangan borjuis dengan naifnya yakin bahwa dengan bersatu padunya mereka akan memperbesar kemungkinan terciptanya bentuk tatanan rumah tangga dan perkawinan baru yang diidamkan. Jika kehidupan tidak dengan sendirinya menghasilkan bentuk hubungan tersebut, maka mereka akan mengupayakannya sebesar apapun biayanya. Mereka percaya bahwa bentuk baru hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan harus tercipta, yakni suatu bentuk yang mampu mengatasi masalah rumah tangga yang kompleks dalam sistem sosial yang berlaku pada saat itu. Ideologi ini dikedepankan satu demi satu dalam dunia kalangan borjuis – para jurnalis, penulis dan pejuang emansipasi perempuan – sebagai ’resep baru’ kehidupan rumah tangga yang sukses.

Resep berumah tangga ini memang terasa jauh di atas angan-angan. Betapa lemahnya resep tersebut mengingat kenyataan suram struktur rumah tangga modern saat ini, seperti obat yang hanya mampu meringankan sakit tapi tak bisa menyembuhkan. Sebelum konsep ’free relatonship’(kebebasan menjalin hubungan) dan ’free love’ (kebebasan cinta) dapat dijalankan, dibutuhkan perubahan fundamental dari seluruh bentuk hubungan sosial antar manusia. Lebih lanjut lagi, diperlukan evaluasi mendalam atas norma-norma sosial dan norma-norma seksual, yang meneliti benarkah masyarakat modern secara psikologis sungguh mampu mengatasi gagasan ’free love’.

Sudahkah mereka mempertimbangkan rasa cemburu yang berpotensi muncul dari konsep tersebut? Atau rasa ingin saling memiliki yang kuat di antara dua insan yang saling mencinta? Atau ketidakmampuan manusia untuk saling menghormati hak satu sama lain? Bagaimana dengan kebiasaan manusia untuk merendahkan diri atau direndahkan oleh pasangan yang dicintainya? Dan pahitnya rasa putus asa disia-siakan setelah orang tercinta tidak lagi mencintai kita dan pergi begitu saja? Kemana harus manusia yang kesepian ini mencari ketengan jiwa? Kebersamaan dan persatuan, yang tercipta atas persamaan aspirasi dan rasa kecewa, merupakan medium terbaik untuk meyalurkan emosi dan energi mereka. Namun apakah laki-laki modern mampu untuk bekerjasama dengan persatuan kolektif perempuan? Apakah keberadaan persatuan perempuan benar-benar mampu menggantikan kebahagian hidup individu perseorangan? Tanpa kehadiran teman hidup yang ’unik’ dan ’satu-satunya di dunia’, bahkan bagi seorang sosialis, kehidupan akan terasa sepi. Kita dapat menaruh secuil harapan pada kehidupan kalangan pekerja atas kemungkinan terciptanya hubungan sosial antar manusia yang harmonis di masa depan. Permasalahan keluarga sedemikian kompleks dan memiliki beribu aspek; sistem sosial kita saat ini belum mampu mengatasinya.

Formula pernikahan baru telah dicoba diperkenalkan. Beberapa pejuang perempuan progresif dan pengamat sosial mengganggap ikatan perkawinan hanya merupakan alat untuk beranak-pinak. Perkawinan di mata mereka, tidak memberikan sesuatu yang berharga bagi perempuan – bahwa menjadi ibu adalah fungsi suci dan merupakan tugas perempuan dalam hidup ini. Berkat Ruth Bray dan Ellen Key, dua orang ahli hukum borjuis idealis yang menghargai perempuan sebagai perempuan dan tidak hanya sebagai seorang manusia, gerakan perempuan mengalami kemajuan signifikan. Buku-buku terbitan luar negeri dengan antusias menyambut baik ide-ide yang ditawarkan kedua perempuan berpikiran maju ini. Bahkan di Rusia, sebelum terjadinya revolusi politik tahun 1905 dan sebelum masuknya nilai-nilai sosial, masalah kehamilan sudah menyita perhatian para jurnalis surat kabar harian. Slogan seperti “Hak Menjadi Ibu“ selalu mendapat respon positif dari perempuan di seluruh lapisan masyarakat. Meskipun gagasan-gagasan yang ditawarkan kelompok feminis terdengar sangat utopis, masalah tersebut terlalu penting untuk tidak menyita perhatian perempuan.

“Hak Menjadi Ibu“ merupakan permasalahan yang tak hanya menyentuh perempuan dari kalangan borjuis, tetapi juga dianggap penting bagi perempuan proletar, mengingat kalimat slogannya yang mampu ’menusuk’ hati setiap ibu. Hak untuk dapat memberi makan dan menyusui anak mereka, menyaksikan langkah pertama mereka, hak untuk menjaga tubuh mungil mereka dan melindungi jiwa mereka dari kerasnya hidup; ibu mana yang tidak mendukung tuntutan-tuntutan tersebut?

Dari luar terlihat seakan-akan sekali lagi kita dihadapkan pada persoalan yang mampu menyatukan perempuan dari dua kelompok sosial yang bertentangan, yakni perempuan borjuis dan perempuan proletar. Namun marilah kita lihat lebih teliti, seperti apa pemahaman kelompok perempuan atas konsep ’hak menjadi ibu’.  Setelah itu baru kita dapat menilai apakah solusi yang mereka tawarkan dalam memperjuangkan kesetaraan hak perempuan dapat diterima oleh perempuan proletar. Di mata perempuan borjuis, peran ibu memiliki kualitas mendekati sakral. Berjuang untuk mematahkan persepsi umum yang mencap perempuan untuk wajib melahirkan – mengingat masalah tersebut belum jelas secara hukum – para perempuan yang memperjuangkan hak ibu menawarkan konsep bahwa menjadi seorang ibu merupakan tujuan hidup semua perempuan.

Kesetiaan Ellen Key untuk terus mengulik masalah tanggungjawab keibuan dan keluarga telah membuat dirinya yakin bahwa eksistensi unit keluarga yang terisolasi akan terus ada, bahkan dalam kehidupan masyarakat modern yang mengalami transformasi di sepanjang sejarah sosialis. Dirinya melihat bahwa satu-satunya perubahan yang mungkin terjadi adalah tidak menghitung kenyamanan dan pendapatan materi ke dalam ikatan perkawinan, dan hanya akan menghitungnya sesuai dengan kesepakatan dan keinginan bersama, tanpa ritual maupun proses formal: cinta dan perkawinan menjadi dua hal yang memiliki arti sama. Namun unit keluarga yang tersisolasi dihasilkan oleh dunia modern yang individualis, dengan persaingan ketatnya, tekanan-tekanan sosial dan ekonominya, kehidupannya yang sepi. Dengan kata lain, keluarga merupakan produk dari sistem kapitalisme yang mengerikan.

Dan herannya Ellen Key berniat untuk mewariskan konsep tatanan keluarga kepada masyarakat sosialis! Memang benar, bahwa hubungan darah dan persaudaraan sering menjadi satu-satunya bagian hidup yang tak pernah lelah memberikan dukungan di saat seseorang mengalami kesusahan. Namun secara moral dan sosial, apakah keluarga sungguh-sungguh memiliki arti penting di masa mendatang? Ellen Key tidak dapat menjawab pertanyaan ini. Dirinya terlalu setia dan jatuh hati terhadap konsep ’keluarga ideal’, sebuah unit sosial bersifat egois yang eksistensinya begitu dipuja oleh kalangan menengah borjuis.

Namun tak hanya Ellen Key yang kehilangan arah di tengah-tengah kontradiksi sosial. Mungkin tidak ada isu lain selain masalah perkawinan dan keluarga yang membuat kalangan sosialis begitu memiliki pendapat yang berbeda-beda. Sekalipun kita mencoba untuk melakukan survei opini terhadap para sosialis mengenai isu ini, hasilnya pasti ajaib. Apakah eksistensi keluarga makin lama semakin layu? Atau alasan-alasan yang beranggapan bahwa kekacauan keluarga yang terjadi saat ini hanya merupakan krisis transisi atas sebuah konsep? Akankah bentuk tatanan keluarga yang berlaku saat ini bisa bertahan dalam kehidupan masyarakat di masa depan, atau akankah konsep keluarga terkubur seiring dengan mencuatnya sistem kapitalis modern? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mendapat respon dan jawaban yang sangat beragam.

Dengan memindahkan fungsi edukasi dari keluarga ke masyarakat, ikatan terakhir yang menahan isolasi keluarga modern akan melemah; proses disintegrasi akan berlangsung dengan sangat cepat dan menghilangkan eksistensi tatanan perkawinan di masa datang. Dengan demikian, perlukah kita katakan sekali lagi bahwa di masa mendatang bentuk kewajiban perkawinan akan tergantikan oleh ikatan bebas antara dua individu yang saling mencinta? Konsep ’free love’ yang ideal diperkenalkan oleh perempuan yang mati-matian memperjuangkan emansipasinya, dimana konsep tersebut berhubungan erat dengan norma hubungan antara laki-laki dan perempuan yang kemungkinan akan ditegakkan oleh generasi mendatang. Tetapi pengaruh-pengaruh sosial saat ini bersifat sangat kompleks dan interaksi antar manusia begitu beragam, sehingga sulit untuk memprediksi bagaimana bentuk hubungan yang akan tercipta di masa depan, ketika terjadi perubahan fundamental di seluruh sistem kehidupan. Namun evolusi bentuk hubungan antara laki-laki dan perempuan yang terus mendewasakan diri secara perlahan namun pasti, merupakan bukti nyata bahwa ritual ikatan perkawinan dan tatanan rumah tangga ditakdirkan untuk menghilang dari kehidupan manusia.

Usaha Memperjuangkan Hak Politik

Feminis menjawab kritik dari masyarakat proletar dengan kembali memberikan pertanyaan sebagai berikut:  “Meskipun menurut Anda argumentasi yang melatarbelakangi perjuangan kami dalam membela hak politik perempuan adalah tidak benar, lantas apakah dengan demikian mengurangi besarnya kepentingan untuk memperjuangkan hak tersebut, yang dianggap mendesak bagi feminis dan kelas pekerja?“. “Tidakkah para perempuan dari dua kelompok sosial yang bertentangan dapat sekali ini saja, demi bersama-sama memperjuangkan aspirasi politik mereka, menelan perbedaan antar kelas yang memisahkan mereka?“.

Semestinya para perempuan ini mampu mempertimbangkan pentingnya perjuangan bersama melawan kekuatan jahat yang melumpuhkan hak-hak mereka. Apabila menyangut permasalahan sosial lain, perbedaan antara kelompok borjuis dan proletar memang sulit untuk terelakkan. Namun untuk permasalahan yang satu ini, yakni dalam menuntut hak politik perempuan, kalangan feminis beranggapan bahwa seluruh perempuan dari kalangan sosial manapun adalah sama. Dengan heran dan pahit kelompok feminis kecewa akan keputusan wakil-wakil kelas pekerja yang tanpa pertimbangan terlebih dahulu menolak untuk bekerjasama memperjuangkan hak politik perempuan. Apakah aspirasi politik dapat mewakili identitas ataukah justru menghalangi terciptanya kesatuan pejuang perempuan dari seluruh lapisan masyarakat? Kita harus terlebih dahulu mendapat jawaban atas pertanyaan ini sebelum menjabarkan garis besar taktik yang digunakan perempuan proletar dalam memenangkan hak politik untuk kaumnya.

Kelompok feminis menyatakan dirinya mendukung reformasi sosial, bahkan beberapa orang di antara mereka mengatakan bahwa kehadiran feminis merupakan anugerah bagi paham sosialis, namun mereka tidak mengikutsertakan kalangan proletar dalam merealisasikan cita-cita reformasi sosial. Mayoritas feminis berasumsi dengan naifnya bahwa ketika mereka mampu menduduki kursi perwakilan, mereka akan dengan mudahnya menyembuhkan luka sosial yang selama ini disebabkan oleh laki-laki yang berkuasa hampir di seluruh aspek dan situasi kehidupan. Sebaik apapun niat masing-masing anggota kelompok feminis terhadap kelompok proletar, mereka akan dengan ketakutan meninggalkan arena peperangan ketika dihadapkan pada persoalan perjuangan kelas. Mereka tidak ingin ikut campur dalam permasalahan asing, dan memilih untuk mundur kembali ke dalam kehidupan borjuis liberal yang familiar dan nyaman bagi mereka.

Kelompok feminis berusaha keras menekan hasrat mereka untuk berpolitik, namun mereka juga terus berusaha mengingatkan dan meyakinkan adik-adik pejuang feminis bahwa keterlibatan dalam dunia politik menjanjikan keuntungan tak ternilai bagi perempuan kelas pekerja. Semangat perempuan borjuis yang tak pernah padam ini memberikan warna tersendiri dalam sejarah perjuangan gerakan feminis dan dalam memperjuangkan kesetaraan hak perempuan, yang tampaknya merupakan tuntutan universal seluruh perempuan. Perbedaan tujuan dan pemahaman mengenai bagaimana semestinya memanfaatkan hak politik telah menyebabkan terciptanya jurang dalam antara perempuan proletar dan borjuis.

Perbedaan pandangan tersebut tidak menutupi fakta bahwa sesungguhnya tugas penting yang harus segera diselesaikan oleh kedua kelompok perempuan tersebut adalah sama, dimana para wakil kelompok yang telah mendapat akses politik sama-sama berusaha untuk merubah kode sipil, yang hampir di seluruh negara mendiskriminasi perempuan. Pada akhirnya semua perempuan menuntut perubahan hukum yang lebih menguntungkan bagi pekerja, seperti contohnya mereka bersatu-padu menentang peraturan yang melegalkan prostitusi. Namun kebersamaan dalam menyelesaikan tugas penting ini hanya terbentuk dalam kerangka formal semata, dan justru semakin memperjelas perbedaan kepentingan antara dua kelompok kelas yang berbeda.

Insting kelas, sebagaimana kelompok feminis menyebutnya, akan selalu lebih kuat dibandingkan dengan niat baik untuk berpolitik tanpa pandang kelas. Ketika perempuan borjuis dan perempuan proletar masih setara dalam ketidaksetaraan mereka sebagai perempuan, maka perempuan borjuis akan bersedia dengan tulus mencurahkan segenap tenaga memperjuangkan kepentingan universal kaumnya. Namun ketika perjuangan mereka berhasil dan perempuan mencapai kesetaraan hak dengan laki-laki, perempuan borjuis yang telah mendapat akses ke aktivitas politik akan cenderung membela kepentingan kelasnya, dan meninggalkan perempuan proletar sendirian dan tak berdaya tanpa hak sama sekali. Maka tidaklah mengherankan, apabila ketika perempuan borjuis mengajak perempuan proletar untuk bersama-sama memperjuangkan kepentingan universal perempuan, perempuan proletar bersikap skeptis dan menaruh rasa curiga besar.***


[1] Sumber: http://www.marxists.org/archive/kollonta/1909/social-basis.htm (1 of 18)10/6/2007 1:42:09 PM. Tulisan ini adalah ringkasan dalam bahasa Inggris dari tulisan aslinya setebal 400 halaman dalam bahasa rusia (tambahan keterangan oleh penterjemah).

Memahami Pemikiran Alexandra Kollontai (4)

Internasional Ketiga (The Third International)
23 Oktober 1915

Alexandra Kollontai
†- Alexandra Kollontai berada di Amerika Serikat sekitar 5 bulan, memberikan ceramah ilmiah di berbagai mata kuliah. Ia kembali ke Eropa17 Februari 1916
Diterbitkan dalam The American Socialist [Chicago], v. 2, no. 15, whole no. 155 (Oct. 23, 1915), halaman 2.

Catatan:
Alexandra Kollontai baru saja tiba di negeri ini (Amerika peny.) dari perang yang merobek Eropa dan sekarang sedang berkeliling ke seluruh negeri dibawah arahan federasi jerman dari partai nasional sosialis. Dalam artikel ini Ia menguraikan pendapatnya tentang reorganisasi kekuatan sosialis internasional.

Ketika dalam jarak di masa depan beberapa ahli sejarah harus menggambarkan tahun-tahun berdarah penuh horor, dan menjelaskan krisis yang mengecewakan dalam gerakan buruh dan pembagian serta akhir dari internasional sosialis, para ahli sejarah itu akan terikat untuk menyatakan: “dalam kedalaman, disamping segala gejolak akan kepercayaan dan pesimis, di samping ketidakberdayaan dan ketidakpercayaan satu sama lain, muncullah pada masa itu benih-benih segar dan penting dari buruh internasional baru, internasional yang telah memenuhi pekerjaan besar yang membebaskan kaum proletar dari penindasan kaum kapitalis.”

Internasional ketiga bukanlah utopia, bukanlah “visi yang tanpa dasar” dari optimisme yang berlebihan. Elemen-elemen untuk membangunnya telah ada diantara kita dan telah terpanggil dalam kehidupan oleh krisis yang terjadi. Perburuhan internasional baru diciptakan oleh beberapa laki-laki seperti Karl Liebknecht, anggota parlemen (Duma) Rusia melemah di Siberia, dari partai sosial demokratik jerman dan rusia dari kelompok “kiri” yang selalu setia dengan prinsip dari perjuangan kelas dan sosialisme.

Elemen-elemen Baru
Perburuhan internasional Ketiga termasuk kawan Italia yang berani yang telah melakukan protes sampai akhir soal pembunuhan rakyat. Dalam internasional baru ada beberapa sosialis dan serikat pekerja Perancis serta sejumlah anggota partai Inggris dari partai buruh internasional dan partai sosialis Inggris, yang telah berjuang, untuk prinsip-prinsip fundamental dari kelas pekerja, mereka juga melakukan protes atas perang dan yang tidak akan melakukan apa-apa dengan ‘perdamaian sipil”. Internasional baru yang akan datang ini terdiri dari para pekerja yang telah memenuhi kewajiban ‘perdamaian sipil’ dengan aksi pemogokan dan pemberontakan.

Tapi senyatanya, landasan tegas dari internasional baru haruslah dibentuk dari pemuda sosialis. Pemuda, pemilik masa depan, pemuda yang membawa sangat sedikit dari masa lalu dan mengharapkan semuanya dari kehidupan yang akan datang dan masa depan. Pemuda, yang memiliki hati belum teracuni dengan mental borjuis kecil dan yang memiliki pandangan yang tidak dapat disimpangi oleh ideologi dari era yang akan berlalu. Pemuda buruh yang berani, revolusioner, dan berkorban yang akan terus menekan maju, dan maju.

Anak dari Segala Usia (All Children of Age)
Bukanlah suatu kecelakaan/kebetulan jika dalam setiap momen sejarah, hanyalah laki-laki yang ‘terbesar/terhebat’ dan yang ‘tertua’ yang mengorbankan ide-ide masa depan menuju masa lalu, ke prinsip-prinsip tua dan kuno. Seseorang mungkin begitu hebat sebagai pemikir dan pejuang, ia harus tetap hanya sebagai anak di eranya (the child of his age). Dan setiap usia memiliki ideologinya sendiri dan tugas progresifnya sendiri. Ketika ‘orang besar’ kita, para pemimpin, meletakkan batu fondasi dari Internasional Kedua, prinsip dari ‘mempertahankan ibu pertiwi” adalah progresif pada masanya. Prinsip demokratis terikat erat dengan perjuangan dari Negara ketiga (third estate) untuk menciptakan Negara kapitalis modern. “Membela ibu pertiwi” ada pada masa mempertahankan demokrasi melawan serangan akhir feodalisme, ketika harus berdiri bagi Negara nasional menghasilkan alas yang tak terpisahkan bagi gerakan kelas proletariat.

Haruslah dipertanyakan atau semata ‘kawan lama’ ‘orang hebat’ yang jasanya bagi gerakan tak ternilai yang melihat ke “mempertahankan ibu pertiwi” sebagai kewajiban tertinggi dari proletariat, dan nampaknya mengabaikan fakta bahwa pemeliharaan solidaritas kelas dari proletariat dunia sekarang telah tertanam dalam tugas lama? Kaum anarkis seperti Kropotkin dan penganut Marxist; Plekhanov, sang orthodox Kautsky dan yang selalu goyah Vandervelde, Adler, and Vaillant, semua bersatu, semua sepakat tentang kefatalan, kesalahan dan prinsip yang absolut: pertama, “ibu pertiwi”, kemudian partai…

Harapan Ada Pada Kaum Muda
Ini terletak di tangan kaum buruh muda untuk menghentikan ide salah ini dan untuk menyerang dengan keberanian segar tugas-tugas baru dari gerakan buruh. Adalah kaum muda buruh yang harus menyatukan kontak-kontak internasional yang tercerai berai. Tetapi ketika internasional baru ini berhubungan dengan kondisi baru dari kehidupan dan menjalankan perang vital dan efektif melawan musuh, internasional ketiga dan baru ini harus memiliki tiga tonggak sebagai landasannya.

Tonggak pertama haruslah mengorganisasikan kesatuan organik dari buruh internasional. Tidak ada yang benar-benar formal, tidak ada yang benar-benar aliansi eksternal dari partai-partai nasional menjadi pusat dari dunia proletariat. Tugasnya harus menggantikan nasionalisme dan mempersempit patriotisme dengan perasaan solidaritas internasional dan menggantikan tuduhan ibu pertiwi dengan tuduhan kelas. Apa yang telah buruh pertahankan dalam negara kapitalis? Pantangan mereka? Eksploitasi yang dialami mereka ? Jaringan mereka? Peran penjaga dari internasional baru haruslah: tidak ada perang dari pertahanan dalam konflik di Negara kapitalis tetapi perang agresif penundukan kelas pekerja melawan seluruh dunia kapitalis.

Taktik-taktik Revolusioner
Tonggak kedua haruslah taktik revolusioner dan metode bertarung untuk mengorganisir proletariat. Kita membela hawa dari perjuangan yang revolusioner, menakjubkan dan tidak terelakkan. Metode produksi kapitalis telah mencapai puncaknya; kepemilikan privat dan batas-batas nasional telah siap berjalan untuk pengembangan selanjutnya. Kondisi telah matang untuk meminta kehidupan memasuki peperangan yang menentukan. Tugas besar kedua dari internasional baru harus dilengkapi oleh proletariat dari segala bangsa untuk perang yang menentukan ini.

Tonggak ketiga: pertarungan yang menentukan dan keras menuju akhir yang pahit melawan perang antara Negara dan bangsa serta melawan dominasi militerisme. Perang antara Negara-negara dan bangsa merampok proletariat dari kekuatannya dan hanya senjata yang tak terelakkan – yaitu solidaritas kelas. Perang melemahkan perasaan kelas dan membawanya dengan ’perdamaian sipil’ aspirasi paling tinggi dari dunia kapitalis. Karena itu, dalah tugas pertama dari kaum muda buruh untuk menggunakan setiap energinya untuk bertemu dengan setiap ancaman perang antaa Negara hanya satu jawaban yangefektif – memanggil ‘teror merah’ ke dalam kehidupan.

Adalah kekuatan kaum muda yang akan membawa semua tugas ini. Pembangunan internasional baru tergantung mereka. Buatlah jalan bagi pemuda sosialis, pewaris masa depan! Dengan segala hormat, kita memberi penghargaan kepada para veteran gerakan, tetapi ini hanya melewati anti-reformasi, anti-militer, pemikiran revolusi dan penggalangan pemuda buruh secara internasional di mana buruh internasional yang baru, kuat dan kreatif dapat terangkat.***

Membaca Pemikiran Alexandra Kollontai (3)

BAGIAN III

PEMIKIRAN KOLLONTAI

Alexandra Kollontai 1919

Tentang Sejarah Gerakan Pekerja Perempuan di Russia

(On the History of the Movement of Women Workers in Russia)

Sumber: Alexandra Kollontai: Artikel-artikel dan pidato-pidato, Progress

Publishers, 1984;

Publikasi pertama: dalam A. Kollontai, tentang sejarah gerakan perempuan pekerja rusia, Kharkov 1920, p. 311;

Transkrip oleh: Sally Ryan untuk marxists.org, 2000;

Disetujui dan dikoreksi oleh: Chris Clayton 2006.

Di tahun apa yang dapat dikatakan sebagai tanda dimulainya gerakan perempuan pekerja rusia? Dalam esensinya, gerakan perempuan pekerja tidaklah dapat dipisahkan  dengan gerakan proletar secara keseluruhan.  Pekerja perempuan, sebagai anggota dari kelas proletar , sebagai seseorang yang menjual tenaganya, juga muncul dalam revolusi dengan  para pekerja setiap mereka menentang pelanggaran hak asasi mereka, dan dalam pijakan kaki yang sama dengan buruh lainnya di seluruh pabrik yang berevolusi penuh kebencian kepada tsar.

Awal mula gerakan perempuan pekerja Rusia terjadi bertepatan dengan permulaan tanda-tanda munculnya kebangkitan kesadaran untuk merdeka di kalangan kaum proletar Rusia, dimana gerakan ini, yang pada usaha pertamanya mengalamai berbagai tekanan, serangan dan aksi pemogokan, bertujuan untuk memperbaiki kondisi eksistensi manusia, tidak terhina dan tidak sengsara. Perempuan pekerja berperan aktif dalam pemberontakan pekerja yang terjadi di pabrik Krenholm tahun 1872 dan di pabrik tekstil Lazeryev, Moscow tahun 1874. Pada tahun 1878 mereka turut terlibat dalam aksi pemogokan di perkebunan New Cotton-Spinning di Petrograd dan memimpin aksi mogok buruh tenun pada demonstrasi serikat pekerja di Orekhovo-Zuyevo, dimana berdasarkan sejarah gerakan perempuan pekerja Rusia, demonstrasi yang terkenal ini mampu menghancurkan sejumlah pabrik di tahun 1919. Alhasil, pemerintahan Tsar tergesa-gesa menyusun undang-undang yang isinya melarang perempuan dan anak-anak bekerja di malam hari, dan mulai memberlakukan paksa undang-undang tersebut 3 Juni 1885.

Dapat diprediksi sebelumnya bahwa serangkaian aksi spontan mogok kerja kaum proletar Rusia pada tahun 1870 dan awal 1880 telah mempengaruhi kehidupan industri tekstil, dimana mayoritas pekerjanya adalah buruh murah perempuan. Kerusuhan di sepanjang tahun 1870 dan awal 1880 terjadi murni akibat krisis ekonomi, terpicu oleh tingginya tingkat pengangguran dan krisis industri kapas yang berkepanjangan. Namun, kenyataan bahwa buruh pabrik perempuan yang tertindas- tanpa hak, hidup keras ditempa kerja kasar melebihi batas kemampuan, tidak paham politik, dipandang rendah oleh kalangan perempuan borjuis, dan bahkan tidak disukai oleh petani perempuan yang berpegang teguh pada tradisi lama -  yang justru memimpin perjuangan hak-hak kelas pekerja, khususnya dalam memperjuangkan emansipasi wanita, patut diacungkan jempol. Kondisi hidup susah lah yang mendorong buruh wanita untuk secara terang-terangan melawan kekuasan para majikan dan perbudakan kapital. Akan tetapi, dalam usaha memperjuangkan hak-hak dan kepentingan-kepentingan kelasnya, perempuan pekerja tidak enggan untuk menempuh cara-cara yang kurang bijaksana demi mencapai emansipasi perempuan untuk melepaskan mereka dari belenggu yang memberatkan kaumnya, dan ketimpangan status antara perempuan dan laki-laki pekerja, maupun dalam kerangka kelas pekerja secara luas.

Di saat semakin gencarnya aksi-aksi serikat pekerja di pertengahan dan akhir 1890, sekali lagi perempuan pekerja turut berpartisipasi dan berperan aktif dalam revolusi serikat pekerja. Tahun 1895 terjadi aksi pemberontak April di pabrik Yaroslavl, dan mendapat dukungan kuat dari buruh tenun perempuan. Mereka pun tak kalah aktif dengan para laki-laki pekerja dalam melakukan aksi unjuk rasa perekonomian di St. Petersburg tahun 1894-1895. Di musim panas 1896, St. Petersburg menjadi tonggak bersejarah bagi buruh tekstil, dimana buruh tenun perempuan bersama-sama dengan buruh laki-laki melakukan aksi mogok kerja. Mereka seakan tidak peduli dengan anak-anak mereka yang kelaparan menanti ibunya pulang bekerja, mereka pun tak peduli dengan ancaman seperti dibuang, dikucilkan maupun penjara; hukuman yang menanti mereka setelah aksi mogok selesai dilaksanakan. Bagi perempuan pekerja pada saat itu, kepentingan kelas rakyat lah yang utama, yang lebih suci, melebihi naluri keibuan maupun kepedulian atas kepentingan dan kesejahteraan keluarga!

Pada masa-masa serangan dan aksi-aksi mogok, perempuan pekerja yang awalnya tertekan, canggung dan tak memiliki hak, kini berdiri tegak dan mensetara   kan harkat dan martabatnya sejajar dengan para pejuang. Transformasi ini terjadi secara spontan dan tanpa disadari, namun memiliki dampak penting dan signifikan. Di sini lah awal dari keberangkatan gerakan pekerja memandu gerakan pekerja perempuan dalam usaha pembebasan diri mereka, tak hanya sebagai seseorang yang menjual jasanya, tetapi juga sebagai seorang perempuan, istri, ibu dan ibu rumah tangga.

Di akhir tahun 1890 dan awal abad 20, terjadi sejumlah serangan dan aksi mogok di pabrik yang dilakukan mayoritas oleh buruh perempuan: di pabrik pengolahan tembakau (Shanshai), di pabrik pintal dan tenun (Maxwell) di Petrograd, dan masih banyak lagi. Gerakan kelas pekerja Rusia terus menambah kekuatan dan memperbaiki diri. Hal serupa juga terjadi pada gerakan pemberontak di kalangan perempuan proletar.

Gerakan yang dilakukan sebelum Revolusi Rusia pertama bersifat minim. Slogan-slogan bertajuk politik harus dilakukan sembunyi-sembunyi, atau dikemas dalam bentuk tersembunyi. Insting sehat atas kebersamaan mendorong perempuan pekerja untuk mendukung aksi mogok, dan tak jarang mereka sendiri turut menjalankan aksi “pemberontakan pabrik“. Namun sangat disayangkan,  belum lagi sisa-sisa pengalaman pahit perjuangan hilang, baik menang maupun kalah, secepat itu pula lah para buruh kembali bekerja paska aksi mogok. Sekali lagi perempuan pekerja terisolasi satu sama lain, tidak sadar akan pentingnya organisasi dan kepemimpinan yang stabil. Pada tahun-tahun itu, keberadaan perempuan pekerja dalam partai organisasi ilegal merupakan hal yang luar biasa. Tujuan dan sasaran garis besar partai pekerja sosialis masih belum mampu menangkap perhatian para perempuan pekerja, dan mereka belum responsif terhadap seruan-seruan politik universal.  Kehidupan enam juta perempuan proletar Rusia di awal abad ke-20 masih terlalu gelap, terlalu tidak berarti, dimana eksistensi mereka terbelenggu oleh kelaparan, kemiskinan dan kehinaan. Bekerja sebelas hingga dua belas jam per hari, kelaparan akibat upah minim 12-15 rubel per bulan, tidur di barak-barak sempit, ketiadaan perhatian dan bantuan kesehatan, kehamilan dan pekerjaan dari pemerintah maupun masyarakat, minimnya kemungkinan untuk memperbaiki kualitas hidup melalui organisasi mengingat pemerintahan Tsar menindak kejam setiap usaha serikat pekerja untuk membentuk organisasi dalam bentuk apapun; hal-hal tersebut merupakan gambaran kehidupan sehari-hari perempuan pekerja Rusia. Punggung mereka bungkuk akibat tempaan kerja fisik, dan jiwa mereka pun terlanjur didera oleh kemiskanan dan kelaparan, sehingga menolak untuk percaya akan masa depan yang lebih baik dan kemungkinan untuk menang melawan penindasan kapital dan pemerintahan Tsar.

Di awal abad ke-20, perempuan pekerja cenderung menghindar dari perjuangan politik dan revolusi. Gerakan sosialis Rusia dapat berbangga diri  atas melimpah ruahnya jumlah perempuan mempesona namun perkasa, yang dengan semangat dan tanpa pamrih turut membantu konsolidasi gerakan bawah tanah dan menyiapkan jalan untuk ledakan revolusi yang terjadi pada tahun-tahun mendatang. Namun, diantara perempuan-perempuan tersebut, mulai dari perempuan sosialis angkatan pertama seperti Sofia Bardina atau adik-kakak Leshern yang baik hati dan menawan, sampai Sofia Perovskaya yang berkemauan besi, tak seorang pun mewakili kalangan proletar perempuan Rusia. Mereka adalah perempuan-perempuan muda yang membuat Turgenev mendedikasikan karyanya berjudul “The Treshold“ untuk mereka, merupakan perempuan yang berasal dari keluarga aristrokat kaya, yang kabur dari rumah, meninggalkan asal muasal masa lalunya yang makmur untuk kemudian terjun membantu rakyat, menyebarkan propaganda revolusi dan melawan ketidakadilan sosial, demi menebus ’dosa’ ayah-ayah mereka. Bahkan jauh setelah itu, di tahun 1890an dan di awal abad ke-20 ketika paham Marxis telah mengakar kuat dalam gerakan pekerja Rusia, jumlah perempuan pekerja yang terlibat dalam gerakan tersebut terbilang sangat kecil. Anggota perempuan yang berperan aktif dalam organisasi bawah tanah pada masa-masa tersebut bukanlah perempuan pekerja, tetapi justru perempuan intelek seperti pelajar, guru, asisten medis dan  penulis. Keberadaan “perempuan pabrik“ di pertemuan-pertemuan ilegal adalah hal yang tidak lazim. Mereka pun tak pernah menghadiri misa Minggu malam yang digelar tak jauh di luar perbatasan kota Petrogard, dimana metode terebut merupakan satu-satunya cara legal-karena terletak di daerah aman secara geografis- untuk menyebarluaskan ide-ide Marxis dan paham sosialis di kalangan pekerja secara luas. Perempuan pekerja pada saat itu masih malu-malu berjuang untuk kehidupan layak, memilih untuk menghindari konflik….mereka masih percaya bahwa hak mereka hanyalah sebatas kompor, cucian dan tempat tidur bayi.***

1905 – REVOLUSI PERTAMA

Keadaan berubah drastis begitu tanda-tanda revolusi menghantui Rusia dengan cengkraman mautnya. Tahun revolusi 1905 memberikan terapi syok bagi Sejarah Gerakan Perempuan Pekerja Rusia 1919 lewat volume massa pekerjanya. Untuk pertama kalinya pekerja Rusia baru menyadari bahwa selama ini nasib kekayaan nasional berada di pundak mereka. Perempuan pekerja proletar Rusia, yang merupakan kolaborator utama dalam setiap demonstrasi politik proletar pada masa-masa revolusi tahun 1905-1906, juga seakan baru terbangun dari tidur panjangnya. Jika kita ingin menghubungkan fakta-fakta partisipasi massa perempuan dalam gerakan pada masa itu, mencatat seluruh manifestasi protes dan perjuangan oleh perempuan pekerja, mengingat kembali serangkaian aksi tanpa pamrih para perempuan proletar, kesetiaan mereka terhadap idealisme paham sosialis, maka kita harus merangkai satu adegan per satu adegan dari seluruh kejadian bersejarah revolusi Rusia tahun 1905.

Banyak orang masih mengenang masa-masa revolusi tersebut penuh dengan romantisme. Citra perempuan pekerja, walau belum sempurna, tapi mulai menyatu dengan kehidupan sehari-hari, dengan mata penuh harapan mereka berpidato di pertemuan-pertemuan yang selalu ramai menyebarkan antusiasme tinggi. Wajah mereka penuh dengan energi dan semangat resolusi yang tak tergoyahkan, sering dijumpai dalam barisan prosesi pekerja pada peringatan kejadian bersejarah 9 Januari, Minggu berdarah. Pada Minggu itu, sinar matahari bersinar sangat terang untuk ukuran St. Petersburg, meringankan jalannya prosesi yang muram dan sunyi, menyinari wajah perempuan-perempuan dalam barisan prosesi. Mereka baru menyadari ganjaran yang mereka terima sebagai akibat terlalu naïf dan percaya terhadap sistem yang berlaku selama ini; perempuan pekerja, gadis muda, dan istri pekerja, merupakan sosok umum dari banyaknya korban yg turut serta dalam barisan prosesi pada hari di bulan Januari itu. Perempuan-perempuan ini mengibarkan bendera berslogan “Aksi Mogok Bersama” dari satu pabrik ke pabrik lainnya, apabila hari kemarin mereka belum memiliki kesadaran akan kelas, kini mereka berlomba untuk menjadi orang pertama yang melakukan aksi mogok kerja.

Perempuan pekerja di provinsi-provinsi tidak mau ketinggalan oleh pemimpin mereka di ibu kota. Pada Oktober 1905, letih tiada tara akibat kerja keras dan menahan derita lapar, perempuan-perempuan tersebut meninggalkan pabrik tempat mereka bekerja, dan dengan mengatasnamakan kepentingan bersama membuang sisa roti terakhir milik mereka walau itu berarti anak mereka harus kelaparan…..dan dengan kata-kata yang sederhana namun menyentuh, mereka meminta bos-bos laki-laki mereka untuk ikut meninggalkan pabrik dan mogok bekerja. Inisiatif ini mampu menggenjot semangat para pelaku aksi mogok dan menghembuskan energi positif bagi mereka yang ragu-ragu untuk bertindak. Para perempuan pekerja tersebut bekerja tiada henti, memprotes penuh semangat, mengorbankan kepentingan pribadi mereka tanpa pamrih demi kepentingan dan tujuan bersama, dimana semakin aktifnya mereka, semakin cepat pula proses kesadaran diri mereka terbentuk.

Perempuan pekerja mulai peduli atas apa yang terjadi di dunia sekelilingnya, khususnya mengenai ketidakadilan yang bersumber dari sistem kapitalis. Mereka menjadi semakin sadar akan pahitnya penderitaan dan kepedihan yang mereka alami. Seiring adanya tuntutan-tuntutan umum kelas proletar, terdengar juga kebutuhan-kebutuhan perempuan pekerja yang diserukan nyaring oleh para perempuan pekerja. Sejak masa pemilihan umum sampai periode komisi Shidlovsky bulan Maret 1905, penolakan untuk mengakui perempuan pekerja sebagai delegasi pekerja memancing bisikan-bisikan kesal di antara perempuan, padahal, penderitaan dan pengorbanan yang mereka lakukan telah berhasil menyatukan perempuan dan laki-laki pekerja, menempatkan mereka pada posisi sejajar. Hal tersebut merupakan hasil yang luar biasa mengingat pada masa itu perempuan, baik pejuang maupun rakyat biasa, tidak dapat disamaratakan hak asasinya dengan laki-laki. Ketika komisi Shidlovsky menolak untuk mengakui delegasi perempuan terpilih sebagai satu dari tujuh delegasi perwakilan perusahaan tekstil Sampsoniyevsky, perempuan-perempuan pekerja yang mewakili beberapa perusahaan tekstil lainnya dengan murka mengeluarkan deklarasi sebagai berikut:

“Kami memandang bahwa keputusan untuk tidak memperbolehkan perempuan yang mewakili perempuan pekerja untuk bergabung dalam komisi di bawah kepemimpinan anda (Shidlovsky) adalah tidak adil. Perempuan pekerja mendominasi jumlah pekerja di pabrik penggilingan dan pabrik industri di St. Petersburg. Jumlah perempuan pekerja di parbrik pemintalan dan tenun terus bertambah setiap tahunnya karena para lelaki pindah ke pabrik lain yang menawarkan upah lebih baik. Kami, perempuan pekerja, memikul beban kerja yang lebih berat dan karena ketidakberdayaan dan minimnya hak asasi, kami ditindas dan diupah rendah oleh pimpinan. Ketika komisi baru ini diumumkan, hati kami dipenuhi oleh beribu harapan; akhirnya waktunya telah tiba – kami pikir – dimana perempuan pekerja St. Petersburg atas nama seluruh perempuan pekerja, akhirnya dapat menyuarakan opini dan pendapatnya kepada seluruh Rusia tentang penindasan, kesewenangan dan penghinaan yang selama ini tak pernah dialami laki-laki. Dan kini, ketika kami telah memilih perwakilan komisi, kami diberitahukan bahwa yang dapat menjadi anggota perwakilan komisi hanyalah laki-laki. Kami berharap ini bukanlah keputusan final komisi Shidlovsky……”

Peraturan yang tidak memberikan hak bagi perempuan pekerja untuk menjadi perwakilan komisi serta pengusiran mereka dari kancah politik terang-terangan membuktikan ketidakadilan atas perjuangan yang selama ini dilakukan perempuan pekerja untuk pembebasan kaumnya. Selama periode kampanye, berulangkali mereka menghadiri rapat pra-pemilihan dan dengan gaduh memprotes semua undang-undang yang intinya mencabut hak suara mereka dari keputusan-keputusan penting dalam pemiihan perwakilan parlemen Rusia. Ada saatnya, seperti kejadian di Moscow, dimana perempuan pekerja mendatangi rapat pemilihan, memberhentikan rapat dan memprotes cara dijalankannya proses pemilihan.

Bahwa perempuan pekerja tidak lagi tidak peduli terhadap minimnya hak suara mereka dapat terlihat dari 40,000 orang menandatangani petisi yang dialamatkan kepada First/Second State Duma[1], menuntut agar hak pilih juga diberikan kepada wanita, dimana sebagian besar ditandatangani oleh perempuan pekerja. Pengumpulan tandatangan petisi tersebut diprakarsai oleh Aliansi untuk Kesetaraan Perempuan (Alliance for Female Equality) dan organisasi-organisasi perempuan borjuis lainnya, yang dilakukan di sejumlah pabrik dan perkebunan. Kenyataan bahwa pekerja perempuan bersedia menandatangani petisi yang digagasi oleh kalangan perempuan borjuis menandakan bangkitnya kesadaran untuk memperjuangkan hak-hak mereka, walau pada langkah pertama ini mereka masih harus belajar berjalan tertatih-tatih. Perempuan pekerja memang semakin menyadari minimnya hak politiknya, namun mereka masih tidak mampu menghubungkan fakta tersebut dengan perjuangan yang mereka jalani sehari-hari, tak mampu menemukan jalan terbaik yang dapat membawa mereka menuju kebebasan dan emansipasi dalam bentuk nyata. Perempuan pekerja masih dengan naïf-nya menerima uluran bantuan dari kalangan feminis borjuis. Pencari suara (suffragette) feminis borjuis berusaha memenangkan hati perempuan pekerja dengan harapan mereka akan berpihak padanya, mendapatkan dukungan dan mengarahkan mereka untuk menjadi feminis idealis dan tidak memihak kelas manapun, yang inti sebenarnya adalah menjadikan mereka pendukung aliansi feminis. Namun, insting kelas yang sehat dan rasa tidak percaya yang kuat kepada ’perempuan cantik’ menyelamatkan perempuan pekerja dari godaan untuk tertarik pada feminisme dan mencegah terjalinnya persahabatan erat dengan kalangan pencari suara untuk kaum borjuis.

Tahun 1905 dan 1906 ditandai oleh banyaknya jumlah pekerja perempuan yang semangat menghadiri berbagai pertemuan perempuan. Mereka mendengarkan dengan hati-hati ide-ide pencari suara borjuis, tetapi apa yang ditawarkan tidak memuaskan bagi mereka yang sudah terbiasa diperbudak oleh kapital, maupun mendapatkan tanggapan berarti. Para perempuan kelas pekerja terlanjur letih oleh kondisi kerja yang berlebihan, kelaparan, dan rasa tidak aman secara materi; tuntutan utama mereka adalah: jam kerja yang lebih pendek, upah lebih baik, perlakuan yang lebih humanis dari sisi administrasi pabrik, pengurangan pantauan oleh polisi dan kebebasan lebih untuk beraksi. Semua tuntutan tersebut dirasa asing oleh kalangan borjuis. Para pencari suara melakukan pendekatan kepada perempuan pekerja dengan paham dan aspirasi feminis yang sempit, dan tak dapat memahami tabiat perilaku kebangkitan pergerakan perempuan pekerja. Mereka luar biasa kecewa terhadap kalangan pekeja rumah tangga. Memprakarsai rapat pertama pekerja rumah tangga di St. Petersburg dan Moscow tahun 1905, pencari suara borjouis mendapat tanggapan baik dimana sejumlah besar pekerja rumah tangga menghadiri undangan ini. Namun, ketika Aliansi untuk Kesetaraan Perempuan mencoba untuk mengkoordinir mereka sesuai dengan selera dan kebiasaan kaum borjuis – seperti membentuk aliansi ideal yakni membentuk aliansi gabungan antara nyonya rumah tangga dan pembantu rumah tangga – para pekerja rumah tangga berpaling dan tergesa-gesa bergabung dengan partai kelasnya untuk kemudian membentuk serikat dagang mereka sendiri. Hal ini terjadi di beberapa kota seperti Moscow, Vladimir, Penza, Kharkov dan beberapa kota penting lainnya. Kejadian serupa dialami oleh organisasi politik perempuan lain yang lebih ’kanan’, Partai Progresif Perempuan (The Women’s Progressive Party), yang berusaha mengatur pelayan rumah tangga untuk berada di bawah pengawasan penuh majikannya. Aksi pergerakan perempuan pekerja tak terbendung,  jauh melebihi batasan dan perkiraan kalangan feminis. Sejak 1905, berita mengenai aksi para pekerja rumah tangga berlimpah ruah diliput berbagai surat kabar, bahkan aksi terjun langsung di daerah bagian Rusia yang paling terpencil sekalipun. Aksi-aksi ini dapat berbentuk aksi mogok massa atau demonstrasi di jalan-jalan. Aksi mogok diikuti oleh tukang masak, tukang cuci baju dan pembantu; dimana aksi mogok bisa terbagi berdasarkan profesi maupun aksi yang menyatukan seluruh pekerja rumah tangga. Aksi protes pekerja rumah tangga ini menyebar bagaikan virus infeksi dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Tuntutan para pekerja rumah tangga ini biasanya terbatas pada jam kerja (8 jam per hari), upah minimun, tempat tinggal layak (kamar terpisah), perlakuan sopan dari majikan, dan masih banyak lagi. Kebangkitan perempuan untuk berpolitik ini tidak terbatas di kalangan miskin kota saja. Utuk pertama kalinya di Rusia, petani perempuan Rusia dengan teguh dan persisten menyuarakan pendapatnya. Akhir tahun 1904 dan sepanjang 1905 merupakan periode berlangsungnya ’perlawanan rok dalam’ atau ’petticote rebellions’, dan terhenti oleh meletusnya perang melawan Jepang. Seluruh kejadian mengerikan dan ketidakberdayaan yang dialami, seluruh kepahitan ekonomi dan  sosial yang berakar dari perang terkutuk tersebut memberatkan hidup para petani perempuan, para istri dan para ibu. Peran sebagai pemain cadangan memberikan beban ganda (kerja dan rasa khawatir) pada pundak mereka yang sudah kelebihan beban, dan memaksa mereka – yang hingga kini selalu tergantung dan takut akan segala sesuatu di luar lingkup kepentingan domestiknya – untuk berhadapan langsung dengan kekerasan dan untuk selalu sadar atas penghinaan dan ketidakberdayaannya, hingga titik darah penghabisan menderita dan disalahgunakan haknya… Buta huruf dan teraniaya, petani perempuan meninggalkan rumah dan desa mereka untuk pertama kali dalam hidupnya, bergegas menuju kantor pemerintahan demi mencari informasi atas keberadaan suami, anak atau ayah mereka, untuk mencari pertolongan finansial sekaligus membela kepentingan mereka…. Tak adanya hak hidup layak, kebohongan dan ketidakadilan sistem sosial yang berlaku, terlihat jelas di wajah para petani perempuan yang kebingungan…Mereka kembali dari pusat kota sadar, terluka dan keras hati, dengan memikul pahit, benci dan amarah di hati mereka….

Di musim panas 1905, serangkaian ’petticoat rebellions’ pecah di Rusia utara. Dengan penuh rasa marah dan keberanian yang mengejutkan, perempuan petani menyerang kantor pusat militer dan kantor pusat polisi untuk kemudian menculik kerabat laki-laki mereka dan membawa mereka pulang. Dengan bersenjatakan sekop, sapu dan pacul, petani perempuan berhasil mengusir tentara bersenjata dari kampung mereka. Mereka memprotes keadaan perang yang menyakitkan dengan cara mereka sendiri. Petani-petani perempuan tersebut tentu saja kemudian ditahan, diganjar hukuman berat, namun aksi ’petticoat rebellions’ terus berlanjut. Pada aksi protes ini, kepentingan petani dan kepentingan ’keperempuanan’ saling bersentuhan karena memang tak ada dasar untuk memisahkan satu sama lainnya, dan mengkelaskan ’petticoat rebellions’ sebagai bagian dari gerakan feminis.

Setelah demonstrasi politik yang dilakukan oleh para petani perempuan, kemudian muncul serangkaian ‘perlawanan rok dalam’ atau ’petticoat rebellions’ yang tergerak oleh alasan ekonomi. Perode itu merupakan masa-masa resah petani seluruh sedunia dan aksi demo di bidang agrikultur. Perlawanan ’rok dalam’ sering menggagasi kericuhan ini, menarik para lelaki untuk turut bergabubg dengan mereka. Apabila mereka gagal menarik para lelaki, tak jarang gerakan perlawanan perempuan ini berjalan sendiri menuju rumah-rumah bangsawan borjuis untuk menyuarakan tuntutan dan memberikan ultimatum. Mensenjatai diri dengan barang apapun yang tersedia, mereka mendahului para lelaki untuk memutuskan diri dari hukuman hidup. Petani perempuan yang teraniaya, ditekan ratusan tahun, tiba-tiba menjadi pemeran utama dalam drama politik Rusia.

Selama revolusi berlangsung, petani perempuan selalu bersanding bersama-sama dengan kerabat pria mereka dalam menjaga dan membela kepentingan-kepentingan petani, dan dengan luar biasa bijaksana dan sensitif hanya menyuarakan kebutuhan eksklusif perempuan apabila tidak membahayakan kepentingan petani secara keseluruhan. Hal ini tidak berarti petani perempuan mengabaikan atau tidak peduli akan kebutuhannya sebagai perempuan. Malah sebaliknya, kehadiran petani perempuan di arena politik dan partisipasi mereka dalam jumlah besar dalam perjuangan proletar, justru membangkitkan dan mengembangkan kesadaran atas sisi feminine mereka. Pada bulan November 1905, petani perempuan propinsi Voronezh mengirimkan dua dari perwakilannya untuk hadir di kongres petani dengan instruksi khusus agar mereka menuntut hak-hak politik dan kebebasan perempuan dalam basis yang setara dengan laki-laki.[2]

Populasi petani perempuan Caucasus membela hak-hak mereka dengan teguh. Petani Perempuan Guria pada pertemuan di propinsi Kutaisi menuntut resolusi persamaan hak politik antara perempuan dengan laki-laki. Pada pertemuan di kota-kota besar maupun di pinggiran kota, para delegasi yang mewakili warga lokal, termasuk perempuan Georgia, menuntut hak-hak mereka sebagai perempuan.

Sembari menuntut kesetaraan hak politik, petani perempuan secara alami selalu menyuarakan pendapat mengenai kepentingan-kepentingan ekonomi mereka; seperti permasalahan pembagian tanah yang sangat dikhawatirkan oleh baik petani perempuan maupun petani laki-laki. Di beberapa daerah, petani perempuan yang pada awalnya mendukung keputusan pemerintah untuk menyita kepemilikan tanah pribadi, mulai menyurutkan dukungan ketika muncul pertanyaan apakah perempuan akan dilibatkan dalam menentukan besarnya pembagian tanah.

“Jika kepemilikan tanah pribadi akan diambil alih dan disita dari pemilik tanah dan hanya akan diberikan kepada laki-laki, maka perempuan benar-benar sudah diperbudak” para perempuan berargumentasi kesal. “Saat ini setidaknya kami dapat menghasilkan sedikit uang hasil jerih payah kami sendiri dari bertani, dan jika pemerintah hanya akan memberikan tanah kepada laki-laki, hal ini berarti perempuan memperkerjakan dirinya untuk laki-laki”. Namun ketakutan para petani perempuan tersebut tidak terwujud, dimana kalkulasi sederhana ekonomi  mengharuskan perserikatan petani menutut pemerintah untuk juga memberikan tanah kepada perempuan. Kepentingan antara petani laki dan perempuan saling berkaitan erat dimana para lelaki, dalam usahanya memperkuat perjanjian-perjanjian pertanian untuk kepentingannya sendiri, secara otomatis turut memperjuangkan kepentingan ekonomi rekan petani perempuan mereka.

Seiring usaha mereka memperjuangkan kepentingan politik dan ekonominya, petani perempuan juga belajar untuk membela hak dan kepentingan mereka sebagai seorang perempuan. Hal serupa terjadi pada pekerja perempuan; partisipasi mereka dalam keseluruhan gerakan kebebasan bahkan melebihi perjuangan petani perempuan, yakni menyiapkan dan mengatur opini publik agar setuju dan mendukung ide persamaan hak perempuan. Gagasan atas persamaan hak asasi perempuan yang kini sudah diterapkan di Rusia, disebarkan ke masyarakat bukan oleh usaha heroik perempuan secara individu, bukan juga oleh perjuangan kaum borjuis feminis, tetapi lebih dikarenakan oleh banyaknya jumlah massa petani dan pekerja perempuan yang merebak pada revolusi Rusia pertama tahun 1905.

Di tahun 1909, sebuah buku berjudul “The Social Basis of The Women’s Question” menyerukan dukungannya kepada petani perempuan dan menegaskan ketidaksepakatannya terhadap kaum feminis borjuis: “Jika petani perempuan berhasil memperbaiki keadaan domestik, ekonomi dan posisi hukumnya dalam waktu dekat ini, maka keberhasilan itu semata-mata merupakan  buah dari rasa kesatuan demokrasi para petani yang bertujuan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kepentingan petani, yang satu sama lain akan terus terdengar dalam lingkungan pergaulan petani”. “Jika petani perempuan berhasil membebaskan kaumnya dari kungkungan organisasi agraris yang berkuasa saat ini, maka mereka akan mencapai keberhasilan jauh melebihi apa yang seluruh organisasi kaum feminis borjuis mampu berikan”.

Kalimat-kalimat tersebut ditulis puluhan tahun yang lalu, namun kini telah terbukti kebenarannya. Revolusi Besar Oktober tak hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar seluruh petani (perempuan dan laki-laki) dimana pemerintah mengembalikan kepemilikan tanah kepada mereka yang mengolahnya, tetapi juga menempatkan petani perempuan pada posisi terhormat sebagai warna negara yang bebas, sederajat harkat dan martabatnya di seluruh aspek kehidupan, walau hingga kini masih diperbudak oleh metode bertani kuno dan tekanan sosial seperti tradisi dan adat istiadat keluarga.

Apa yang hanya merupakan mimpi bagi petani dan pekerja perempuan di awal revolusi Rusia pertama tahun 1905, kini telah terealisasi dalam kehidupan nyata oleh Revolusi Besar Oktober tahun 1917. Perempuan Rusia berhasil mendapatkan persamaan hak politiknya. Namun mereka tak boleh lupa, bahwa keberhasilan ini dapat tercapai bukan dihasilkan oleh kerjasama dengan pencari suara borjuis, melainkan oleh rasa persatuan dan kesatuan saat berjuang bersama dengan pemimpin kelas pekerja mereka.***


[1] State Duma adalah parlemen terendah dalam jenjang pemerintahan Rusia. Berdasarkan Konstitusi Rusia tahun  1993 terdapat 450 perwakilan di dalamnya (Pasal 95), dimana masing-masing terpilih untuk masa kerja empat tahun (Pasal 96). Usia minimum bagi warga Negara Rusia untuk dapat menjadi perwakilan di State Duma adalah 21 tahun (Pasal 97). Sumber www.economicexpert.com (keterangan, ditambahkan oleh penyunting)

[2] Tuntutan diminta oleh petani perempuan dari propinsi Voronezh dan Tver kepada First State Duma dan juga oleh petani perempuan dari desa Nogatkino yang dikirimkan melalui telegram kepada wakil Aladyn. Bunyi tuntutan tersebut adalah sebagai berikut: “Pada kesempatan yang indah …, kami, petani perempuan dari desa Nogatkino, menyambut baik wakil-wakil terpilih yang telah menyuarakan ketidakyakinan mereka atas pemerintahan, dan kami menuntut agar pemerintahan ini mundur. Kami berharap para wakil rakyat yang didukung oleh rakyat untuk memberikan kebebasan dan hak tanah kepada rakyat, membuka pintu penjara dan membebaskan rakyat yang telah berjuang untuk kebebasan dan kesejahteraannya, dan agar mereka dapat memperjuangkan hak sipil dan hak politik baik untuk mereka sendiri maupun untuk kami, perempuan Rusia, yang tidak memiliki hak bahkan di dalam keluarga kami sekalipun. Ingatlah bahwa budak perempuan tidak dapat menjadi ibu dari seorang warga Negara ‘bebas’”. (Tertanda, juru bicara perempuan untuk 75 perempuan Nogatkino).***

Membaca Pemikiran Alexandra Kollontai (2)

BAGIAN II

HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL

Sejarah Hari Perempuan Internasional

Dalam Kata dan Imaji

Oleh: Joyce Stevens[1]

Asal-Muasal

Lahir diwaktu krisis dan turbulens ekonomi, Hari Perempuan Internasional (HPI) mewarisi tradisi dari aktivitas politik dan protes. Di tahun-tahun sebelum 1910,  menjelang abad 20, perempuan di Negara-negara industri yang sedang berkembang mulai memasuki lapangan kerja.

Pekerjaan mereka terpisah secara seksual, terutama di sektor tekstil, manufaktur dan jasa domestik dengan kondisi kerja dan imbalan tidak layak. Serikat-serikat pekerja  mulai berkembang dan perselisihan industrial mulai terjadi, termasuk bidang perempuan pekerja yang tidak bergabung dalam serikat pekerja. Di Eropa, api revolusi mulai tumbuh.

Perubahan-perubahan banyak terjadi dalam kehidupan perempuan, yang menolak/mendorong pembatasan politik yang membelenggu mereka. Di seantero Eropa, Inggris, Amerika dan Australia, perempuan  dari seluruh strata sosial mulai melakukan kampanye untuk hak atas suara. Beragam alasan yang berbeda akan mengapa isu ini begitu penting serta bagaimana mencapainya.

Beberapa kaum sosialis melihat tuntutan untuk hak suara perempuan sebagai sesuatu  yang tidak penting dalam gerakan kelas pekerja, ketika yang lainnya seperti Clara Zetkin dari Jerman dan Alexandra Kollontai di Rusia berhasil berjuang untuk hak pilihnya untuk diterima sebagai bagian penting dari program sosialis. Kaum sosialis lainnya berpendapat bahwa lebih penting untuk berjuang bagi hak-hak kepemilikan (property rights) dalam  hubungannya dengan hak pilih ketimbang berkampanye untuk hak pilih bagi perempuan, di mana, jika berhasil di Inggris, akan berimplikasi terhadap memilih bagi kepemilikan perempuan.

Ada  pembagian lain dalam gerakan di Inggris tentang cara  gerakan tersebut dijalankan dari atas dan tentang taktik radikal yang diadopsinya. Sylvia Pankhurst berbeda jalan dengan ibunya dan saudara perempuannya tentang isu di atas, perdebatannya menekankan pada hubungan antara massa perempuan, yang berarti juga mengangkat kepedulian dari eksplotasi kelas pekerja perempuan. Dia juga berargumen bahwa puntuk menarik dukungan (suffragette) gerakan haruslah dihubungkan dengan semua kelompok-kelompok yang diopresi.

Tahun 1903 di Amerika Serikat, serikat pekerja perempuan dan perempuan professional liberal juga melakukan kampanye untuk hak memilih bagi perempuan yang dikembangkan oleh Liga Serikat Pekerja Perempuan untuk mengorganisir perempuan mendapat imbalan bekerja ditengah kesejahteraan ekonomi dan politik. Kondisi ini merupakan tahun-tahun yang pahit bagi banyak perempuan yang mengalami kondisi kerja dan rumah yang didera kemiskinan, seringkali juga mengalami kekerasan.

Di 1908, pada minggu terakhir Pebruari, perempuan sosialis di Amerika Serikat memulai Hari Perempuan yang pertama kalinya ketika demonstrasi besar-besaran terjadi untuk mendesakkan hak pilih dan hak-hak ekonomi dan politik bagi perempuan. Setahun kemudian, 2,000 orang menghadiri  demonstrasi Hari Perempuan di Manhattan.

Pada tahun 1909, pekerja perempuan garmen memulai pemogokan umum. 20-30,000 pembuat pakaian berdemonstrasi selama 12 minggu musim dingin untuk gaji dan kondisi kerja yang lebih baik. Liga Serikat Pekerja Perempuan memberikan dana penjamin bagi para pelaku pemogokan yang ditahan dan jumlah lebih besar lagi untuk pendanan pemogokan.

Di tahun 1910 Hari Perempuan diusung oleh para sosialis dan feminis di seantero negeri. Setahun kemudian, sebuah delegasi menghadiri Konperensi Internasional Sosialis Perempuan Kedua di Kopenhagen dengan maksud agar Hari Perempuan menjadi acara internasional. Pemikiran mengenai solidaritas internasional antara pekerja yang tereksploitasi di dunia telah lama menjadi prinsip sosialis, walaupun banyak yang tidak mengetahuinya. Ide mengorganisir perempuan secara politis sebagai perempuan lebih kontrovesial ketimbang gerakan sosialis. Namun, pada masa itu, Partai Sosialis Jerman telah memiliki pengaruh kuat dalam gerakan sosialis internasional dan partai telah melakukan perjuangan untuk hak-hak perempuan, termasuk para pemimpinnya seperti Clara Zetkin terinspirasi oleh aksi-aksi dari pekerja perempuan Amerika Serikat dan saudari-saudari sosialis mereka,  Clara Zetkin; telah mengkerangkakan sebuah tawaran untuk konferensi perempuan sosialis dari seluruh dunia haruslah fokus pada hari khusus setiap tahunnya untuk menekankan tuntutan mereka. Konferensi yang dihadiri oleh lebih dari 100 perempuan dari 17 negara, mewakili serikat-serikat pekerja, partai-partai sosialis, kelompok perempuan pekerja, termasuk tiga perempuan pertama yang dipilih menjadi anggota parlemen Finandia, menyetujui usulan Zetkin yang menghasilkan persetujuan bulat untuk adanya Hari Perempuan Internasional.

Konperensi ini juga menekankan pentingnya hak perempuan untuk memilih,  memisahkan dirinya dari sistem pemilihan berdasarkan hak-hak kepemilikan dan menyerukan dukungan universal– hak untuk memilih bagi perempuan dan laki-laki dewasa. Suara yang tidak sepakat dari keputusan ini berasal dari kelompok Inggris yang dipimpin oleh Ny. Despard dari Liga Pembebasan Perempuan (the Women’s Freedom League), kelompok yang aktif terlibat dalam gerakan mencari dukungan. Konferensi juga menghimbau adanya perlindungan kelahiran (maternity), disamping adanya intervensi Alexandra Kollontai atas nama ibu-ibu yang tidak menikah, hanya untuk perempuan menikah. Juga diputuskan untuk menentang pekerja di malam hari karena akan merusak kesehatan bagi sebagian besar perempuan pekerja, walaupun perempuan pekerja dari Swedia dan Denmark merasa bekerja di malam hari mendukung kehidupan mereka.***

Dari Arsip Perempuan dan Revolusi

Hari Perempuan Internasional :

Hari Raya Kaum Proletar[2]

Untuk hari Perempuan Internasional tahun ini, 8 Maret, kami mencetak ulang artikel dari jurnal Spartacist League, Perempuan dan Revolusi (Women and Revolution/ W&R) dalam hadirnya kelas pekerja di hari raya ini. Di tahun 1971, W&R memulai beberapa publikasi di lingkaran para perempuan, yang termasuk juga laki-laki, yang diinisiasi oleh Spartacist League untuk mengintervensi program revolusioner menjadi gerakan perempuan kiri baru yang radikal. Tahun 1973, W&R menjadi jurnal Komite Pusat Komisi Bekerja diantara Perempuan, yang mengekspresikan pengertian kita bahwa perjuangan akan kebebasan perempuan adalah pekerjaan revolusioner yang pionir menentukan keseluruhannya. Berdasarkan penghargaan kita terhadap pekerjaan Lenin dan Trotsky di dunia komunis internasional, kami melihat adanya kebutuhan untuk membangun divisi perempuan sebagai bagian pionir dari kaum proletar untuk memperluas pengaruhnya dalam meluaskan lapisan-lapisan kelas pekerja dan perempuan minoritas, serta menariknya ke gerakan revolusioner.

Substansi dari Perempuan dan Revolusi merefleksikan pemahaman materialis terhadap penindasan perempuan yang berakar di “masyarakat kelas”. W&R memuat skala luas pertanyaan-pertanyaan sosial, dari mulai seksualitas manusia serta budaya untuk yang membudayakan pendegredasian perempuan di negara-negara dengan perkembangan kapitalis yang terbelakang, dimana perjuangan akan hak-hak perempuan adalah kekuatan penggerak perlawanan revolusioner. Sementara keberadaan Perempuan dan Revolusi ditunda sebagai publikasi independen pada tahun 19197 sebagai ukuran penting untuk mengkonsolidasikan sumber-sumber yang sulit dikonsolodasikan, Perempuan dan Revolusi dipublikasikan saat ini dalam bentuk Spartacist, jurnal dari Liga Komunis Internasional (Internasionalis Keempat).

Artikel berikutnya dicetak dari W&R No. 8 (Spring 1975).

Feminis Borjuis dapat merayakannya- Hari Perempuan Internasional- tetapi hari itu adalah hari raya para pekerja. Berlatarbelakang tahun 1908, diantara pekerja perempuan penjual jarum di Manhattan’s Lower East Side, yang berjalan bersama dibawah slogan “bekerja delapan jam sehari,” “akhiri pekerja anak-anak,” dan “hak yang setara bagi perempuan”, yang diadopsi pada Second International pada tahun 1911.

Hari Perempuan Internasional untuk pertama kali dirayakan pada 1913 dimana saat itu diberitakan secara luas di harian Bolshevik, Pravda, dan dipopulerkan lewat beberapa klub dan kelompok masyarakat yang dikontrol oleh organisasi-organisasi Bolshevik, yang mewakili analisa Marxist terhadap penindasan perempuan dan program emansipasinya. Pada tahun berikutnya, Kaum Bolshevik ini tidak hanya melakukan agitasi untuk Hari Internasional Perempuan di harian Pravda (yang selanjutnya dipublikasi dengan nama Put Pravdy), tetapi juga membuat persiapan untuk mempublikasi jurnal khusus yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan terhadap pembebasan perempuan di Rusia dan di dunia internasional. Namanya adalah Rabotnitsa (Perempuan Pekerja), dan isu pertama yang dijadwalkan keluar pada Hari Perempuan Internasional tahun 1914.[3]

Persiapan untuk hari raya ini dilakukan dalam kondisi yang serba tidak pasti. Segera setelah hari-hari panjang penantian dari para editor Rabotnitsa- dengan satu pengecualian- juga kaum Bolshevik lainnya yang telah melakukan agitasi untuk Hari Perempuan Internasional di pabrik-pabrik di St. Petersburg, ditahan oleh polisi (Kaisar) Tsar. Selain penahanan ini, kaum bolshevik melangkah lebih jauh dalam persiapan mereka. Anna Elizarova— saudara perempuan Lenin dan satu-satunya anggota dewan penyunting yang lolos dari penahanan—sendirian memastikan isu perdana Rabotnitsa terbit di tanggal 8 Maret (atau, menurut kalender Rusia adalah 23 Pebruari) sesuai yang dijadwalkan.

Clara Zetkin, tokoh utama di Partai Sosial Demokrasi Jerman dan dalam gerakan internasional perempuan pekerja menulis:

“Salam bagi anda semua atas keputusan yang berani untuk mengorganisir Hari Perempuan, selamat bagi anda yang tidak kehilangan keberanian dan menolak duduk berdiam diri. Kami bersama anda, hati dan jiwa kami. Anda dan gerakan anda akan diingat terus dalam berbagai pertemuan yang diorganisir untuk Hari Perempuan di Jerman, Hongaria dan Amerika.”

—Dikutip dari A. Artiukhina, “Proidennyi Put’,”

Zhenshchina v Revoliutsii

Sampai sekarang perayaan yang paling penting dari Hari Perempuan Internasional terjadi di Petrograd pada tanggal 8 Maret 1917 ketika pekerja tekstil perempuan di kota tersebut memimpin pemogokan massal lebih dari 90,000 pekerja— pemogokan yang menandakan berakhirnya 300 tahun dinasti Romanov dan permulaan bagi Revolusi Rusia.  Seminggu sesudahnya,  Pravda (surat kabar di Rusia) berkomentar:

“Hari pertama revolusi— adalah Hari Perempuan, hari internasional perempuan pekerja. Semua didedikasikan untuk internasional! Kaum perempuan  adalah yang pertama membanjiri jalan-jalan di Petrograd pada hari perempuan.”

Ketika posisi perempuan mengalami penurunan dibawah Stalin dan penerusnya, sebagai bagian dari penurunan dari seluruh pekerja di Soviet, Hari Perempuan Internasional bertransformasi dari hari internasional solidaritas proletar menjadi ritual kosong seperti Hari Ibu di Amerika Serikat yang memuja peran tradisional perempuan dalam keluarga.

Tetapi Hari Perempuan Internasional bukanlah perayaan untuk keibuan atau persaudarian; mengabaikan fakta ini adalah mengabaikan aspek-aspek signifikan dari sejarah dan tujuannya, yang mana harus memperkuat tingkatan dari revolusioner proletar. Tidak seperti masa sebelum perang Mensheviks yang menginginkan konsiliasi feminis dari hari mereka dengan membatasi perayaan hanya pada Hari Perempuan Internasional, kaum Bolsheviks bersikukuh bahwa hari itu haruslah menjadi hari libur bagi perempuan dan laki-laki pekerja dalam perjuangan bersama. Sebagaimana Nadezhda

Krupskaya menulis dalam artikel utama di isu pertama Rabotnitsa:

“Yang mana akan menyatukan pekerja perempuan dengan pekerja laki-laki lebih kuat daripada yang akan memisahkan mereka. Mereka bersatu dalam ketiadaan hak-hak mereka, kebutuhan bersama, kondisi bersama, yang berjuang untuk tujuan bersama …. Solidaritas antara pekerja laki-laki dan perempuan, aktivitas bersama, tujuan bersama, jalan bersama untuk tujuan ini— adalah solusi dari pertanyaan ‘perempuan’ diantara para pekerja.”

Hari ini, program Bolshevik untuk kesetaraan penuh perempuan telah dibawa lebih lanjut oleh Liga Spartacist. Kami bangga untuk mempublikasikan sejarah sebenarnya dari Hari Perempuan Internasional, sebagai bagian dari warisan revolusioner kita, dan kita akan merayakannya dengan forum publik di seluruh negeri menampilkan analisis Marxist tentang penindasan perempuan dan program serta strategi untuk menghancurkan penindasan itu.

Sebagaimana kita mendalami pengaruh kita dalam kelas pekerja, kita akan menantikan untuk perayaan masa depan Hari Perempuan Internasional, tidak hanya melalui propaganda, tetapi juga melalui inisiasi dari rentang kegiatan-kegiatan yang secara tradisional diasosiasikan dengan hari libur proletar ini – pemogokan umum, perlawanan, revolusi! Untuk pembebasan perempuan melalui revolusi proletar!

“Di bawah pimpinan internasional ke tiga, hari perempuan pekerja akan menjadi hari perjuangan sejati; ini akan berbentuk ukuran-ukuran praktis dimana baik mensolidkan penalkukan komunisme…atau persiapan cara untuk kediktatoran bagi kelas pekerja”. --Alexandra Kollontai

V.I. Lenin dan Kongres Perempuan Pertama

Oleh: Alexandra Kollontai[4]

Sumber: Vladimir Ilyich Lenin. Reminiscences. 1900-1922, Moscow, 1963, Halaman 221-223.

Vladimir Ilyich adalah salah seorang yang memulai keterlibatan masif perempuan dari kota-kota dan desa-desa dalam pembangunan Negara sosialis. Uni Soviet  memiliki posisi yang unik di dunia dalam hal ini. Tidak ada perbandingannya di negara-negara lain.

Di setiap Negara di dunia, perempuan berjuang sendirian untuk hak-haknya, dan berhadapan dengan penolakan kuat dari pemerintahan borjuis mereka. Di banyak Negara perempuan berjuang dengan gagah berani untuk hak-haknya, tapi mereka tidak mampu untuk mendapatkan hak-haknya seperti yang dinikmati oleh perempuan di Republik Sovyet.

Keunikan dari Uni Soviet terletak pada fakta bahwa perempuan itu sendi ri  yang menuntut pemerintah hak  untuk bekerja, terhadap pendidikan dan perlindungan   ibu (motherhood), tetapi pemerintah menempatkan perempuan ke dalam setiap lapisan (sphere) perburuhan, termasuk mereka yang tidak memiliki akses mayoritas borjuis di belahan Negara, dan secara stimultan melindungi kepentingan perempuan sebagai ibu. Semua ini tertulis dalam konstitusi Soviet, yang tidak ada bandingannya di belahan dunia manapun.

… Kongres perempuan pekerja pertama memulai pekerjaan besar nya yang dipimpin oleh partai  diantara jutaan perempuan lainnya di Uni Sovyet. Vladimir Ilyich menghadiri pertemuan tersebut. Sejak hari pertama Revolusi Oktober, kekuatan Soviet  mengakui hak-hak penuh perempuan; namun, tidak semua perempuan dapat memberdayakan diri mereka sendiri.

Diantara para perempuan, sebagai hasil dari ketiadaan kesadaran kelas, telah tertipu oleh para musuhnya dalam kekuatan Soviet. Vladimir Ilyich (sekali lagi) berbicara (dan saya masih ingat dengan terang kata-katanya):

‘Bahkan jika pejuang yang paling berani di perang sipil kembali kerumahnya dan harus mendengar gerutuan dan keluhan dari istrinya, sebagai hasil dari ketiadaan sang istri akan kesadaran politik, penentang untuk keberlanjutan perjuangan untuk kekuasaan Soviet,  kemauan bahkan pejuang yang gagah berani dan pantang menyerah  mungkin akan menyerah kepada istrinya dan jatuh ke pelukannya yang berbahaya.

‘Karena itu,’ ujar Vladimir Ilyich,’kita harus membentuk massa pekerja perempuan ke dalam organisasi yang solid dalam kekuatan Soviet melawan kontra-revolusi. Setiap perempuan harus memahami bahwa, dalam perjuangan untuk  kekuatan Soviet, dia berjuang untuk hak-haknya sendiri dan untuk anak-anaknya.

Pada musim gugur[5] di tahun  1918, partai mengirim kelompok-kelompok aktif Bolsheviks ke berbagai belahan wilayah di Russia untuk menggalang kerja dengan perempuan. Saya dikirim oleh Sverdlov ke daerah Orekhovo-Zuyevo, Kineshma, Ivanovo dan tempat-tempat lainnya. Saya ingat bagaimana seorang pekerja tekstil perempuan Anuchkina mengundang saya ke rumahnya. Ia menawarkan saya secangkir teh; tidak ada roti, tidak ada gula, tetapi semangat yang tinggi. Dalam percakapan kami, kawan Anuchkina menyatakan pendapatnya bahwa sekaranglah saatnya untuk mengadakan kongres bagi perempuan pekerja dan perempuan petani. Saya menyukai ide itu, dan saya sampaikan ke Komite Sentral Partai ketika saya kembali ke Moskow. Vladimir Ilyich menyetujui penuh akan ide ini dan memberikan dukungannya.

‘Tentu saja,’ ujarnya, ‘tidak boleh ada organisasi perempuan yang terpisah, namun perlu dibangun perangkat yang tepat dalam organisasi yang diharapkan  bertanggung jawab   untuk meningkatkan kesadaran  diantara populasi perempuan ini, dan dapat memberi pelajaran bagi perempuan untuk bagaimana menggunakan hak-haknya untuk membangun Negara Soviet, yaitu untuk membangun masa depan yang lebih baik.  Perempuan harus terlibat di wilayah lokal Soviet baik di kota maupun di pedesaan, mereka harus menguasai pekerjaan praktis dan pengetahuan.

Perhatian tertentu juga harus diberikan untuk pengembangan lembaga-lembaga tersebut yang menerangkan beban keibuan perempuan agar terlibat secara aktif dalam bekerja untuk Negara dan pabrik-pabrik.

Ide-ide dan tugas-tugas yang diditekankan oleh Vladimir Ilyich membentuk dasar kerja yang didiskusikan pada kongres pertama perempuan pekerja, pada 16-21 Nopember 1918. Kelompok utama dari perempuan Bolsheviks, termasuk Nadezhda Konstantinovna Krupskaya, Inessa Armand, saya sendiri (Alexandra Kollontai) dan beberapa lainnya – kesemuanya menghasilkan laporan dan resolusi dari berbagai isu.

Saya mendapat pekerjaan untuk menyiapkan laporan dan resolusi mengenai metode kerja bagi perempuan dan tentang organisasi dari perangkat kerja partai, yaitu, menciptakan seksi-seksi perempuan. Resolusi ini disetujui oleh kongres, dan membentuk landasan kerja 10 tahun oleh seksi-seksi perempuan dalam partai.  Hal ini juga diadopsi dalam Konferensi Internasional Perempuan Komunis 1921, sebagai pedoman untuk semua pihak yang menjadi anggota Comintern.[6]

Pada saat kongres dimulai, tidak semua orang menghargai pentingnya kongres ini. Saya masih ingat tentangan muncul dari Rykov, Zinoviev dan lainnya.

Namun, Vladimir Ilyich menyatakan pentingnya kongres. Dia selalu meminta bagaimana kita terus maju dan apakah perempuan bereaksi terhadap seruan –seruan kita. Pekerjaan untuk menyiapkan kongres pertama kita tidaklah mudah. Kantor pos bekerja sangat buruk sehingga kita tidak menerima jawaban apapun dari komite partai atas permintaan kita agar mereka mengirimkan delegasinya. Berdasarkan hitungan kasar, kami memperkirakan sekitar 300 orang akan hadir. Faktanya malah mencapai 1.147. Kami mendapatkan gedung di Rumah Soviet Ketiga (Sadovo-Karetnaya St. in Moscow). Namun, kami hanya memiliki makanan hanya untuk 350 orang. Malam itu saya menerima panggilan telepon dari Podchufarova dan Baranova, yang memberitahukan: “para delegasi sudah datang, tapi jumlahnya semakin membengkak –tidak ada roti, tidak ada gula, tidak ada teh.”

Laporan tentang kongres dimuat di majalah Kommunistka, No. 11, 1923 (‘Bagaimana kami membentuk Kongres Seluruh Rusia Pertama Perempuan Pekerja dan Petani’). Vladimir Ilyich mengikuti even-even dalam kongres, dan Nadezhda Konstantinovna, anggota Presidium,   memberikan informasi atas kegiatan kongres setiap harinya. Ia memberitahukan Lenin bahwa ada anggota delegasi yang berasal dari kelompok petani perempuan miskin yang datang dengan berpakaian kulit domba dan berbicara menentang kulaks,[7] dan banyak dari mereka yang pandai bicara di depan publik. Vladimir Ilyich mengatakan bahwa dia akan menemui mereka.

Vladimir Ilyich hadir di kongres ketika Soboleva memberikan pidatonya. Kami ingin menginterupsi Soboleka, tapi Vladimir Ilyich menyatakan agar soboleka tetap berpidato sampai selesai. Namun, tentu saja, semua orang berhenti mendengarkan dia.

Pada 19 November, Vladimir Ilyich membuat pidatonya yang bersejarah yang menjadi dasar dari pekerjaan kami tentang perlindungan kau ibu dan anak-anak, serta banyak hal lainnya.

Vladimir Ilyich percaya bahwa perempuan harus diberi kesempatan kerja sebagai aparat Negara dan secara bersamaan mampu menjadi ibu. Perempuan adalah tenaga kreatif yang berharga, tetapi juga mereka memiliki hak dan kewajiban sebagai ibu. Peran-peran keibuan adalah kewajiban sosial utama. Negara Soviet sedang menerapkan ide-ide yang diajukan oleh Vladimir Ilyich Tidak hanya perempuan di Uni Soyet, tetapi juga perempuan di seluruh dunia harus mengetahui bahwa Vladimir Ilyich telah meletakkan dasar-dasar bagi kesetaraan perempuan.  Sekedar mendapatkan hak-hak hukumnya tidaklah cukup, perempuan harus tersetarakan dalam praktik. Kesetaraan perempuan   berarti memberi mereka kesempatan untuk mengasuh anak-anaknya, dan mengkombinasikan keibuan degan bekerja untuk masyarakat.

Tidak di bagian manapun di dunia, maupun sejarah ada pemikir dan negarawan yang telah melakukan banyak hal untuk emansipasi perempuan seperti Vladimir Ilyich.***


[1] Diunduh dari http://www.isis.aust.com/iwd/stevens/origins.htm, 10/6/2007 2:10:55 PM

[2] Diunduh dari http://www.icl-fi.org/print/english/wv/887/iwd.html, pada hari 10/6/2007 2:36:32 PM

[3] lihat “Bagaimana Kaum Bolshevik Mengorganisir Perempuan Pekerja: Sejarah Jurnal Rabotnitsa,” Women and Revolution No. 4, Fall 1973.

[4] Diunduh dari http://www.marxists.org/archive/kollonta/1918/congress.htm (1 of 5)10/6/2007 1:46:30 PM

[5] Musim Gugur di negara-negara yang mengenal empat musim (musim panas, musim semi, musi m gugur dan musim dingin) biasanya terjadi antara bulanAgustus – Oktober. (catatan penyunting).

[6] The Comintern (Komunis Internasional atau juga dikenal sebagai Internasional Ketiga) adalah organisasi internasional komunis yang didirikan di Moskow Maret 1919.   International Ketiga dimaksudkan untuk melawan “dengan segala cara, termasuk kekuatan bersenjata, untuk mendepak borjuis internasional dan untuk menciptakan republik Soviet Internasional sebagai tahap transisi untuk menghilangkan Negara secara total. (keterangan tambahan oleh penyunting)

[7] Kulaks adalah kategori dari petani-petani yang berpengaruh dan berkecukupan di msa akhir kekaisaran Rusia, dan di awal Uni Soviet. Kata “Kulak” semula merujuk kepada petani di masa kekaisaran Rusia yang lahir sebagai hasil dari Reformasi Stolypin yang dimulai di tahun 1906. Reformasi Stolypin menciptakan kelas baru pemilik-lahan yang dibolehkan untuk mendapatkan kredit lahan dari pemilik lahan besar.  Kredit ini (seaca hutang-pegadaian) akan dikembalikan melalui skema kerja di pertanian. Di tahun 1912 16%  (sampai 11% di tahun 1903)  petani telah memiliki lahan di atas 8 are (3.2 hektar) per anggota keluarga laki-laki (batasan yang digunakan dalam statistik untuk membedakan petani kelas menengah dengan petani kaya, seperti kulaks). Pada masa itu rata-rata keluarga memiliki 6 – 10 anak.

Menurut  Marxism-Leninism, kulak adalah kelas musuh bagi petani miskin. Dari kaca mata teori, petani miskin dan buruh perkebunan harus dibebaskan dengan revolusi bersama kaum proletar (pekerja perkotaan). Apalagi, ekonomi yang terencana membutuhkan kolektivisasi dari pertanian dan lahan untuk membuka industrialisasi dari produk pertanian berkala besar (ditambahkan oleh penyunting).

Membaca Pemikiran Alexandra Kollontai (1)

Serial Pemikiran Feminis Sosial Demokrat:

Mengenal Pemikiran Alexandra Kollontai

(1872 – 1952)

Bahan disarikan oleh  Arimbi HP dan L. Diana dari berbagai sumber

Diterjemahkan oleh Arimbi HP, L. Diana dan Airin Pradnya Paramita

Penyunting: Arimbi HP

Alexandra Kollontai di tahun 1919 menyebutkan bahwa gerakan perempuan pekerja di Rusia tidaklah terpisahkan dengan seluruh gerakan proletar.

Garis waktu Kehidupan:

  • 1870 – Vladimir Ilych Ulyanov (Lenin) dilahirkan
  • 1872 – Alexandra Mikhailovna Domontovich dilahirkan
  • 1879 – Lev Bronstein (Trotsky) dilahirkan
  • 1881 – Pembunuhan Tsar Alexander II. Memicu eksekusi publik terhadap 5 teroris, salah satunya adalah Sofya Perovskaya, perempuan yang memberi inspirasi bagi Kollontai untuk mendedikasikan dirinya bagi revolusi.
  • 1893 – Alexandra menikahi Vladimir Kollontai, putranya Misha dilahirkan satu tahun kemudian.
  • 1896 – Kunjungan Kollontai yang pertama dan mengubah kehidupannya ketika melihat kehidupan kelas pekerja di pabrik yang buruk.
  • 1898, Kollontai berpisah dengan Vladimir, dan membawa anak laki-laki mereka, Misha, dengannya.
  • 1904 – Lenin meminta Kollontai untuk bekerja bagi penerbitan Bolshevik, Kollontai bergabung.
  • 1905 – “Minggu Berdarah,” pembantaian atas aksi damai. Kollontai ada di dalam kerumunan.
  • Pada usia 45 tahun Kollontai menikahi pelaut tinggi besar berusia 28 tahun, Pavel Dybenko

Revolusi Pecah :

  • 1906 – Kollontai membangun organisasi perempuan pekerja
  • 1908 – Kollontai menulis Social Basis for the Women’s Question.
  • 1917 – Revolusi pecah, Kollontai mendukung Lenin
  • 1921 – Kollontai bergabung dengan “Pekerja Oposisi” (Workers’ Opposition) Komite yang membangkang di dalam Partai, yang kelak dibubarkan Lenin.
  • 1921 – Teks Alexandra Kollontai tentang The Workers ‘Opposition (Perlawanan Pekerja).  adalah usaha untuk memberikan justifikasi rinci bagi thesis tentang Pertanyaan Serikat Pekerja (the Trade Union Question), yang diajukan oleh   Pekerja Oposisi (Workers’ Opposition) untuk didiskusikan di Kongres 101 (Maret 1921)
  • 1923-26 – Idenya tentang perkawinan dan moralitas seksualitas mendapat banyak kritik.
  • 1930an – 40-an – Kollontai bekerja dalam berbagai pos diplomatik dan posisi penasehat.
  • 1952 – Alexandra Kollontai meninggal dunia karena serangan jantung.

BAGIAN I

TENTANG ALEXANDRA KOLLONTAI

New Picture (7)Alexandra Kollontai adalah revolusioner dan salah satu pemimpin utama dari Partai Bolshevik di era Revolusi Rusia 1917. Tahun 1920-21 ia menjadi pemimpin oposisi pekerja dalam partai. Sejak tahun 1923 dia mengundurkan diri dari aktivitas politik langsung dan menjadi diplomat dan duta besar Soviet untuk Norwegia, Mexico dan Swedia.

Kollontai menjadi pionir dalam menganalisis penindasan perempuan dengan perspektif sosialis dan marxis dan dalam mengembangkan pekerjaan politik diantara kelompok buruh perempuan. Ia  mengembangkan banyak ukuran-ukuran praktis untuk menjelaskan situasi perempuan di awal-awal revolusi. Banyak dari buah pikirannya dikategorikan kontroversial di masanya, namun kemudian ditemukan-kembali dan diangkat oleh gerakan pembebasan perempuan di tahun 60 dan 70-an. (redflag.org.uk).

Alexandra Kollontai adalah figur utama dalam gerakan sosialis Rusia dari peralihan abad menuju revolusi dan perang sipil. Selama periode pengucilannya, ia menjadi pembicara dan penulis aktif di Jerman, Belgia, Perancis, Inggris, Skandinavia dan Amerika Serikat. Lahir dari keluarga kaya dengan latar belakang Ukrania, Rusia dan Finlandia, Kollontai dibesarkan di Russia dan Finlandia, dan mendapatkan kefasihan berbahasa sejak dini yang tidak saja membantunya dalam gerakan revolusioner, tetapi kelak menunjang  karirnya dalam pelayanan diplomatik Soviet. Ia memainkan peran penting dalam memaksa gerakan sosialis Rusia untuk mengorganisir kerja khusus diantara perempuan dan mengorganisir gerakan-gerakan massa dari perempuan kela pekerja dan petani, dan penulis dari berbagai aturan sosial di awal berdirinya Republik Soviet. (listserv.cddc.vt.edu).

Antara April dan Juni 1921, ditengah Kongres Komunis Internasional Ketiga, Alexandra Kollontai memberikan 14 kuliah di Sverdlov University tentang pekerjaan perempuan dalam evolusi ekonomi. Ini ditujukan untuk perempuan pekerja dan perempuan petani yang menjadi anggota atau simpatisan dari partai Bolshevik. Kepentingan substantif mereka sangat nyata, sebagai bandingan dari teks-teks di periode itu tentang pertanyaan mengenai pembebasan perempuan. Untuk usaha sistematis atas masalah yang diperdebatkan oleh kaum revolusioner tentang penindasan spesifik dan eksploitasi perempuan, menunjukkan kekayaan pemikiran Kollontai dan pengetahuannya mengenai sejarah dan antropologi. Ia beranjak lebih jauh dengan mempelajari asal-muasal penindasan perempuan dan mempertanyakan keluarga serta seksualitas tradisional. Mungkin lebih dari semua sisa pekerjaan politiknya, novel dan otobiografinya,  kuliah-kuliah ini mengungkapkan kontradiksi di mana ia berjuang untuk memerdekakan dirinya sendiri. Hal ini tetap saja tidak menyeluruh kecuali mereka ditempatkan dalam konteksnya masing-masing: tidak hanya ganggungan ekonomi dan politik serta guncangan terhadap semua nilai-nilai borjuis sebagai buah revolusi, tetapi juga kesulitan ekonomi yang besar yang mempengaruhi keterbelakangan Rusia,  terutama sesudah Perang Sipil. (newleftreview.org)

Teks Alexandra Kollontai tentang The Workers ‘Opposition (Perlawanan Pekerja) ditulis dalam bahasa Rusia, di awal tahun 1921. Ini adalah usaha untuk memberikan justifikasi rinci bagi thesis tentang Pertanyaan Serikat Pekerja (the Trade Union Question), yang diajukan oleh  Perlawanan Pekerja (Workers’ Opposition) untuk didiskusikan di Kongres 101 (Maret 1921)  Partai Komunis Uni Soviet (Thesisnya dipublikasikan di Pravda, 25 Januari, 1921). Dokumen ini segera diterbitkan di Inggris (April 22 – August 19, 1921) dan diterbitkan ulang di Chicago setahun kemudian. Di Russia,  disirkulasikan di Kongres ke-10, tapi segera diberangus  (sebagai akibat  Workers’ Opposition dianggap melanggar hukum), diikuti pemberangusan organisasi yang telah dipilih dalam Kongres. Solidarity menerbitkan kembali teks Kollontai di tahun 1961. Publikasi tersebut mendapat sambutan hangat (dilihat dari sisi penjualannya) namun sangat sedikit komentar. (geocities.com)

Alexandra Kollontai: Revolusioner

Oleh: Conrad Moore

Refleksi Pribadi

Cerita mengenai Alexandra Kollontai sangatlah menarik karena tidak hanya menjadi jendela untuk memahami rusia di masanya, tetapi juga menunjukkan bagaimana sejarah rusia tersebut dialami oleh perempuan.  Perempuan sangatlah jarang diperbincangkan dalam aliran sejarah utama (mainstream) sebagaimana adanya, tetapi untuk mempelajari dan memahami bagaimana kehidupan bagi perempuan di era Kollontai menjadi penting, ini membantu untuk melihat kondisi pada masa itu lebih tajam.

Tahun 1917 Bolshevik tumbuh di Russia menandakan permulaan dari era baru. Tidak pernah sebelumnya kemanusiaan menyaksikan revolusi seperti ini. Russia, Negara yang memiliki reputasi sejarah di mata rekan sejawatnya sebagai “terbelakang”, secara drastis berubah dari monarki menjadi Negara sosialis. Di seluruh Uni Soviet metamorfosis ini terjadi. Dalam era inilah seorang perempuan bernama Alexandra Kollontai tumbuh dan berusaha untuk berhadapan dengan era pertanyaan perempuan tua (the age old Woman Question). Gagasannya tentang cinta  dalam hubungannya dengan pertanyaan di atas telah memimpin ia dari rumah jenderal aristokrat rusia menuju ke koridor-koridor pemerintahan Sovyet yang baru dan segala sesuatu di atasnya.  Alexandra membawa perspektif tunggal kepada rusia dan sejarah perempuan, sebuah perspektif yang hanya bisa dijalankan oleh seorang perempuan dari pengalaman dan kehidupan Kollontai yang unik.

Alexandra Kollontai lahir 19 Maret  1872.  Ayah Alexandra Kollontai adalah Jenderal aristokrat Rusia Mikhail Domontovich,  yang memiliki ide liberal, namun sebagai pegawai kaisar Tsar, tentu saja ia tidak dapat mengembangkan ide-idenya tersebut.[1] Tentu saja benih-benih pemikiran Kollontai kelak tetap ditanam dari kedua orangtuanya. Kelak Kollontai menulis secara mengagumkan perkawinan kedua orang tuanya yang kontroversi. Ibunya adalah  petani biasa dan ayahnya berasal dari kelas bertanah. Perkawinan antar kelas sudahlah cukup dianggap skandal, tetapi lebih buruknya, ibunda  Alexandra harus memutuskan ikatan perjodohannya sebelum menikahi Mikhail. Jadi, telah terjadi sebelum masanya Alexandra sebuah contoh dari cinta yang bertentangan dengan norma-norma yang diterima masyarakat.

Masa kecil Kollontai dihabiskan dengan mempelajari bahasa Jerman, Inggris, dan Perancis, juga membaca banyak buku di perpustakaan ayahnya.[2] Pada usia 16 tahun orang tuanya berkeinginan untuk membawa Alexandra ke pasar perjodohan di St. Petersburg, tetapi Alexandra muda memilih yang lain. Dia menolak keras gagasan orang tuanya, dengan menggunakan argumentasi perjodohan ibunya yang gagal. Keinginan sejatinya adalah meneruskan studi ke luar negeri, namun ahirnya ia memilih tinggal dan menulis.[3] Walaupun demikian pertarungannya dengan perkawinan masihlah jauh dari selesai. Lamban laun ia jatuh cinta dengan putra dari teman keluarganya, seorang kapten muda bernama Vladimir Kollontai. Semula, kedua orang tuanya tidak setuju,  namun ketika Alexandra mengancam akan meninggalkan rumah, mereka mulai melunak. Alexandra muda berpikir bahwa ia telah berhasil  meloloskan diri dari takdir yang diwarisi ibunya, dengan menikahi orang yang dicinta, tetapi, pernikahannya inilah yang akan memandunya menuju api filosofi dan intelektual. Api ini yang akan menjadi katalis dalam kerja-kerjanya di masa mendatang.

Perkawinan Alexandra dan Vladimir membuahkan seorang anak laki-laki. Perempuan Rusia di era Kollontai diharapkan hidup dan tinggal di rumah mengurus keluarga dan anak-anaknya. Pendomestikan adalah ideologi umum di masa itu. Ideologi dalam budaya kaum Eropa, yang subur di Eropa Barat dengan kerasnya pekerjaan industri dan pandangan bahwa perempuan kelewat ringkih dan anggun untuk dikotori oleh kerasnya perburuhan.

Walaupun Russia bukanlah Negara industrialis seperti Negara-negara di sekelilingnya, pendomestikan perempuan juga bersarang disitu, didukung oleh pemikiran yang opresif dan konservatif selama berabad-abad. Gaya hidup domestik terbukti seperti penjara bagi kapasitas dan pikiran Alexandra Kollontai. Ia mulai merujuk Vladimir, sang suami, sebagai ‘tiran’-nya, dan menunggu terjadinya “revolusi melawan tirani cinta.”[4] Cinta pada masa itu seperti penjara.

Ia mulai menulis tentang peran perempuan dalam masyarakat Rusia. Ketika ia bertemu Vladimir, Kollontai adalah seorang pelajar di St. Petersburg. Disanalah ia mulai bergeser dari pembelajaran populis yang ia kembangkan dalam bacaan masa kecilnya, menuju Marxisme. Sejalan dengan kehancuran perkawinannya dengan Vladimir, Alexandra melihat marxisme sebagai pedoman. Jika para pekerja diperbudak oleh kapitalis, begitu juga perempuan yang diperhambakan oleh laki-laki. Hubungan ini sangat jelas bagi Kollontai. Nyala api politiknya semakin membara di tahun 1896 ketika ia dan Vladimir mengunjungi pabrik yang dikelola Vladimir. Ketika Kollontai melihat kondisi yang mengerikan, ia mulai marah. Pertengkarannya dengan Vladimir dan pemikiran politiknya semua bercampur dalam satu tempat.

Ia sekarang melihat bagaimana ia bisa berguna. Alexandra Kollontai ingin membantu pekerja itu dan, lebih penting lagi, perempuan, untuk mensetarakan mereka dalam rantai masyarakat. Ia memulainya dengan dirinya sendiri. Di tahun 1898,  ia meninggalkan Vladimir untuk selamanya dengan membawa putranya, Misha, bersamanya.

Pencariannya telah membawa dia ke partai Bolshevik. Dibawah organiser militan yang dikenal sebagai “nom de plume Lenin”, Kollontai akhirnya menemukan tempatnya. Ia mengunjungi pabrik-pabrik dan berusaha untuk mengorganisir perempuan pekerja di sana. Ia menemukan bahwa ide-idenya bertentangan dengan pemikiran feminis ‘borjuis’ lainnya. Beberapa feminis mendoronghak pilih bagi perempuan, dan melalui ini, mereka berpikir, lahir kesetaraan. Kollontai melihat ini sebagai mimpi di siang bolong. Bahkan jika perempuan mendapat hak untuk memilih, mereka masih tetap tertindas dalam dominasi masyarakat laki-laki dan kapitalis.

Akhirnya kaum Bolshevik meraih kekuasaan, yang membawa perubahan radikal di negeri itu sepanjang sejarahnya.  Lenin, kawan lama Kollontai, memimpin gerakan tersebut dan menempatkan dirinya sebagai pemimpin dari pemerintahan Soviet yang baru. Tetapi ketika banyak pikiran-pikiran Kollontai mulai diterapkan, akhirnya sampai pada titik di mana Alexandra berbeda pendapat dengan Lenin,  area yang akan menimbulkan riak diantara mereka dan membuat Kollontai kehilangan kekuasaan politiknya. Area ini, tentu saja, sang Pertanyaan Perempuan (the Woman Question).

Selama bertahun-tahun jawaban Kollontai terhadap Pertanyaan Perempuan telah  beranjak  jauh diatas pandangan sosial di masa itu. Para pengkiritknya menjuluki dia sebagai penganjur dari “cinta bebas,” sebua ide dari seks kasual tanpa cinta. Faktanya, ide-ide Kollontai sama sekali tidak mempromosikan seks bebas. Ia memfokuskan kepada dua hal yang dalam pandangannya tidak dapat dipisahkan: kehidupan privat dan publik. Ditengah tuduhan politik yang intens di awal berdirinya Uni Soviet, Kollontai berjuang untuk  membangun alas an yang masuk akal antara cinta dan kewajiban sipil. Lebih penting lagi, apa artinya lingkungan baru ini bagi cinta dan perempuan? Ia menulis:

Berapa banyak energi dan waktu kita sia-siakan dalam setiap tragedi cinta kita yang tidak berkesudahan dan komplikasinya! Tapi ini adalah juga kita, sang perempuan… yang mengajarkan diri kita dan kaum muda bahwa cinta bukanlah hal yang terpenting dalam hidup perempuan. Dan itu adalah jika ia harus memilih antara cinta dan pekerjaan  yang seharusnya tidak disukainya: ini adalah pekerjaan, pekerjaan kreatif yang dimiliki perempuan, yang memberinya sattu-satunya kepuasaan nyata dan membuat hidupnya berharga untuk kehidupan.[5]

Tulisannya kemudian dapat menggambarkan  pandangannya tentang bagaimana cinta bekerja. Dalam ”Cinta Lebah Pekerja” (Love of Worker Bees), sebuah karya fiksi, Kollontai menjelaskan apa yang ia lihat sebagai hubungan yang destruktif  yang dipenuhi cinta. Sebuah cerita pendek dalam buku itu, “Tiga Generasi” (“Three Generations,”) menguraikan kesulitan perempuan melalui tiga generasi berbeda dan dan bagaimana mereka bergulat dengan ideologi yang diterima di masa mereka. Generasi terbaru melihat tanpa keraguan tentang seks di luar hubungan yang romantis. Dalam menjelaskan bagaimana  cinta fisik yang murni mengubah hambatan emosi dari tindakan sederhana atas kesenangan (simple act of pleasure). Salah satu karakternya: Zhenya berkata: “… Saya tidak menjadi bagian dari siapapun sebagai musuh – ketika saya berhenti menyukai mereka ini berarti semua sudah berlalu”[6] Bagi Kollontai, cinta adalah bagi mereka yang menikah. “Jika anda mencintai seseorang, maka anda akan berpikir tentang dia, anda akan mengkhawatirkannya”.[7] Cinta yang tidak mendapat tempat dalam kehidupan Alexandra Kollontai. Promosinya sebagai kepercayaan ideal perempuan bermuasal dari “kerja kreatif” yang memuaskan perempuan. “Cinta bebas” dalam hal bahwa seks adalah pemberian dan diambil secara bebas dan tidak beraturan, bukanlah ide yang dipromosikan Kollontai. Ia, ingin melihat perempuan mampu untuk menikmati kegiatan perkawinan tanpa gangguan dari kedekatan emosi.

Konsep ini, ketika sudah lebih berkembang, menjadi terlalu radikal, bahkan untuk seorang seperti Lenin. Perkawinan tidaklah stabil dalam Uni Soviet yang masih baru. Kollontai telah mengangkatnya ke tempat yang bergengsi dalam Partai, karena jabatannya sebagai Menteri (Commissar) Kesejahteraan Sosial dan anggota Komite Eksekutif Soviet. Ketika ide-idenya berbeda dari Lenin, maka Lenin mulai menganggap Kollontai sebagai gangguan. Citranya kelewat terlalu dikenal publik untuk diserang secara terbuka, maka sebagai gantinya Kollontai ditempatkan sebagai duta besar untuk Norwegia. Pada sisa hidupnya dia banyak mengisi pos-pos diplomatic, suaranya dibisukandan termarjinalkan di Uni Soviet. Ketika Stalin memegang tampuk kekuasaan, peran domestik perempuan meningkat. Dengan rencana industrialisasi yang rigid dan  permohonan yang agak dogmatis untuk kemajuan melalui perjuangan nasional, perempuan terpanggil untuk prokreasi untuk bangsa, bagi kejayaan Uni Soviet. Ketika Stalin menyapu bersih Partai dari mereka yang dianggap pembelot, menjadi jelas bahwa ide-ide Kollontai tidak dapat diterima lagi di Rusia. Stalin bukanlah orang yang dapat ditentang.

Determinasi dan semangat Alexandra Kollontai tidaklah dapat diabaikan. Walaupun ia mungkin tidak menyadarinya ketika ia hidup, ia telah membuat langkah besar dalam pencarian jawaban atas Pertanyaan Perempuan. Para feminis, apakah mereka sosialis atau bukan, tidak dapat menyangkal kekuatan buah pikirannya. Mobilisasi Kollontai atas pekerja perempuan dan diagnosisnya terhadap efek cinta romantis atas perempuan dan masyarakat adalah pelopor di masa itu dan masih valid berlaku sampai sekarang. Tanpa Alexandra Kollontai lensa untuk melihat  di mana masyarakat menguji hubungan antara perempuan dan laki-laki akan sangat berbeda. Hasil kerja Kollontai yang terus menjadi bahan studi adalah kesaksian dari kekuatannya.***

Bibliography

  • Braun, Tina. “Peace Profile: Alexandra Kollontai.” Peace Review. (June, 1998)
  • Kollontai, Alexandra. Love of Worker Bees. (Chicago 1978)
  • Palencia, Isabel. Alexandra Kollontai: Ambassadress from Russia. (New York 1947)
  • Porter, Cathy. Alexandra Kollontai: The Lonely Struggle of the Woman who Defied Lenin. (New York, 1980)
  • Slaughter, Jane and Kern, Robert. European Women on the Left: Socialism, Feminism, and theProblems Faced by Political Women, 1880 to the Present. (London, 1981)
  • Alexandra Kollontai Image Gallery at: http://www.marxists.org/archive/kollonta/images/index.htm

******

THE MENSHIVIK, BOLSHEVIK, STALINIST FEMINIST

(Feminis Menshivik, Bolshevik, dan Stalin)

Oleh Simon Karlinsky, mengajar sastra rusia pada Universitas California di Berkeley, diterbitkan 4 Januari 1981

Jika saja seseorang memberitahukan kepada Alexandra Kollontai sekitar tahun  1910 bahwa ada sebuah buku tentangnya dengan judul “Feminis Bolshevik”, ia pasti akan  tercengang. Sebagai pendukung faksi Menshevik dari Marxist Rusia sebelum Perang Dunia I, Kollontai semula menentang kelompok  Bolshevik – Lenin, dengan kampanye mereka tentang revolusi melalui konspirasi dan kekerasan. Ia juga ditentang selama tahun-tahun gerakan Rusia dan internasional feminis, yang melihatnya sebagai usaha perempuan borjuis untuk mengalihkan energi dari perjuangan menuju revolusi proletar yang akan datang. Namun, sepuluh tahun kemudian, Kollontai menjadi anggota Komite Sentral Bolshevik yang melancarkan Revolusi Oktober, kedudukan tertinggi yang diraih perempuan dalam pemerintahan Soviet yang pertama dan advokat yang fasih tentang kesetaraan sosial dan kesetaraan seksual bagi perempuan.

Agak terlupakan menjelang kematiannya di tahun 1952, Kollontai belakangan menjadi obyek dari penemuan kembali di Uni Sovyet. Para pembuat biografinya dan para penyunting yang mensensornya menerbitkan kembali tulisan dan bukunya dengan meminimalkan perannya dalam Menshevik di masa lalu, pertentangannya dengan Lenin dan ketertarikannya akan kebebasan seksualitas. Mereka lebih menekankan kepada loyalitasnya ke Bolshevik dan karir diplomatiknya di era Stalin. Dengan meningkatnya ketertarikan akan isu feminisme dan Marxisme di Barat, penemuan kembali Kollontai dapatlah diramalkan. Sepanjang tahun 1970-an tulisan teoritis Kollontai diangkat kembali dalam bentuk terjemahan baru oleh berbagai penerbit di  Jerman Barat, Inggris dan Amerika Serikat. Cassandra Editions di Chicago telah menerbitkan koleksi tulisan fiksi Kollontai, ”Love of Worker Bees” (Cinta dari Lebah Pekerja). Sekarang kita punya tiga biografinya dalam bahasa Inggris, yang mencari, dengan berbagai derajat keobyektifan, untuk menggambarkan peran sejarah Kollontai dan untuk menempatkan ide dan pengalamannya secara tepat ke tren hidupnya feminis baru di alam demokrasi barat. Dua orang penulis biografinya, Barbara Evans Clements dan Beatrice Farnsworth, adalah dosen sejarah di universitas di Amerika (Akron University dan Wells College). Sedangkan Cathy Porter adalah cendekia lepas yang berdiam di London.

Radikalisasi Alexandra Kollontai dalam tahun-tahun terakhir dari Abad 19 diikuti oleh pola yang tipikal bagi rusia di eranya, tetapi tidak  dikenal di dunia barat  sampai sekarang. Alexandra Kollontai lahir dari keluarga aristokrat dan kaya di tahun 1872. Ayahnya, seorang jenderal dalam tentara Tsar, secara rahasia membiayai pendidikannya tentang Marxisme di Zurich dan kemudian membantu menyembunyikan leaflet revolusioner illegal dari polisi. Suaminya,Vladimir Kollontai, seorang militer (Ia membawa nama suaminya sampai akhir hidupnya),   setuju untuk mengakhiri perkawinan mereka yang singkat dan mengasuh putra mereka ketika Alexandra memutuskan untuk menjadi revolusioner sepenuhnya dan mengabdikan dirinya  untuk menghancurkan keistimewaan-keistimewaan dari kelas di mana ia dilahirkan. Tidak seperti perempuan revolusioner kelas atas  lainnya, Kollontai tidak pernah melepaskan perilakunya yang elegan dan pakaian-pakaiannya yang penuh gaya. Baju bulunya yang terbungkus rapi, dan tipe topi ”My Fair Lady”-nya yang kelak akan sangat kontras dengan aktivitasnya sebagai Komisaris Rakyat untuk Kesejahteraan Sosial (People’s Commissar of Social Welfare) dan retorika Leninnya yang membakar.

Karir politik kollontai dapat dibagi dalam tiga tahap, yaitu: Menshevik, Bolshevik dan Stalinist. Masa Mensheviknya dengan rapi dirangkum dalam bab  yang berjudul Heckling the Feminist di dalam buku karya Cathy Porter. Selama enam dekade sesudah revolusi Oktober, gerakan feminist di Russia mengalami evolusi yang kompleks dan menghasilkan capaian-capaian yang mengagumkan.

Pertengahan abad 19 khotbah George Sand tentang setiap hak perempuan untuk pemenuhan persolan dan oleh John Stuart Mill mengenai lembaga-lembaga keluarga yang memperbudak perempuan di lahan subur di Rusia. Serial tulisan pertama yang didedikasikan untuk pembebasan perempuan (tetapi ditulis dan disunting oleh laki-laki),  The Dawn (Rassvet), terbit di 1859. Dalam dekade paska reformasi 1860-an, terdapat komunitas perempuan di setiap kota-kota utama. Partisipasi mereka untuk mencari  kehidupan yang produktif dan bermakna di luar struktur keluarga dan sosial yang ada. Perempuan penuh energi dan informasi seperti Maria Trubnikova, Anna Filosofova (Sergei Diaghilev adalah kemenakannya) dan kemudian  Countess Sophia Panina oposisi pemerintah untuk mendukung akses perempuan atas pendidikan tinggi serta meningkatkan kondisi kehidupan dari perempuan pekerja di pabrik. Melewati abad 19, perempuan rusia melalui pendidikannya sampai tingkat universitas, memasuki lapangan kerja medis dan lapangan kerja profesional lainnya, mengorganisir gerakan koperasi dan terlibat dalam berbagai macam kegiatan yang tidak pernah terbayangkan oleh dunia barat yang melihat era sebelum revolusi di rusia hanyalah sebatas kerajaan tsar dan  teroris. Dengan dukungan dari seluruh partai politik sesudah revolusi 1905, hampir semua partai radikal dan liberal menempatkan persamaan perempuan sebagai salah satu platform mereka. Kenaikan gerakan feminis Rusia meraih titik tertingginya ketika satu bulan sesudah runtuhnya dinasti Romanov, pemerintahan propinsi dibawah Alexander Kerensky memberikan hak sipil dan politik penuh bagi perempuan, termasuk hak suara. (ini terjadi beberapa tahun sebelum perempuan di Amerika mendapatkan hak suaranya).

Feminis rusia memiliki dua musuh tangguh: kaum reaksioner kanan, yang percaya bahwa tempat perempuan adalah di rumah; dan gerakan marxis. Akar dari segala penindasan, menurut pendukung marxis adalah ekonomi. Kaum proletar, baik laki-laki maupun perempuan, dieksploitasi oleh kaum borjuis, dan revolusi proletar akan menyudahi eksploitasi itu. Sebelum revolusi, setiap kepedulian mengenai kesetaraan perempuan, setiap usaha untuk memperjuangkan hak perempuan atas hak pilih, kesempatan kerja yang setara  atau kesempatan meraih pendidikan tinggi terpecah  dan kontra-revolusi. Dalam area ini, pendukung marxis di Rusia mengikuti contoh dari temannya di Jerman. Ketika di tahun 1901, tokoh Marxis jerman Lily Braun menerbitkan bukunya ”Die Frauenfrage,” di mana dia bicara melebihi masalah-masalah ekonomi dan menganalisa penindasan perempuan sebagai seks, Ia dicela oleh  Clara Zetkin dan dikeluarkan dari gerakan marxis internasional. Kontribusi Alexandra Kollontai kepada kampanye anti-feminis yang dilancarkan kaum marxis adalah mitranya dari kelompok perempuan pekerja yang mengganggu kongres nasional feminis rusia dengan meneriakkan slogal-slogan dan publikasi di tahun 1909 dalam bukunya yang berjudul “Basis-basis Sosial dari Pertanyaan Perempuan (”The Social Bases of the Woman Question,’), sebuah buku 400 halaman yang berisi kecaman tajam mengkritisi para pemimpin dari gerakan feminis.

Tahap Bolshevik Kollontai dimulai ketika ia membuat pembedaan dengan Lenin di tahun 1915, persesuaian terjadi  ketika mereka bergabung selama Perang Dunia I. Ketika revolusi liberal demokratik terjadi di bulan Pebruari 1917,  Kollontai adalah murid dari Lenin.  Untuk beberapa tahun ke depan, kehidupannya penuh dengan aktivitas. Sebagaimana penuturan oleh para penulis biografinya yang memiliki kedipan-kedipan dari film melodrama bisu. Kollontai sempat dipenjara sesaat oleh pemerintah provisional. Ia terlibat dalam keputusan Lenin dan Trotsky untuk mendapatkan kekuasaan dan mendapat ganjaran kedudukan di tingkat paska-kabinet (Sophia Panina menjadi Menteri Kabinet dalam Pemerintah Provisional, sehingga kelompok  Bolshevik merasa mereka tidak dapat melakukan apapun). Kollontai memimpin detasemen dari pelaut revolusioner dalam menduduki biara Alexander Nevsky yang dimuliakan di  Petrograd, sebuah aksi yang ditetapkan sebagai persekusi bagi penganut religius yang merupakan gambaran umum kehidupan Soviet sampai sekarang.

Di tengah itu semua, pada usia 45 tahun Kollontai menikahi pelaut tinggi besar berusia 28 tahun, Pavel Dybenko (Pemimpin Bolshevik bereaksi atas perbedaan usia mereka seperti pelaku gosip kampungan). Kemudian  Dybenko menghadapi tuntutan pengadilan karena desersi, atas bantuan Kollontai nama Dybenko dapat dibersihkan, kemudian pasangan ini memulai serial perjalanan yang fantastis melewati perang sipil yang memecah Rusia Selatan yang diantaranya juga membuat perkawinan mereka tercerai-berai. (Kollontai menggambarkan hubungan romannya dalam sebuah kunci musik (clef), ”Vasilisa Malygina.”)

Itu adalah masa ketika Kollontai mulai berkonsentrasi untuk mengamankan hak-hak kesetaraan dan sejumlah kecil kekuasaan untuk perempuan. Namanya sering dihubungkan dengan perkembangan yang disambut gembira di tahun-tahun itu dengan legalisasi aborsi, akses ke perceraian, perlindungan kehamilan dan kelahiran dan pendirian biro khusus dari partai komunis untuk mengorganisir dan mengindoktrinasi perempuan,  Zhenotdel.[8]

Ketiga biografi ini mencantumkan dokumentasi yang memilukan dari kekejian pemimpin laki-laki Bolshevik kepada setiap program, peraturan atau organisasi yang ditujukan khususnya bagi kepentingan perempuan,  dari keutuhan konstan Kollontai dan perempuan lainnya dalam hierarki Bolshevik untuk berpura-pura bahwa kepedulian mereka akan isu perempuan tidak ada hubungannya dengan ideologi yang merendahkan feminis sebagai ‘para peminta persamaan hak”. Jadi, aborsi dilegalkan hanya sebagai ukuran sementara, untuk memenuhi kebutuhan perang sipil; legalisasi secara terbuka dinyatakan untuk melayani kepentingan kolektif, bukan untuk kepentingan individual perempuan yang membutuhkan sebuah aborsi. Tidak ada ilustrasi yang lebih baik dari warga Negara kelas-dua ini dalam masyarakat baru ini daripada cerita bagaimana kantor-kantor Zhenotdel harus dipindahkan ke pojok terpencil dari gedung pusat partai,  sehingga ‘keberisikan’ perempuan tidak mengganggu kawan (comrade) laki-lakinya ditengah-tengah kerja penting mereka.

Seharusnya ini memang tidak perlu diperdebatkan bagi mereka yang familiar dengan kebencian Lenin akan perempuan (misogini). Ketika Lenin dapat menulis  secara mengesankan tentang eksploitasi ekonomi terhadap perempuan, dia juga meminta istrinya dan mertua perempuannya untuk melayani kepentingan dia sepenuhnya. Dalam surat-suratnya, ‘berpikir seperti perempuan’ atau ‘beraksi seperti perempuan’  adalah tuduhan terburuk yang dapat ia lontarkan kepada laki-laki lainnya. Pandangan Lenin tentang partisipasi perempuan dalam proses politik dapat dilihat dari perilakunya di Konferensi Internasional Perempuan Sosialis, yang diadakan di Bern tahun 1915. Sebagaimana diterangkan oleh Beatrice Farnsworth, Lenin secara eksklusif memilih delegasi dari perempuan Bolshevik, dipimpin oleh istrinya, Nadezhda Krupskaya, dan kekasihnya, Inessa Armand, menulis kertas-kertas posisi dan pidato. Dan dari meja dekat restauran menginstruksikan mereka apa yang harus mereka sampaikan dalam konferensi itu. Seorang feminis liberal Ariadna Tyrkova, teman sekolah Krupskaya, diberitahukan oleh Lenin bahwa ketika Lenin mendapatkan kekuasaan, Lenin ingin melihat bahwa orang seperti tyrkova digantung di lampu-lampu jalanan. Surat-surat Lenin kepada Inessa Armand dan percakapannya dengan Clara Zetkin menunjukkan bahwa Lenin memandang bahwa kebebasan seksual itu menjijikan.

Perkiraan Kollontai adalah bahwa ia dan perempuan lainnya dapat menjalankan kekuasaan politik yang riil dalam pemerintahan Soviet,  ketidakpeduliannya tentang  standar ganda  seksual dan persistensinya bahwa masyarakat Soviet diubah menjadi utopia sosialis dengan mengabaikan harga kemanusiaan yang terikat untuk berbentrokan dengan pandangan Lenin dan Trotsky. Utopia kollontai diinspirasikan bukan dari sumber-sumber Marxist, tetapi dari sekuel mimpi yang terkenal dalam novel Nikolai Chernyshevsky’s di tahun 1863 yang berjudul ”What Is to Be Done?” (Apa yang Harus Dilakukan?) -novel yang mempengaruhi gerakan revolusioner rusia secara keseluruhan tidaklah dapat terhitung. Chernyshevsky menggambarkan masyarakat yang ideal di masa datang, di mana seluruh masalah sosial dan personal dapat dipecahkan dengan  merumahkan seluruh populasi dalam asrama-asrama pendidikan, memberi makan mereka dalam ruang makan komunal, memelihara para anak dalam pemeliharaan komunal dan berbagi semua pekerjaan. Ini, bagi Kollontai, adalah esensi dari komunisme. Chernyshevsky memperkirakan utopianya akan berkembang setelah beberapa abad; tetapi Kollontai, dalam gaya Bolshevik, menginginkan segera terjadi.

Selama kesusahan dan kekurangan di era perang sipil, penguasa Soviet telah mencoba untuk memperkenalkan institusi kolektif ini. Tetapi ruang-ruang makan komunal menyajikan makanan yang buruk,  tempat cucian komunal mencuci pakaian robek, dan dalam tempat – tempat pengasuhan anak ala Bolshevik malah mengakibatkan anak-anak mati kelaparan (semisal anak perempuan dari penyair Marina Tsvetaeva). Kollontai tidak begitu peduli dengan penderitaan kemanusiaan seperti ini. Dia mendukung mobilisasi buruh paksa oleh Trotsky (yang mana bahkan beberapa kaum Bolshevik menyebutnya sebagai bentuk baru dari perbudakan) karena perempuan dimobilisasi bersama dengan laki-laki dan dikelompokkan ke dalam unit-unit buruh, di mana ia meyakini akan meningkatkan kesadaran mereka. Kollontai menentang Kebijakan Ekonomi Baru (New Economic Policy/NEP) yang dicanangkan Lenin, yang telah menyelamatkan negara dari bahaya kelaparan dengan menghentikan surat perintah brutal yang meminta gandum dan ternak dari petani dan membolehkan petani untuk menarik bayaran atas apa yang telah mereka produksi. Bagi Kollontai, ini malah menguntungkan para petani atas proletariat urban.

Konfrontasi besar Kollontai dengan para pemimpin partai terjadi di bulan Januari 1921 atas apa yang dikenal sebagai Oposisi Pekerja. Seperti banyak hal di Uni Soviet, ini tidaklah mencerminkan apa yang tersirat dari penamaan itu. Itu adalah penawaran dari sekelompok fundamentalis dalam Bolshevik, dipimpin oleh Kollontai, untuk memaksa Lenin untuk menerapkan utopia Marxist-Chernyshevskian. Diantara tuntutan mereka adalah penutupan NEP, kolektivisasi dari pertanian, pelucutan industri dari ahli yang dilatih keteknologian sebelum revolusi (karena berpotensi sebagai mata-mata), dan pengusiran dari partai komunis terhadap siapapun yang tidak berasal dari kelompok proletar. Tidak satupun dari penulis biografi yang baru menyampaikan  keirasionalan dan kekejaman yang utuh dari program yang diajukan Kollontai ini. Dengan persepsi, program ini dapat dibaca sebagai kombinasi antara revolusi budaya di Cina dan di Kamboja di bawah rezim Pol Pot.

Setelah kekalahan Oposisi Pekerja, Kollontai dikirim ke pengucilan terhormat ke luar negeri sebagai duta besar Soviet, pertama untuk Norwegia dan kemudian untuk Swedia. Tulisan-tulisannya tentang kesetaraan seksualitas perempua dan kecintaanya akan fiksi di  awal 1920-an, yang mencerminkan pengalaman kehidupan seksnya yang tidak  konvensional ketimbang realitas di Soviet, segera saja mendiskreditkan dirinya dalam kampanye ke media yang dikembangkan oleh Krupskaya. Ironisnya, pada saat yang bersamaan mereka sama-sama menunjukkan minat oleh psikologis dan sosiologis asing sebagai bukti dari hak-hak yang belum terjadi sebelumnya dan kebebasan seksualitas yang dinikmati oleh perempuan dalam sistem Soviet.

Sejak tahun 1923, Kollontai tidak lagi menunjukkan kepedulian feminisnya. Sampai akhir karirnya, ia loyal kepada Stalin. Dia tidak keberatan atas peraturan yang patriarkal di tahun 1926 dan Konstitusi 1936, yang menekan perempuan Soviet dari  berbagai capaian yang didapat sesudah revolusi februari dan oktober. Dia menulis-ulang sejarah dan memalsukan perannya dalam memoarnya di tahun 1930-an. Dia tidak protes ketika mantan suaminya, mantan kekasihnya dan beberapa kawan lamanya dibantai dalam rangka pembersihan organisasi. Kolektivitas petani yang brutal yang mengirim jutaan petani ke kamp Gulag, dan menjebak banyak ahli teknis sebagai mata-mata asing, padahal hal itulah yang diperjuangkan Kollontai di tahun 1921 dahulu.

Beatrice Farnsworth adalah sejarawan terlatih, yang tulisan-tulisannya mengenai topik Soviet saya kagumi. Tujuan dari bukunya mengenai Kollontai, sebagaimana disebutkan sejak awal, adalah ”untuk meyakinkan para pembaca bahwa Bolshevisme awal berbeda secara kuantitatif dari Stalinisme yang datang kemudian.”  Untuk mencapai ini,  Professor Farnsworth mendasari biografinya utamanya dari tulisan-tulisan Kollontai sendiri, memoir Krupskaya dan majalah-majalah perempuan di masa awal Soviet. Ini seperti menulis sejarah perbudakan di Amerika berdasarkan memoar dari para pemilik perkebunan. Buku ini menghilangkan seluruh pencapaian feminis rusia selain Kollontai sebagai pekerjaan dari ”philanthropists and patronesses.” Pujian tentang “Borjuis” digunakan dalam hampir setiap halamannya untuk mematahkan setiap orang yang tidak disepakati atau disukai Kollontai. Untuk masa terakhir karir Kollontai, Professor Farnsworth mencoba untuk mengubahnya menjadi pemberontak dan anti-Stalinist.

Sekarang, tidak seperti Bolsheviks tua yang ada di kekuasaan Stalin di Moscow, Kollontai terselamatkan di perumahannya yang mewah di Stockholm semasa pengucilannya. Walaupun demikian, dia tetap mendukung segala sesuatu yang dilakukan Stalin. Ini hanya dapat diartikan bahwa dia setuju dengan Stalin. Dengan ketiadaan perspektif moral yang mengejutkan,  Professor Farnsworth berusaha membangun simpati pembaca untuk Kollontai, salah satu arsitek orisinil dari sistem soviet, dengan melakukan perbandingan tiada berarti antara takdir Kollontai dengan takdir penyair Anna Akhmatova, salah seorang korban tragis dari sistem yang dibangun. Citra yang dibangun oleh buku ini adalah bukan Kollontai sebagaimana dia adanya, tetapi Kollontai yang diinginkan Professor Farnsworth. Ini diperkuat dengan spekulasinya bahwa Kollontai kemungkinan akan mempunyai perasaan akan isu-isu tertentu atau atas kejadian itu, atau membayangkan Kollontai bisa melakukan ini (walau nyatanya tidak).

”Bolshevik Feminist,” oleh Barbara Evans Clements, adalah salah satu dari tiga biografi yang secara faktual dapat diandalkan dan secara sejarah obyektif. Professor Clements cenderung melihat Kollontai melalui gelas kaca mungil untuk menaruh bunga mawar; tetapi, tidak seperti mereka, Barbara Evans mendasari tulisannya dengan fakta-fakta. Dia beranjak jauh di atas penulisan Bolsheviks dan pemujaannya untuk sumber-sumber tulisannya dan ia menyadari bahwa tulisan-tulisan Kollontai sendiri sering tidak berdasar. Kollontai digambarkan sebagai simpatetik (dalam pandangan saya, kadang berlebihan), tetapi tidak dalam bentuk pemujaan yang berlebihan,  juga bukan dengan sengaja didistorsikan. Dalam menggambarkan dua episode kunci dari kehidupan Kollontai,  pendudukan monastery Alexander Nevsky dan Oposisi Pekerja, ini adalah buku satu-satunya dari tiga buku yang menceritakan kepada pembaca apa yang sebenarnya terjadi.

Karena fokusnya, tak satupun dari buku ini dapat memberikan perhitungan yang tepat tentang isu feminisme di Rusia sebelum dan sesudah revolusi. Kebanyakan dapat dipelajari dari buku yang berjudul ”Women in Soviet Society,” (Perempuan dalam Masyarakat Soviet) oleh Gail Warshofsky Lapidus (University of California Press, 1978), yang saya baca bersamaan dengan tiga biografi ini. Sebuah perlakukan yang adil kepada subyek, ini juga contoh dari sejarah feminis yang paling informatif dan berharga.

Setelah cukup lama saya menaruh hormat kepada Alexandra Kollontai akan kekuatan dan reputasinya sebagai feminis dan pembebasan seksual, Saya terperangah ketika membaca tiga biografi ini dan kemudian mengecek beberapa sumber mereka membuat saya tidak menyukai Kollontai. Bertentangan dengan keinginan para penulis, buku-bukunya menunjukkan bahwa feminisme Kollontai tidak bersahabat  bagi kebanyakan perempuan (seperti petani atau kaum intelektual), didasarkan atas paksaan, dan dicerca atas kegagalan karena Kollontai membiarkan dirinya digunakan oleh kaum pria di mana retorik feminis menjadi alat untuk mendapatkan dan memperluas kekuasaan mereka. Gerakan perempuan barat modern, yang dijalankan oleh perempuan, mentoleransi perbedaan dan mencari untuk mendapatkan tujuannya melalui cara-cara non kekerasan, telah memiliki kesamaan bersama dengan figur feminis Rusia seperti Anna Filosofova atau Ariadna Tyrkova ketimbang fanatisime totalitarian Kollontai.[9]

***


[1] Cathy Porter, Alexandra Kollontai: The Lonely Struggle of the Woman who Defied Lenin, (New York, 1980)

[2] Brosur iklan salah satu kuliah Kollontai, sebagaimana dilihat dalam “Alexandra Kollontai Image Library,” http://www.marxists.org/archive/kollonta/images/ap21915.htm

[3] Cathy Porter. Alexandra Kollontai: The Lonely Struggle of the Woman who Defied Lenin. (New York, 1980)

[4] Cathy Porter. Introduction to her translation of Kollontai’s Love of Worker Bees. (Chicago, 1978)

[5] Cathy Porter. Alexandra Kollontai: The Lonely Struggle of the Woman who Defied Lenin. (New York, 1980)

[6] Alexandra Kollontai. Love of Worker Bees. (Chicago, 1978)

[7] Ibid

[8] Zhenotdel adalah Seksi Perempuan dari Komite Sentral Partai Komunis  (1919 – 1930). Sementara Komite (The Central Committee) adalah lembaga tertinggi di Partai Komunis Uni Soviet (CPSU).  Komite Sentral mengatur seluruh partai dan memerintah kegiatan antara Kongres Partai. Anggota Komite dipilih di dalam kongres setiap lima tahun sekali. (ditambahkan oleh penyunting).

[9]htp://query.nytimes.com/gst/fullpage.html?res=9E00E6D6163BF937A35752C0A967948260&sec=&spon=&pagewanted=1