Per(empoe)an

Nurhajar Setyowati

Nurhajar Setyowati

Ini sekadar tulisan tentang penggunaan kata wanita, perempoean, kaum isteri, ataupun kaum iboe. Keempat kata itu sama-sama merujuk pada makhluk yang diberi karunia organ reproduksi, dan masing-masing dari keempat kata itu pernah mengalami masa jaya. Saya, selaku perempuan yang baru berusia seper-empat abad, alias belum sampai 3 dekade saya hidup, tentu lebih mengenali kata wanita terlebih dahulu tinimbang mengenal kata perempuan dalam kosakata sehari-hari. Maklum saja, kebanyakan perempuan Indonesia memang sempat terlalu lama mengakrabi kata “wanita”, terutama semasa Ibu Tien, perempuan berdarah Mangkoenegaran itu menjadi ibu negara. Usut punya usut, kata wanita memang kait mengait dengan mereka yang tergolong perempuan priyayi. Nah tentang ini, tentu saja mesti dituliskan pada posting-an yang lain.

Lantas begitu orde baru tumbang, nama-nama organisasi perempuan yang dahulu banyak menggunakan kata wanita (ini terutama berlaku pada organisasi yang berafiliasi dengan pemerintah) mulai berganti lidah dan berubah kata menjadi perempuan. Mereka yang mengidentifikasi pikirannya dengan ide bahwa makhluk beralat kelamin vagina ini layak bersetara ria dengan para lelaki, tentu saja memilih menggunakan kata perempuan, dan merasai kelu pada lidahnya bila mesti menyebut kaumnya dengan kata wanita. Sebaliknya, mereka yang mengidentifikasi dirinya selaku barisan anti kesetaraan akan merasa berdosa bila ikut-ikutan menyebut kata perempuan, mereka serasa takut dilaknat Tuhan.

Masing-masing penganut dua kata ini, tentu telah menyusun argumen untuk mengukuhkan pendiriannya, termasuk pengguna kata perempuan. Nah, bukan kebetulan bila peristiwa monumental yang diaku dalam pergerakan perempuan Indonesia ialah perhelatan yang diberi nama Kongres Perempuan Indonesia dan bukan Kongres Wanita Indonesia. Ketika itu orang lebih mengakrabi kata perempuan ketimbang kata wanita, bahkan kata kaum isteri maupun kata kaum ibu jauh lebih populer daripada kata wanita.

Buka saja dokumen-dokumen sejarah maupun koran-koran tua kisaran masa pergerakan nasional. Anda akan mendapati ketiga kata itu(perempuan, kaum ibu, kaum istri) lebih sering dikenakan daripada kata wanita. Coba anda perhatikan juga nama-nama organisasi perempuan masa pergerakan. Tak banyak yang mengunakan kata wanita, setidaknya tidak lebih banyak daripada nama-nama perkumpulan yang menggunakan kata perempuan, isteri, iboe, maupun poetri.

Yang kebetulan justru, bahwa saya menemukan tulisan perihal arti kata perempuan dan implikasi arti kata perempuan bagi kaum ibu Indonesia. Tulisan itu dimuat dalam surat kabar Njala, organ milik pengurus besar PKI, tertanggal 9 November 1925. Saya persilahkan anda menyimaknya :

Perempoean, asal katanya empoe, yang mendapat awalan per- dan akhiran -an. Empoe berarti Toean, ketua, pemberi nasehat, petunjuk, penolong atau pendek kata suatu kedudukan yang mesti dihormati. Empoe dalam bahasa Jawa berarti tukang bikin keris dan tidak sembarang orang bisa melakukannya karena mesti berilmu tinggi dan berhati suci. Empu berarti nama dari suatu pangkat yang besar dan mulia yang terdapat dari perbuatannya.

Awalan per- dan akhiran -an menerangkan suatu perbuatan, misal bantah-perbantahan, berarti nama dari perbuatan bantah-bantahan. Perempoean ialah nama dari perbuatan empu baik itu penolong, pemberi nasehat, dan penuntun. Perempoean berarti nama angkat yang harus dihormati dan dimuliakan karena perbuatannya. Lantas perbuatan apa yang harus dilakukan perempuan agar bersesuaian dengan arti kata empoe? Maka sekalian ibu mesti memberi tuntunan pada anak-anak supaya:

  1. Mengetahui harga dirinya.
  2. Tidak merongkong-rongkong dan menyembah-nyembah seperti budak belian.
  3. Mendidik anak-anak kita supaya punya darah satria.
  4. Mendidik anak-anaknya supaya cinta tanah tumpah darah, bangsa dan sesama hidup.
  5. Memberi tahu anaknya apa rasanya orang tertindas, dan membangunkan hati mereka agar punya keberanian hati menuntut hak sebagai manusia.
  6. Bangunkan hati mereka, supaya jangan lembek hati, dan menyerahkan nasib pada orang lain.

Apa komentar anda membaca tulisan yang telah dipublikasikan 82 tahun yang lalu?

(Dikutip dari : http://hajarns.blogspot.com)

Perempuan Itu Orang Banten

Maria Ulfah Soebadio, wanita Indonesia pertama yang bergelar meester in de rechten (sarjana hukum), pernah menjabat menteri sosial pada Kabinet Syahrir, jadi anggota DPA, aktif dalam pergerakan politik. Ia wanita Indonesia pertama yang bergelar meester in de rechten alias sarjana hukum. Ia juga wanita pertama yang duduk sebagai menteri. Ia pula wanita pertama yang menjadi anggota DPA. Dan ia satu-satunya wanita yang untuk menikah perlu minta izin terlebih dulu kepada kepala negara. Ia adalah Maria Ulfah. Memang hebat, biarlah.

“Sebenarnya orang tua saya menginginkan saya menjadi dokter. Tapi saya sendiri takut melihat darah”, kata Maria (66 tahun-pada tahun 1997). Lalu karena melihat begitu banyak kaum wanita yang diperlakukan semena-mena, ia pun berniat melindungi kaumnya dari sudut hukum. Dan ia pun berhasil menggondol gelar meester itu di negeri Belanda. Ketika Sutan Sjahrir membentuk kabinet (Maret 1946), Maria diminta duduk sebagai menteri sosial. Begitu pula ketika Sjahrir membentuk kabinet lagi (Oktober 196), kursi menteri sosial diserahkan lagi kepada Maria.

Sembilan tahun kemudian, Maria dikenal orang sebagai anggota DPA. Suaminya yang pertama, Mr. Santoso, adalah bekas sekjen Departemen P dan K (menikah 28 Pebruari 1938 di Kuningan). Gugur di Yogya dalam agresi Belanda ke II, 1948. Dan pernikahannya yang kedua dengan Soebadio Sastrosatomo, tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) itu – yang dilakukan dengan minta izin dulu kepada Presiden Soekarno — memang rada menarik. Soebadio, sejak zaman revolusi bersenjata memang akrab dengan keluarga Santoso-Maria Ulfah. Tahun 1941 keluarga Maria pindah ke jalan Guntur 49, sementara Soebadio sejak zaman kolonial sudah di jalan yang sama, nomor 23.

Persahabatan cukup akrab, terutama karena sama-sama seide, meski Maria belum secara resmi menjadi anggota PSI. Dan di kalangan orang PSI pun, sepeninggal Santoso, hubungan Maria Soebadio sudah diketahui sebagai ‘membunga’. “Waktu itu saya merasa sudah bebas, karena anak angkat saya yang sudah insinyur sudah pula melangsungkan pernikahan itu tahun 1959. Jadi fikiran untuk berumah-tangga timbul kembali” tutur Maria kepada Mansur Amin dari TEMPO.

Dengan Santoso, Maria tak dianugerahi seorang anak pun. Maka diangkatnya kemenakan Santoso, Darmawan, menjadi anak. Sampailah saatnya, awal 1962, Soebadio ditahan pemerintah. Soekarang di Madiun bersama-sama Mr. Moh. Roem Prawoto Mangkusasmito, Mochtar Lubis dan lain-lain. Para tahanan tentu saja dijenguk oleh isteri dan keluarga masing-masing. “Lha pak Badio itu tak punya isteri. Paling-paling dijenguk oleh kakak dan ibunya”, kata Maria. “Kan lain keadaannya? Dan saya selalu tertarik pada orang yang sedang dalam kesulitan”, katanya. Maka kunjungan-kunjungan ke Madiun pun dilakukannya, meski tidak selalu lancar. Sebab hanya isteri saja yang secara teratur, sebulan sekali, boleh berkunjung “Lalu atas nasihat dr. Soebandrio, yang juga saya kenal, saya menulis surat kepada Bung Karno agar diijinkan menikah dengan Soebadio”, tutur Maria. Maklum, menikah dengan tahanan politik. Dr. Soebandrio ketika itu adalah wakil perdana menteri dan ketua Biro Pusat Intelijen (BPI) yang justru menahan Soebadio.

“Keputusan menikah itu saya ambil kira-kira akhir tahun 1963, bulan Oktober atau Nopermber”. Dan rupanya Bung Karno mengijinkan. Lalu Soebadio dikasih cuti 10 hari. Dikawal oleh Djoko Santoso, orang BPI, tanggal 8 Januari 1964 Soebadio tiba di Jakarta. Tanggal 10 akad nikah dilangsungkan di rumah Maria dan tinggal di sana sampai habis masa cuti. Kemudian, tentu saja, harus kembali ke rumah tahanan di Madiun. Maria lahir di Serang 18 Agustus 1911 dari keluarga Banten yang cukup terpandang. Sejak kecil sudah tampak hatinya yang keras. Sering kali timbul perbedaan pendapat dengan ayahnya. Tapi sang ayah, Moehammad Achmad bupati Kuningan, lebih sering membenarkan pendapat puterinya.

Masih muda belia, Maria sudah terjun dalam pergerakan wanita. Ia hadir pula dalam Kongres Perempoean Indonesia di Yogya. Ketika itu ia mengajar di Perguruan Rakyat dan Perguruan Muhammadiyah Jakarta. “Dalam kongres itulah saya berkenalan pula dengan tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan seperti Wilopo, Soemanang dan lain-lain”, tuturnya. Dan karena kongres itu oleh Belanda dianggap salah satu kegiatan dari pergerakan kebangsaan, maka PID (Politieke Inlichtingen Dienst, polisi rahasia Belanda) mengawasinya. Maria sendiri tak luput dari inceran PID, meski ia bukan anggota sesuatu partai politik.

Gerwani-Getol Walhasil, ayah Maria yang bupati dipanggillah oleh residen van der Plaas untuk dimintai pertanggungjawaban atas polah-tingkah anaknya. “Ayah saya menjawab: dia sudah dewasa sekarang dan saya tak bisa melarangnya”, Maria bercerita. “Saya berbahagia punya ayah yang progresif dan tidak pernah melarang saya ikut pergerakan kebangsaan”. Pikiran maju sang bupati memang kemudian terbukti. Setelah pensiun, Moehammad Achmad nasuk Parindra (Partai Indonesia Raya) yang ketika itu cukup terkenal sebagai partai nasionalis. “Akibatnya, waktu itu banyak yang jadi heboh mempersoalkan seorang pensiunan bupati kok malah justru ikut pergerakan kebangsaan melawan penjajah”, kata Maria lagi dengan bangga.

Perkenalannya dengan tokoh-tokoh kebangsaan di zaman Belanda mendorong Maria ke dunia politik. Kemudian, “saya juga kenal baik Bung Sjahrir dan sangat tertarik dengan ide-idenya”, kata Maria. “Tapi ketika itu saya belum masuk PSI”. Pada waktu masih menjanda pun, Maria sibuk dengan organisasi-organisasi wanita. Pertama kali, ia aktif dalam Perwari. Sehingga pada saat diangkat sebagai menteri sosial, “saya tidak mewakili GWS, melainkan saya semata-mata orang Perwari”, Maria menjelaskan.

GWS atau Gerakan Wanita Sosialis adalah organisasi wanita PSI. Dia juga aktif dalam Kowani (Kongres Wanita Indonesia) sebagai wakil perorangan. Selama 11 tahun, sejak 1952, ia aktif memimpin itu perkumpulan. “Tapi semasa Gerwani/PKI getol menguasai Kowani, saya sudah mengundurkan diri sama sekali”. Sekarang, Maria masih aktif dalam Kowani meski hanya tercatat sebagai sesepuh. Baru tahun 1955 ia aktif masuk organisasi politik. Ia masuk PSI.

Dengan Soebadio, Maria juga tidak dikaruniai seorang anak pun. Dan kini ia hidup dengan sejumlah uang pensiun sebagai bekas menteri dan anggota DPA, plus uang pensiun suaminya yang bekas anggota DPR. Berapa yang ia terima sebulan? Hanya dengan senyum ia menjawab. Cukupkah? “Yah, dicukup-cukupkanlah”, katanya.

Tentu saja lebih dari lumayan, sebab keluarga kecil ini sejak 10 tahun lewat juga punya simpanan deposito di sebuah bank seharga sebuah rumah di daerah Menteng. Rumah di jalan Guntur yang dihuninya kini, terletak di kawasan yang tak terlalu tenang. Bis-bis kota tak pernah sunyi lewat di depannya. Tapi rumah tua itu diatur dengan apik. Ruang tamu berisi 2 stel kursi antik dari kayu jati dengan alas rotan. Di sebelahnya berdiri lemari dan meja kecil, juga dari jati dan antik. Benda-benda porselin membebani lemari dan meja kecil itu. Dan 2 lampu duduk menambah lengkapnya peralatan.

Selama beberapa bulan terakhir, suaminya mengadakan perjalanan keliling di luar negeri. Ia sedang studi untuk penulisan sebuah buku mengenai periode perjuangan kemerdekaan yang beberapa di antaranya belum ditulis orang. Diperkirakan pertengahan Pebruari ini sudah tiba kembali di tanah air. Dan sementara itu Maria kembali ke profesi yang sejak muda dicita-citakannya: melindungi kaum Hawa secara hukum.

(Dikutip dari : www.http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/1977)

Sosok Maria Ulfah Soebadio Sastrosatomo

Perempuan Pertama di Kabunet Syahrir

Perempuan Pertama di Kabinet Syahrir

Dalam usia 73 tahun, ia masih rajin menghadiri berbagai forum yang membicarakan perkembangan dunia wanita. Datang ke seminar tentang sistem pengangkatan anak, ia dipapah. Kedua tangan kanan dan kirinya dikepit dua orang pengantarnya. Berjalan pelahan, ia memasuki ruang di gedung Badan Pembinaan Hukum Nasional di Jakarta, 1984.

Ketika istirahat, ia tidak turun ke lantai tiga untuk makan siang bersama. ”Panitia tak mengizinkan saya naik turun tangga,” katanya. Di tangga gedung itu, ia pernah jatuh hingga tulang pinggulnya patah. ”Tapi sekarang sudah sembuh,” ujarnya.

Waktu kecil biasa dipanggil Itje. Dilahirkan di Serang, dibesarkan di Kuningan, Jawa Barat. Di sana, ayahnya, Moehamad Achmad, menjadi bupati, yang menginginkan anak sulung dari tiga bersaudara ini menjadi dokter. ”Tapi saya mau memperjuangkan hak-hak wanita,” ujar Itje. ”Banyak wanita diperlakukan tidak adil, dicerai tidak boleh protes atau ke pengadilan. Hal ini amat menyakitkan hati saya.”

Dalam kesempatan sang ayah mendapat tugas mempelajari koperasi di Belanda, Itje menyertainya dan belajar di Fakultas Hukum Universitas Leiden. Di sini, ia menjadi wanita Indonesia pertama yang meraih gelar Meester in de Rechten, 1933. Pulang ke Indonesia, ia sempat bekerja di kantor Kabupaten Cirebon, selama beberapa bulan.

Tatkala di Belanda, Itje berkenalan dengan para nasionalis yang juga sedang belajar di sana. Ia masuk menjadi anggota Socialistische Studentclub. ”Yang menumbuhkan rasa kebangsaan saya, Sutan Sjahrir,” ceritanya. Itje kerap menghadiri rapat yang diselenggarakan Liga Anti-Kolonialis. Di liga ini ia berjumpa dengan Moh. Hatta.

Setelah bekerja di kantor Kabupaten Cirebon, Itje kemudian mengajar di HBS dan AMS ‘liar’ milik Muhammadiyah, juga di Perguruan Rakyat. Di sini ia kenal dengan kaum pergerakan lainnya: Wilopo, Sumanang, M. Yamin, Sahardjo, Amir Sjarifuddin. Ia pernah pula memperdalam bahasa Indonesia pada penyair Amir Hamzah.

Bekas menteri sosial dan anggota Dewan Pertimbangan Agung ini menikah dengan suami pertamanya, Mr. Santoso, 1938. Sepuluh tahun kemudian, sang suami yang menjabat Sekjen Departemen PPK (sekarang Departemen P & K), gugur dalam Agresi Kedua Belanda. Ia lalu menjanda selama 15 tahun. Itje menikah lagi dengan Soebadio Sastrosatomo.

Pernah menjabat Ketua Badan Sensor Film selama 11 tahun, ia juga ikut merintis berdirinya Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Ia penerima Satya Lencana Karya Satya Tingkat II, Satya Lencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan, dan Bintang Mahaputra Utama Kelas III.***

Akupuntur, Terapi atau Pengobatan ?

screenhunter_9Oleh : Tyas Indah Twi H – Akupunkturis Bandung

Dari kamus Collins COBUILD, saya dapatkan definisi untuk terapi (therapy) dan pengobatan (medication) sebagai berikut: - Therapy is the treatment of someone with mental or physical illness without the use of drugs or operation. - Medication is medicine that is used to treat and cure illness. - Medicine is the treatment of illness and injuries by doctors and nurses. (1) - Medicine is a substance that you drink or swallow in order to cure an illness (2).

Berdasarkan definisi di atas, nampaknya kriteria utama yang membedakan terapi dan pengobatan adalah pelaku dan ada-tidaknya penggunaan obat dalam upaya penyembuhan suatu penyakit.

punggung yang harus selalu diakupuntur dua kali seminggu...Dalam hal ini Terapi : tidak dilakukan oleh seorang dokter/perawat, tidak menggunakan obat/operasi. Pengobatan : dilakukan oleh seorang dokter/perawat, menggunakan obat/operasi.

Mungkin itulah penyebab utama kenapa akupunktur seringkali dipersepsikan sebagai suatu bentuk terapi, meskipun akupunktur sebenarnya merupakan bagian dari “Traditional Chinese Medicine” yang kalau kita terjemahkan secara bebas maka menjadi “pengobatan tradisional Cina”. Nah lo?

Jadi mana yang bener nih? Terapi atau pengobatan? Well, masing-masing orang akan punya pendapat tersendiri akan hal ini. It’s a matter of perspective. Dan nampaknya, dari perspektif medis Barat, acupuncture will always fall under the ‘therapy’-category.

Saya sendiri kadang menyebutnya ‘terapi’, dan kadang ‘pengobatan’. Tergantung mood saja. hehe…..***

(Dikutip dari : www.bandungacupuncture.wordpress.com)

Sidney Jones: Bom Carlton-Marriott Tidak Terkait Pemilu

sidney-jones-259x300Direktur International Crisis Group (ICG), Sidney Jones menduga bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton tidak ada kaitannya dengan pemilihan presiden lalu. “Dalam bom-bom sebelumnya tidak ada kaitan dengan pemilu sama sekali,” kata Sidney Jones lewat sambungan telepon, Jumat(17/7).

Menurut Sidney, aksi bom seperti ini harus direncanakan jauh sebelumnya. “Kecil kemungkinan itu dikaitkan dengan Pilpres, karena proses perencanaan harus dimulai jauh sebelumnya,” kata dia.

Dia menduga pelaku pemboman di Hotel JW Manrriott dan Ritz Carlton anggota kelompok Noordin M. Top. “Kalau benar polisi mengatakan kemungkinan bom bunuh diri, ini menuju ke kelompok lama di sekitar Noordin M. Top. Tapi itu baru spekulasi,” kata Sidney Jones, lewat sambungan telepon, Jumat(17/7).

Menurut dia, aksi kelompok Noordin dapat dilihat dengan melihat pola yang digunakan saat pemboman. “Polanya dengan bom bunuh diri dengan target hotel,” kata dia. Sidney mengatakan kelompok Noordin masih memiliki bahan peledak. Buktinya, kata dia, polisi menemukan bom rakitan siap diledakkan di Cilacap. “Kelompok Cilacap diduga kelompok Noordin,” ujarnya.

Dua ledakan yang diduga bom menghajar Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, pagi tadi sekitar pukul 08.00 WIB. Sedikitnya sembilan orang meninggal dunia. Puluhan korban luka-luka.

Sedangkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menuding ledakan bom di hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton tadi pagi dilakukan oleh kelompok teroris. Menurut dia, pemboman tersebut bisa jadi terkait hasil pemilihan umum.

(Dikutip dari : www.pemiluindonesia.com : Sumber : SUTARTO tempointeraktif)

Penetapan Nama DPD-RI 2009-2011

New Picture (4)Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan dan menetapkan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih 2009 dari 33 provinsi. Dari total 132 calon angota DPD terpilih, 36 orang adalah perempuan. Rapat pleno penetapan calon anggota DPR dan DPD terpilih di Kantor KPU (24/05) ini dipimpin oleh Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary. Rapat pleno dihadiri oleh anggota KPU serta perwakilan ataupun saksi dari partai politik dan calon anggota DPD.

Calon anggota DPD terpilih dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah Abdurrahman BTM, Bachrum Manyak, Ahmad Farhan Hamid, dan A Khalid. Dari Sumatra Utara adalah Rudolf M Pardede, Parlindungan Purba, Rahmat Shah, dan Darmayanti Lubis.

Calon DPD terpilih dari Sumatra Barat ialah Irman Gusman, Emma Yohanna, Riza Falepi, dan Alirman Sori. Dari Provinsi Riau adalah Abdul Gafar Usman, Intsiawati Ayus, Maimanah Umar, dan Mohammad Gazali. Calon anggota DPD terpilih yang berasal dari Sumatra Selatan adalah Percha Leanpuri, Aidil Fitrisyah, Asmawati, dan Abdul Aziz. Calon dari Bangka Belitung adalah Tellie Gozelie, Noorhari Astuti, Rosman Djohan, dan Bahar Buasan.

Empat calon anggota DPD terpilih dari Bengkulu, yaitu Sultan Bakhtiar Najamudin, Eni Khairani, Bambang Soeroso, dan Mahyudin Shobri. Calon DPD terpilih yang mewakili Jambi adalah Elviana, M Syukur, Juniwati T Masjchun Sofwan, dan Hasbi Anshory. Kemudian, dari Kepulauan Riau adalah Aida Nasution Ismeth, Zulbahri, Djasarmen Purba, dan Hardi Selamat Hood.

Dari Lampung adalah Anang Prihantoro, Ahman Jajuli, Aryodia Febriansya, dan Iswandi. Sementara itu, calon anggota DPD dari DKI Jakarta adalah Dani Anwar, A.M. Fatwa, Djan Faridz, dan Pardi. Selanjutnya, dari Jawa Barat ialah Ginandjar Kartasasmita, Ella M Giri Komala, Sofyan Yahya, dan Amang Syafrudin.

Calon anggota DPD terpilih dari Banten, yaitu Andika Hazrumy, Abdurachman, Abdi Sumaithi, dan Ahmad Subadri. Dari Jateng adalah Sulistiyo, Ayu Koes Indriyah, Denty Eka Widi Pratiwi, dan Poppy Susanti Dharsono. Kemudian, dari DI Yogyakarta, calon anggota DPD terpilih adalah Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Cholid Mahmud, A Hafidh Asrom, dan Muhammad Afnan Hadikusumo.

Dari Jatim adalah Istibsjaroh, Wasis Siswoyo, Abd Sudarsono, dan Supartono.

Dari Bali ialah I GN Kesuma Kelakan, I Nengah Wiratha, I Wayan Sudirta, dan I Kadek Arimbawa. Selanjutnya, dari Nusa Tenggara Barat adalah Farouk Muhammad, L.L. Abdul Muhyi Abidin, Baiq Diyah Ratu Ganefi, dan Lalu Supardan.

Calon anggota DPD terpilih yang mewakili NTT adalah Abraham Liyanto, Emanuel Babu Eha, Carolina Nubatonis-Kondo, dan Sarah Lery Mboeik. Dari Kalimantan Tengah ialah Permana Sari, Hamdhani, Said Akhmad Fawzy Zain Bahsin, dan Rugas Binti.

Kemudian, dari Kalimantan Barat, yang terpilih adalah Maria Goreti, Sri Kadarwati, Hairiah, dan Erma Suryani Ranik. Dari Kalimantan Selatan, calon anggota DPD terpilih, yaitu Gusti Farid Hasan Aman, Adhariani, Habib Hamid Abdullah, dan Mohammad Sofwat Hadi.

Dari Kalimantan Timur, terdapat Awang Ferdian Hidayat, Luther Kombong, Muslihuddin Abdurrasyid, dan Bambang Susilo. Sementara dari Sulawesi Utara, calon yang terpilih adalah Aryanthi Baramuli Putri, Marhany Victor Poly Pua, Ferry FX Tinggogoy, dan Alvius Lomban.

Selanjutnya, dari Gorontalo adalah Hana Hasanah Fadel Muhammad, Rahmiyati Jahja, Elnino M Husein Mohi, dan Budi Doku. Dari Sulawesi Tengah, yaitu Nurmawaty Dewi Bantilan, Sudarto, Ahmad Syaifullah Malonda, dan Shaleh Muhamad Aldjufri.

Berikutnya, calon anggota DPD dari Sulawesi Barat adalah Muh. Asri, Muhammad Syibli Sahabuddin, Iskandar Muda Baharuddin, dan Mulyana Isham.

Dari Sulawesi Selatan adalah Abd. Azis Qahhar Mudzakkar, Muh Aksa Mahmud, Bahar Ngitung, dan Litha Brent. Calon terpilih dari Sulawesi Tenggara adalah La Ode Ida, Abd. Jabbar Toba, Abidin Mustafa, dan Hoesein Effendy. Sementara itu, dari Maluku Utara adalah Matheus Stefi Pasimanjeku, Kemala Motik Gafur, Mudaffar Sjah, dan Abdurachman Lahabato.

Dari Maluku, yakni Anna Latuconsina, Jhon Pieris, Jacob Jack Ospara, dan Etha Aisyah Hentihu. Calon terpilih yang berasal dari Papua adalah Tonny Tesar, Helina Murib, Paulus Yohanes Sumino, dan Ferdinanda W. Ibo Yatipay. Terakhir, dari Papua Barat, calon anggota DPD terpilih adalah Ishak Mandacan, Sofia Maipauw, Mervin Sadipun Komber, dan Wahidin Ismail.***

(Dikutip dari : www.pemiluindonesia.com)

DPRD Sergai 2009-2011

DAPIL I : H.Syahlan Siregar.ST (PAN), Muhammad Yusuf Basrun (Partai Golkar), Safrul Hayadi (PIS), Ferry Haryanto (PD),H.Ahmad Dai Robbi (PKB), Faridawati.S.Pd (PNBK), Elvi Yuliana Napitupulu,A.Md (PDIP), Drs.Hartoyo (PD), Rusiadi (Hanura) danNuralamsyah.SH (PPP).

DAPIL II : Safaruddin (PKB), Agus Efendi (Partai Golkar), H.Azmi Yuli Sitorus.SH (PD), Sucipta (PAN), Jauhari (PPP)  dan Muhammad Idris (Hanura).

DAPIL III : Drs Abdul Rahim (Hanura), Drs Sayuti Nur.M.Pd (PAN), Riady (PD),Ir. Loso (PKPI), Budi Sumalim.SE (Gerindra), Usman Effendi Sitorus.S.Ag (PPP),L ongway Maospin Pakpahan.SH (Partai Golkar), Ir.Dolon J.P Napitupulu (PDIP), Hotnauli Br Sinurat (PDS), Dahrizul (PKB), Ramles Simanjuntak.S.Pd. (PPRN)

DAPIL IV : Defriaty Tamba.S.Pd (PDS), Togar Situmorang (PDIP), Sugiatik.S.Ag (PPP), Hasbullah Hadi Damanik (Golkar), Erika Sitanggang (Partai Golkar), Labuhan Hasibuan.S.Ag (PD),  Ngateman (PD), Suarifin.S.Sos (PAN), Pangeran Hutajulu. SH (Hanura) dan Edy Gunawan (PKS).

DAPIL V : Muhammad Yunus Purba.S.P (PKB), M.Yusnar Yusuf Saragih.SH.I (PPP), Rasdiaman Damanik (Hanura), Junaedi Purba.SE (PD), Delpin Barus.ST (PDPI), H.M.Fuadi Pasaribu (Golkar), Mahyudin Purba.S.Sos (PAN) dan Armin Lubis (PKS).***

(www.analisadaily.com)

HAPSARI 19 Tahun

Bunda Umiati & Lely memotong tumpeng di HUT 19 HAPSARI
Bunda Umiati & Lely memotong tumpeng di HUT 19 HAPSARI

Tahun 2009 usia HAPSARI 19 tahun.  Saat ini APSARI mempunyai anggota sebanyak enam (6) serikat perempuan di empat (4) kabupaten, yaitu di Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah. Juga ada tiga (3) calon anggota serikat perempuan di kabupaten Tanah Karo, kotamadya Padang Sidempuan, Sumatera Utara dan kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Dari 6 serikat ini,  tercatat ada 1.233 orang anggota  (individu-individu) perempuan yang bergabung di dalamnya. Semuanya perempuan desa biasa,  bukan aktifis LSM,  bukan aktifis partai politik atau aktifis mahasiswa, bukan pula pegawai negeri atau pejabat pemerintahan.

Ke-enam (6) serikat perempuan anggota HAPSARI saat ini adalah :

  1. Serikat Perempuan Independen (SPI) Kabupaten Deli Serdang,
  2. SPI Kabupaten Serdang Bedagai,
  3. SPI Kabupaten Labuhanbatu,
  4. Serikat Perempuan Petani dan Nelayan (SPPN) Kabupaten Serdang Bedagai,
  5. SPI kabupaten Simalungun, dan
  6. Serikat Perempuan Tana Poso (Sepenatap) Kabupaten Poso—Sulawesi Tengah.

Dan, ke-tiga serikat perempuan calon anggota HAPSARI, yaitu ;  Komunitas Perempuan Tanah Karo di Kabupaten Karo, Komunitas Perempuan Padang Sidempuan di Kodya Padang Sidempuan  dan Komunitas Perempuan Pemalang di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Sampai pada usia perjalanan 19 tahun ini, HAPSARI mencatat setidaknya ada tiga fase penting yang telah dilalui HAPSARI, yaitu ;

  • Fase pertama (tahun 1990 – 1996) sebagai Kelompok Perempuan Desa, dengan kegiatan mendirikan Sanggar Belajar Anak (TK) dan membentuk Kelompok Perempuan dengan kegiatan yang terbatas pada Arisan dan Pengajian,
  • Fase kedua (tahun 1997 – 2000) berbadan hukum Yayasan, dan memulai pengorganisasian kelompok perempuan di desa-desa diberbagai kecamatan, lalu,
  • Fase ketiga (2001 – 2009), menjadi organisasi berbentuk federasi (perkumpulan) yang anggotanya terdiri dari serikat-serikat perempuan tingkat kabupaten.

Pada awalnya, HAPSARI hanyalah nama Sanggar Belajar Anak (setingkat Taman Kanak-kanak/TK) di Desa Sukasari yang didirikan oleh beberapa orang perempuan di sana. Nama TK itu adalah ”Harapan Desa Sukasari”. Suatu hari, salah seorang pendirinya menyingkat penyebutan nama ”Harapan Desa Sukasari” menjadi HAPSARI. Dan, untuk pertama kali kata/nama HAPSARI diperkenalkan dalam sebuah pertemuan di forum LSM Kecil Sumatera Utara pada tanggal 14 Maret 1990. Sejak itu jadilah HAPSARI sebagai nama sebuah kelompok perempuan desa yang mempunyai beberapa kegiatan, antara lain Taman Kanak-kanak dan Arisan ibu-ibu yang  anaknya bersekolah di TK.

benderaSampai pada usia 19 tahun ini, HAPSARI bukan hanya sebuah nama, melainkan sebuah organisasi perempuan dari basis di pedesaan yang penuh semangat untuk bergerak dan  mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial politiknya. Ini nampak dari perubahan organisasi HAPSARI yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan untuk menjalankan misinya.

Cinta, Tubuh, Seks dan Ilusi

Dikutip dari : http://dwiantyagustina.wordpress.com

Pada cukup banyak perempuan, cinta, seks, tubuh, dan ilusi berhubungan sangat kompleks, bahkan membuat sebagian perempuan seperti kehilangan kendali atas diri sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi?

Berikut surat dari gadis pandai, F (24).

”Mbak, saya telanjur berbuat jauh sama pacar saya, akhirnya telat mens. Untung ternyata saya tidak hamil. Setelah itu pacar saya menjauh. Meski begitu, saya tidak bisa melupakan dia. Hubungan kami terus berjalan, dengan pertengkaran melelahkan, juga diwarnai sikap, perbuatan, dan perkataan dia yang sangat sering menyayat hati.

Kami juga bertengkar karena dia menyukai teman wanitanya dengan alasan cantik. Ketika saya bilang, itu menyakitkan hati, dia malah menegaskan dengan bertanya berulang kali, ”Memang F merasa lebih cantik?” Bila kami berbicara dan dia tidak mau melihat wajah saya, saya jadi ingat perkataan itu.

Hati saya hancur, Mbak, terlebih ketika ingat betapa saya sudah memberi segala yang bisa saya berikan untuk dia, bahkan melakukan banyak dosa bersama dia. Bagaimana saya bisa menghilangkan rasa bergantung secara emosional, sementara saya tahu dia tidak menginginkan saya?

Saya membutuhkan afeksi darinya, sebagai motivator, dia penyemangat saya selama ini, tetapi bahkan dia melarang saya menghubungi dia. Saya bingung, Mbak. Tangis saya sering tak tertahan jika memikirkan hal ini. Di kantor, teman-teman kantor sampai bertanya apa yang terjadi.

Saya malu, Mbak, sedih, mengapa saya begitu lemah? Dia sudah memanfaatkan saya, bahkan secara seksual, dan kini mencampakkan saya. Mengapa saya tak bisa melupakan dia, tak bisa meyakinkan diri harus keluar dari siklus penderitaan ini? Apa yang harus saya lakukan? Luka hati saya begitu dalam. Belum lagi jika ingat kekhilafan yang dulu pernah kami perbuat. Saya jijik terhadap tubuh sendiri.”

Kompleksitas Seksualitas Perempuan

Pembicaraan dengan cukup banyak perempuan yang mengalami kebingungan dalam relasi seksual menyimpulkan, sepertinya seksualitas perempuan sangat kompleks.

Perempuan sedari dini disosialisasi memerhatikan tubuhnya, seperti harus cantik, jangan gemuk, jangan terlalu kurus, dan jangan berjemur nanti jadi hitam.

Perempuan dituntut menjadikan dirinya cantik supaya menarik, (terutama) bagi laki-laki. Perempuan diajar melihat dirinya bukan sebagai ”subyek”, melainkan ”obyek”, yang dihasrati, yang diminati, yang harus memastikan laki-laki tidak berpaling. Dapat dimengerti, ada perempuan yang terobsesi ”menonjolkan tubuhnya” sebagai aset, mungkin ia tidak tahu sedang mengobyekkan diri sendiri.

Di lain, pihak perempuan juga dituntut menjaga dirinya tetap ”suci” dan setia saat suami tidak setia. Bahkan, kekerasan seksual sering dipersalahkan kepada perempuan yang dianggap ”mengundang”, ”bodoh”, dan ”naif” percaya begitu saja atau menyebarkan cerita bohong. Bisa dimengerti sebagian perempuan malah memilih menutup tubuh serapat mungkin karena merasa ”ada yang salah dengan tubuhnya” atau untuk memberi rasa aman bagi diri sendiri.

Bila berlebihan secara psikologis, ini kurang sehat karena tubuh manusia tidak mengandung dosa. Manusia, perempuan dan laki-laki, termasuk yang mengalami kecacatan, perlu dibantu menerima tubuh yang dikaruniakan kepadanya, merasa nyaman dan bahagia dengan diri sendiri dan karenanya dapat tampil wajar.

Dalam masyarakat kita yang menuntut ”kesucian” perempuan, tetapi tidak menuntut ”kesucian” laki-laki, konsep hilangnya keperawanan (=robeknya hymen) dapat sangat mengacaukan batin perempuan. Ajaran menjaga kesucian dan hubungan seksual pertama harus dilakukan dengan suami, menyebabkan sebagian perempuan seolah kehilangan diri setelah kejadian.

Pikiran rasional mungkin bilang laki-laki tersebut bukan orang baik dan tidak bertanggung jawab. Tetapi, batin yang kacau menyerobot dan berkata, ”Aku harus menikah dengan dia karena dia yang mengambil keperawananku”, ”Mestinya ia cinta, bukankah waktu itu ia sangat berhasrat akan aku?”, atau ”Siapa yang mau menerima bila tahu yang terjadi kepadaku?”.

Rasa berdosa dan hilangnya harga diri dapat membuat perempuan mengejar status legal dari laki-laki yang akan memperlakukan perempuan dengan buruk dan perempuan bernalar harus menerima situasi itu sebagai hukuman atas kesalahan diri.

Dapat dipahami, meski sangat disayangkan, berbagai penalaran ilusif kemudian berkembang. Untuk dapat bertahan dalam situasi sulit ia meyakini romantisme semu, seperti ”Ia pasti cinta saya karena sangat romantis”, ”Ia sering jatuh ke pelukan perempuan lain, tetapi akhirnya kembali kepadaku”, ”Ia tidak mampu bertanggung jawab karena dilarang keluarga”, atau ”Ini tugasku dari-Nya untuk membuat dia menjadi lelaki yang lebih baik”.

Menghormati Diri Sendiri

Bagaimana melepaskan diri dari ketergantungan yang menyakitkan dan mulai membahagiakan diri sendiri?

Tidak ada hal lain kecuali menghormati diri sendiri. Tidak ada orang yang sempurna. Apakah kita pernah melakukan apa yang dianggap masyarakat (atau diri sendiri) sebagai dosa, kita tetap manusia berharga.

Apakah perempuan utuh atau tidak hymen-ya, menikah, tidak menikah, punya anak atau tidak, mampu mempertahankan perkawinan atau ditinggal suami kawin lagi, dinilai cantik atau merasa bertubuh kurang ideal, ia manusia berharga.

Hubungan cinta seyogianya menjadi sesuatu yang membahagiakan dan menguatkan. Jadi, F yang muda dan pandai, untuk apa menyia-nyiakan masa kini dan masa depan dengan mengikatkan diri pada ilusi masa lalu?

Anda wajib menjaga, merawat, dan menyayangi diri sendiri. Bila membuka hati Anda akan mendapati masa depan membentang cemerlang, jauh melampaui apa yang Anda pikirkan sekarang.

—————————————————-
KRISTI POERWANDARI PSIKOLOG

KPU Umumkan 101 Caleg Perempuan yang Lolos ke Senayan

Dikutip dari : http://www.ictwomen.com

JAKARTA – Kekhawatiran bahwa pemilu dengan sistem suara terbanyak bakal mereduksi keterwakilan perempuan tidak sepenuhnya terbukti. Hasil penetapan calon legislator oleh Komisi Pemilihan Umum menunjukkan, keterwakilan perempuan DPR periode 2009-2014 mencapai 101 orang. Itu berarti keterwakilan perempuan di Senayan mencapai 18,03 persen.

Jumlah tersebut memang masih jauh dari target 30 persen, namun meningkat tajam jika dibandingkan dengan hasil Pemilu 2004. Pada Pemilu 2004, perempuan yang lolos ke Senayan 61 orang atau sekitar 11 persen.

Di antara caleg perempuan yang lolos pada Pemilu 2009, yang terbesar berasal dari Partai Demokrat. Partai yang didirikan SBY itu menyumbang 37 orang. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berada di urutan kedua dengan meloloskan 19 caleg perempuan. Urutan ketiga ditempati Golkar dengan 17 caleg perempuan.

Koordinator Kelompok Kerja Keterwakilan Perempuan Kemitraan Masruchah menilai, keterwakilan perempuan dalam DPR periode 2009-2014 melonjak jika dibandingkan dengan periode 2004-2009. “Lonjakannya lebih dari 6 persen,” ujarnya. Peningkatan itu patut diapresiasi positif karena perjuangan perempuan lebih mendapat aspirasi pada Pemilu 2009. “Ingat, ini dengan suara terbanyak. Usaha caleg menjadi penentu,” lanjutnya.

Masruchah menyatakan, para wakil perempuan memiliki harapan besar untuk dapat mengawal UU yang berkaitan dengan isu perempuan. Namun, untuk merealisasikan hal itu, pokja perempuan harus terus bersinergi dengan para caleg perempuan terpilih. Sinergi dilakukan terutama untuk caleg perempuan yang sejak awal tidak dikawal oleh pokja perempuan kemitraan. “Kami sejak sebelum pemilu telah mengawal beberapa caleg (perempuan),” jelasnya.

Dia mengatakan, di antara 101 caleg perempuan terpilih, lebih dari 50 persen adalah calon yang memang belum mempunyai pengalaman di parlemen. Kebetulan, caleg tersebut tidak dikawal pokja perempuan kemitraan. “Sinergi dilakukan agar para caleg yang belum berpengalaman dapat menjalankan tugasnya dengan baik,” ujarnya.

Pada awalnya, pokja perempuan menolak keras putusan MK tentang penetapan calon terpilih berdasar suara terbanyak. Mereka berpendapat, dengan suara terbanyak, kans caleg perempuan untuk terpilih semakin kecil. Sebab, modal sosial dan finansial caleg perempuan lebih kecil daripada caleg laki-laki. Namun, faktanya, dengan suara terbanyak, calon perempuan banyak yang terpilih.

Anggota KPU Andi Nurpati menambahkan, KPU memang sudah menetapkan caleg terpilih DPR yang berjumlah 560. Namun, komposisi mereka bisa saja berubah jika MK memunculkan keputusan yang berbeda dengan KPU. “Jadi, nanti, putusan MK juga berpengaruh jika ada perubahan,” jelasnya.***

Sumber : Jawa Pos/Bay